Terhubung dengan kami

Batam

Pemuda Al-Kahfi (Bag. 2)

Diterbitkan

pada

نَّحْنُ نَقُصُّ عَلَيْكَ نَبَأَهُم بِٱلْحَق

(Al-Kahf 18:13)

Kata اَللّهُ,”Kami sungguh-sungguh menceritakan pada kalian.”

Cerita ini bukan cerita bohong. Bukan cerita dongeng.

إِنَّهُمْ فِتْيَةٌ ءَامَنُوا۟ بِرَبِّهِمْ وَزِدْنَٰهُمْ هُدًى
(Al-Kahfi 18:13)

Siapa ini Ashabul Kahfi ini, untuk kita pelajari dan kita ambil hikmahnya, kita petik untuk diri kita. اَللّهُ beritahu ciri-cirinya.

وَرَبَطْنَا عَلَىٰ قُلُوبِهِمْ إِذْ قَامُوا۟ فَقَالُوا۟ رَبُّنَا رَبُّ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلْأَرْضِ لَن نَّدْعُوَا۟ مِن دُونِهِۦٓ إِلَٰهًاۖ لَّقَدْ قُلْنَآ إِذًا شَطَطًا
(Al-Kahfi 18:14)

Ini ciri-ciri kekuatan yang ada pada Ashabul Kahfi. Sehingga masih bisa bertahan, lalu pada saat mereka tampil kembali, musuh-musuh mereka sudah hancur.

Mereka itu secara fisik adalah anak-anak muda. Anak muda itu rata-rata kuat. Muda itu ya…sebelum 70 tahun, itu muda.

Muda itu tidak terbatas pada bentuk fisik. Tapi kalau secara zahir yang namanya kekuatan itu, ada pada saat muda.

Tapi apa itu satu-satunya kekuatan? Tidak juga. Itu kekuatan zahir.

Ada anak-anak muda yang lembeknya lebih lembek dari tahu. Putus cinta, kemudian jatuh bangun demi cinta lalu naik ke lantai 12, loncat karena putus asa. Hanya karena seorang wanita. Lemahnya kebangetan.

Ada seorang laki-laki, tarik tali tambang, ikat di leher, gantung diri. Karena putus cinta. Ini namannya kekuatan yang kalah kuat dengan tahu.

Fisik bisa diukur kekuatannya. Dan itu ada pada usia muda. Tapi bukan semua yang muda itu kuat. Juga tidak semua yang berumur itu lemah. Walau fisiknya, zahirnya lemah. Jadi kekuatan apa, (kekuatan lain) yang menopang kekuatan jasmani itu?

Fisik memang dibutuhkan untuk kekuatan, tapi bukan kekuatan total karena ada orang yang fisiknya lemah tapi dia kuat.

Contohnya, Mahatir itu umurnya 93 tahun. Sekarang jadi Perdana Mentri Malaysia. Baru beberapa bulan yang lalu dia mengalahkan kekuatan yang ada di Malaysia. Jauh beda umurnya dengan Najib, 30 tahun. Dia berhasil singkirkan Najib padahal umurnya sudah 93 tahun.
Ada kekuatan lain di balik kekuatan fisiknya. Maka dia bisa jatuhkan kekuatan yang sudah ada.

Fisik bisa kita jadikan modal kekuatan tapi bukan satu-satunya modal.

Nah…اَللّهُ sudah kasi kita kekuatan fisik. Yuk manfaatkan. Karena memang pergerakan lebih leluasa saat fisik masih kuat. Tapi kalau tidak terlatih kekuatan yang masih muda ini untuk kegiatan-kegiatan yang positif, semangat-semangat tertentu, target-target tertentu, fisik itu akan melemah dengan sendirinya.

Maka lahirlah anak-anak muda dengan fisiknya yang kuat tapi mengemis di pinggir jalan. Usia masih 20 tahun, 30 tahun, 40 tahun, pada puncak kekuatan fisiknya dia mengemis di pinggir jalan. Padahal sebenarnya tidak bisa dikatakan lemah, tapi aslinya dialah yang mencetak kelemahan itu. Hingga fisiknya tidak bermanfaat apa-apa untuk dirinya. Akalnya juga lemah. Tidak bermanfaat apa-apa. Besar badannya pun tidak bermanfaat untuk dia sama sekali.

Kekuatan fisik itu adalah bagian yang harus ditambah dengan kekuatan bathin. Di dalam ayat ini اَللّهُ katakan

إِنَّهُمْ فِتْيَةٌ ءَامَنُوا۟
(Al-Kahfi 18:13)

Mereka beriman kepada اَللّهُ. Kekuatan fisiknya di satu sisi, kekuatan morilnya di sisi yang lain. Itulah keimanannya. Kekuatan keimannya yang nempel dalam hatinya. Itu yang membuat mereka bertahan. Itu yang membuat mereka siap tinggalkan negaranya. Pergi tinggalkan semuanya walau tanpa bekal. Yakin yang punya ini adalah اَللّهُ. Dia (اَللّهُ) yang tau semua.

ءَامَنُوا۟ بِرَبِّهِمْ

Kekuatan lain disamping kekuatan fisik tadi.

Dari 260 juta rakyat negeri ini, 85% nya Muslim.
Bayangkan bilamana dalam diri yang 85% itu, kekuatan fisik nyambung dengan kekuatan moral keimanan ini diantara ummat, betapa kuatnya.
Nggak ada yang berkuasa ngerjain Muslim di negri ini. Nggak. Nggak ada asing yang bisa ngontrol dari hulu ke hilir kehidupan di negri ini. Kalau iman yang 85 % itu ada untuk اَللّهُ Ta’ala, nggak mungkin seperti ini.

Kita ini cuma kelihatan tampilnya aja kuat, hatinya keropos, kering kerontang. Fisiknya aja kelihatan hebat. Imannya lemah, nggak kuat di hadapan اَللّهُ.

Kita nggak nganggap segala sesuatu tentang اَللّهُ. Jadi begitu ada cobaan ini dan itu datang, semua runtuh.

Dengan amplop saja, dengan beras saja, dengan mobil saja sudah selesai semua. Imannya nggak bisa dikondisikan lagi.

Semua begitu..bukan yang awam saja,tokoh agama juga ada yang begitu…orang pintar…para ahli juga bisa begitu.

Ketika iman lemah, gampang banget tergelincir. Meski mereka agamawan. Apa semua agamawan dekat dengan اَللّهُ? Tidak.

Agama itu kalau dikaitkan dengan sesuatu yang zahir semua bisa. Semua orang bisa berpura-pura dengan agamanya. Nggak susah. Tidak sholat, bisa pura-pura sholat, tidak puasa, bisa pura-pura puasa. Itu mah zahir. Tidak pergi haji pun bisa pura-pura pergi haji kalau mau. Itu bisa ditampak-tampakan.

Tapi kalau iman…adanya di hati. Yang menggerakkan kekuatan tadi.

Kita ini krisisnya adalah krisis yang ada di hati ini, yang bernama iman. Jumlah kita sudah cukup banyak, kelebihan kita banyak, tenaga kita banyak, kekayaan kita banyak, semuaya banyak, tapi iman kita lemah. Maka kita gampang dipermainkan oleh musuh walau dengan uang recehan.

Moral bisa dibeli, iman bisa dibeli, kepemimpinan bisa dibeli, harga diri bisa dibeli, semua bisa dibeli.

Ashabul Kahfi ini, mereka beriman, fisiknya kuat, jasmaninya kuat, jiwanya juga kuat ,ada ikatannya dengan اَللّهُ, ada hubungan spiritualnya degan اَللّهُ, ada ketergantungannya dengan اَللّهُ, ada kesadaran total bahwa اَللّهُ yang Maha Kuat.
Itu membuat mereka kuat. Kalau itu hilang, tunggu saat tanggal kehancurannya.

Sekelompok orang, ada yang menganggap musuhnya adalah kawannya, kawannya adalah musuhnya. Kenapa? Karena imannya salah.

Nabi dijadikannya musuh, musuh nabi dijadikannya kawan. Saat ini seperti itu. Nggak mungkin nyambung. Air dan minyak nggak akan bersatu. Tapi karena iman lemah semua bisa disatu-satukan.
Ashabul Kahfi ini, mereka beriman kepada اَللّهُ. Iman adalah kekuatan dalam hidup ini yang membangun diri. Fisik yang sudah kuat ditambah kekuatan iman, itu luar biasa.

Kekayaan yang melimpah ruah, aset negara yang sudah numpuk, kalau iman sudah tidak ada ini semua, diri, keluarga, semua dijualin.

Kemudian

وَزِدْنَٰهُمْ هُدًى
(Al-Kahf 18:13)

Petunjuk itu juga kekuatan. Petunjuk itu adalah bagian yang mengontrol hidup kita supaya kita nggak gamang.

Carilah terus petunjuk اَللّهُ dalam menjalani hidup ini. Petunjuk itu, semakin kita kejar, dia akan semakin bertambah…bertambah…bertambah. Semakin mantab diri kita, semakin kuat jiwa dan mental kita, semangat kita, energi kita semakin banyak, itu karena petunjuk. Nempel di raga, nempel di hati, semua gerakan kita, bertambah, berenergi.

Tapi kalau sama petunjuk saja alergi, sama اَللّهُ sendiri merasa risih, sama agama sendiri merasa anti, selesai sudah.

Kemudian lihat lagi,

وَرَبَطْنَا عَلَىٰ قُلُوبِهِم
(Al-Kahf 18:14)

Jiwa mereka antara satu dengan yang lain ada keterkaitan, jiwa mereka saling mendekat, komunitas, masyarakat, ummat, jiwa mereka ini saling dekat. Mereka ini saling menyintai, saling menyayangi, saling membangun, saling membuat hubungan, saling sokong menyokong, saling تَوَاصَوْا۟ بِٱلْحَق, saling menggerakkan, saling memberi semangat, akhirnya kekuatan itu ada pada mereka. Komunitas.

Kekuatan komunitas, kekuatan masyarkat, kekuatan kelompok, itu perlu, kekuatan jamaah itu perlu, pengajian-pengajian itu perlu.

Bangun kekuatan di sini, di tempat lain, di mesjid ini, di mesjid lain, bangun kekuatan itu. Jangan senang dengan kekuatan sendiri, jangan membangun program sendiri dan merasa cukup sendiri. Perlu ada kekuatan hubungan antara satu dengan yang lain.

Silaturahmilah yang harus dibangun baik itu individu, kelompok, masyarakat, tempat, persaudaraan, ekonomi, kepahaman, wawasan, pemikiran, buatlah kekuatan itu.

Jangan sibuk dengan kelompokmu sendiri. اَللّهُ ingin kita itu punya kekuatan antara satu dengan yang lain dan itu bisa kalau hati kita nyambung. Kalau hati kita nggak nyambung, yang ada sikut menyikut, curiga mencurigai, dengki mendengki.

Lalu,

فَقَالُوا۟ رَبُّنَا رَبُّ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلْأَرْض
(Al-Kahfi 18:14)

Begitu bangkit dari tidurnya selama 300an tahun, hubungan dengan اَللّهُ masih ON. 300an tahun dalam suasana yang tidak disadari, begitu bangun mereka bilang رَبُّ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلْأَرْض.
Tidak ada yang lain yang mereka seru selain اَللّهُ.

هَٰٓؤُلَآءِ قَوْمُنَا ٱتَّخَذُوا۟ مِن دُونِهِۦٓ ءَالِهَة
(Al-Kahfi 18:15)

Kekuatan untuk mengatakan yang salah itu salah, kekuatan untuk menolak kontaminasi dan campur aduk, ini kekuatan yang harus ada.

Kekuatan filterisasi dalam apa yang kita inginkan dalam hidup ini harus ada. Dan itu pakai hujjah, pakai kepahaman, pakai dalil karena orang di depan kita, mereka itu memusuhi kita, mereka itu coba membuat hoax pada kita, mereka itu membuat cerai berai kita, mereka pingin itu.

Kalu kita tidak bisa membedakan antara mereka dengan kita, semua kita anggap sama, semua kita anggap kawan, kita yang binasa.

Sudah tau ini sekelompok manusia, musuh اَللّهُ, buktinya ada, dalilnya ada, hujjahnya ada, ucapannya ada, statementnya ada, sepak terjangnya ada, kita tau semua. Kita tidak bisa main mata dengan dia. Itu harus kita yakini,”Dia musuh saya.”

Musuh, bukan berarti kita harus langsung berperang dengan dia. Pahami, seorang musuh dan ada dalil permusuhannya, ada hujjah permusuhannya, dan ada bukti bahwa dia memang ingin menghancurkan, apakah kita harus langsung menyerang dia? Tidak.

Tapi begitu dia menyerang kita, kita sudah liat dia mau menyerang kita, kita sudah seharusnya siap.

Kalau kita menganggap musuh itu kawan, peluk cium segala macam, kita toleransi tanpa batas, dan mereka mau menusuk kita, kita bisa berbuat apa kalau ditusuk dari belakang?

Ini yang diperlukan, ketegasan, kejelasan dalam sikap, dalam berpikir. Kalau ini sekelompok manusia, sekelompok orang yang punya sikap memang jelas, dalilnya, buktinya kerjanya sepak terjangnya, jelas-jelas menyeberang, berusaha unutk menindas, harusnya kita punya perhitungan.

Laut itu dalam , ada apa di dalam sana? Bermacam-macam ikan itu pasti ada. Walaupun diluarnya kelihatan tenang, didalam sana kalau tidak cepat-cepat berpikir cerdas, hiu bisa menerkam. Ada ubur-ubur beracun di dalam sana, kelihatan bentuknya cantik, indah, tapi kita harus tau itu racun, kena sentuh, musibah. Harus punya filter untuk memahami itu.

Pakai kopiah, pakai tasbih, ayat-ayat Al Qur’an, tapi semua dijual, bisa tenang-tenang saja kah kita dengan dia? Ya kenalah kita!

Jadi filterisasi di dalam diri itu darurat. Kemampuan untuk membeda-bedakan kebatilan dan kebenaran itu darurat.

Kita harus punya kemampuan mendeteksi ini musuh kita.
Kita punya kemampuan untuk menilai. Bukan unutk ngajak perang sama musuh kita, tapi kita juga jangan jadi korban perang orang.

Itulah kisah Ashabul Kahfi, mereka tegas mengatakan

لَّقَدْ قُلْنَآ إِذًا شَطَطًا
(Al-Kahfi 18:14)

هَٰٓؤُلَآءِ قَوْمُنَا ٱتَّخَذُوا۟ مِن دُونِهِۦٓ ءَالِهَةًۖ
(Al-Kahfi 18:15)

Mereka mengatakan,”Kami sama sekali tidak akan tunduk pada kekufuran ini, dan kami tidak akan mengaku tuhan selain اَللّهُ . Kalau kami buat itu, kami sesat, kami rugi, kami hancur.”

Tegas. Ngomong diantara kekufuran. Terus mereka bilang nih pada musuh-musuhnya,”Itulah orang-orang yang menjadikan tuhan selain اَللّهُ. Kami tak perlu ikut mereka, kami punya filter sendiri, kami punya pijakan kehidupan kami sendiri. Mereka mau hancur, hancurlah. Kami tidak mau ikut dalam kehancuran mereka.” Itu kekuatan.

Tapi kalau tidak punya itu, kita seperti layang-layangl putus. Terombang ambing, nggak tau kemana arahnya sampai dipohon mana, di tanah mana, tidak tau, tiba-tiba sudah jatuh.

Jangan jadi layang-layang putus. Harus punya kemampuan untuk kritis, kemampuan untuk bisa menentukan sikap.

Dan kekuatan ini harus disalurkan kepada yang lemah. Itulah tanggungjawab bersama kita.

والله أعلمُ بالـصـواب

Catatan Diana
Kajian Tafsir
Habib Ahmad Al Munawar, Lc

680 kali dilihat, 5 kali dilihat hari ini

Iklan
Klik untuk komentar

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Batam

FPI & LPI Kunjungi Pondok Pesantren Sirrul Illahiyah Di Idul Adha 1440 H

Diterbitkan

pada

Oleh

Ditulis oleh: Front Pembela Islam

WAJAHBATAM.ID – 13/8/2019 | Semarak peringatan hari raya Idul Adha atau yang biasa disebut juga hari raya Qurban oleh sebagian masyarakat tahun ini kembali dimanfaatkan oleh para laskar FPI & LPI Batam untuk bersilaturahim ke pondok pesantren Sirrul Illahiyah di Jalan Lintas Gas Negara , Tembesi , kecamatan Sagulung.
Ada yang berbeda dalam kesempatan kali ini , laskar FPI & LPI Batam mengajak perwakilan mahasiswa dari Akademi Analis Kesehatan Putra Jaya Batam untuk turut serta.

Acara silaturahim ini diisi pula dengan menyerahkan bantuan daging qurban , baik sapi maupun kambing.
Tujuan para laskar FPI & LPI Batam ini adalah untuk mengajak para mahasiswa sebagai generasi penerus bangsa agar lebih peka lagi terhadap lingkungan sekitar , serta berbagi dengan sesama dan menjalin hubungan persaudaraan baik dengan anggota FPI & LPI Batam maupun dengan pengurus pondok pesantren Sirrul Illahiyah tersebut.

Ketua FPI Batam , H.Ismail yang berhalangan hadir dalam acara tersebut diwakili oleh Yudha , salah satu laskar LPI Batam menyerahkan bantuan daging qurban kepada Ustadz Dharman Syah.

Kunjungan tersebut dihadiri juga oleh
Ustadz Dharman Syah pun yang menyatakan kegembiraannya atas kepedulian laskar FPI & LPI Batam bersama para mahasiswa Akademi Analis Kesehatan Putra Jaya Batam ini , beliau pun berharap jalinan kekeluargaan ini akan terus berlanjut kedepannya. (FPI/LPI)

7,884 kali dilihat, 59 kali dilihat hari ini

Lanjutkan Membaca

Batam

Epicentrum Politik Kota Batam

Diterbitkan

pada

Oleh

Oleh Cak Ta’in Komari, SS.(Kontributor Wajah Batam.id)

WAJAHBATAM.ID – 7/8/2019 | Sejak beberapa pekan terakhir lini masa dipenuhi beragam citra figur tokoh masyarakat, yang didominasi dengan narasi kontestasi pemilukada walikota Batam. Beberapa kelompok maupun personal mencoba melemparkan sosok yang dianggap berpotensi bisa mengikuti pertarungan Pilkada Walikota Batam yang akan dilaksanakan pada tahun 2020. Maka dapat aku simpulkan saat ini sedang terjadi penjajakan calon pemimpin Kota Batam baik di tataran elit maupun masyarakat, terutama para spekulan terhadap tokoh tersebut.

Jika pemungutan suara dilaksanakan pada akhir tahun 2020, maka mulai saat ini hingga akhir tahun 2019 adalah momentum penjajakan penerimaan public terhadap potensi seorang tokoh untuk ditampilkan menjadi seorang pemimpin daerah. Bukan itu saja, mereka sudah mesti mulai melakukan penjajakan dan lobi-lobi partai politik untuk kendaraannya nanti atau kalau memungkinkan pencalonan melalui jalur independen bagi yang tidak memiliki partai dan kemungkinan kecil bisa mendapatkan kendaraan partai. Maklum, untuk memperoleh kendaraan politik diperlukan ‘mahar’ yang cukup mahal – kecuali partai sendiri yang menimbang potensi sang tokoh sangat besar bakal memenangkan pilkada tersebut.

Semua ini menandakan bahwa “pesta rakyat” kota Batam yang berbarengan dengan Pilgub. Kepri serta beberapa daerah lain tersebut sudah dekat. Di padang yang penuh sesak, kuru setra akan bertarung dengan para kesatria. Instrik politik dan informasi perkembangan politik akan terus mewarnai lini masa, media sampai obrolan kedai kopi. Bisa menarik bisa juga tidak. Di mana tahun ini, kita baru saja terlibat dalam pertarungan sengit pilpres dan pileg yang penuh instrik dan dinamika, yang tentu sangat menguras tenaga dan pikiran bahkan melelahkan. Aura pilpres yang cenderung negatif hingga saat inipun masih berasa. Bukan tidak mungkin muncul kejenuhan pada masyarakat sehingga akan muncul sikap acuh tak acuh, meskipun bukan sikap skeptis apalagi antipati.

Masyarakat yang dalam kesadaran berharap akan adanya perubahan politik masih dalam kondisi cemas, di mana segala kondisi membuatnya khawatir. Bayang-bayang akan kenaikan harga BBM, kenaikan tarif listrik, kesulitan berusaha, bahkan kesulitan mendapatkan pekerjaan. Yang otomatis akan memberikan gambaran akan ada kenaikan-kenaikan lainnya, terutama harga sembako. Kondisi ekonomi yang sulit bakal semakin sulit. Persoalan pendidikan yang saat PPDB selalu bermasalah dan memunculkan kesulitan bagi masyarakat, dan banyak persoalan lainnya yang dihadapi masyarakat ke depan.

Kondisi tersebut bisa memberikan dua effect yang berlawanan, di mana masyarakat akan antusias mendukung dan memilih pemimpin yang memiliki sikap berani mengambil kebijakan local yang benar-benar berpihak pada masyarakat atau sebaliknya tidak perduli. Yang antusias akan mendorong calon pemimpin yang memberikan angin segar pada perubahan iklim investasi, berusaha, bekerja dan hidup akan menjadi lebih baik. Pemimpin yang benar-benar memahami kultur dan persoalan yang dihadapi masyarakat ke depannya. Sementara yang tidak perduli tentu tidak menarik untuk dibahas, dan biarkan waktu yang akan membuat mereka perduli untuk menentukan masa depannya sendiri selama 5 tahun ke depan.

Potensi bakal calon Walikota Batam sebenarnya gampang mengukurnya, sebab syarat-syarat yang ditentukan oleh undang-undang sudah sangat jelas. Misalnya, calon diusung partai politik atau gabungan partai politik dengan minimal 20 persen kursi dewan. Maka pasangan calon yang memungkinkan bisa mengikuti kontestasi pilkada hanya 4 pasang, sebab tidak mungkin perolehan partai politik atau gabungan partai politik tersebut angkanya persis 20 persen – tentu melebihi. Tapi bukan persoalan normatif tersebut yang penting, melainkan kemampuan dan kapasitas personal sang calon untuk memanagemen pemerintahan dengan orientasi kepentingan peningkatan kualitas kehidupan masyarakatnya. Tentu bukan konsepsual semata karena itu bisa dibuatkan oleh orang lain atau timsesnya, yang terpenting kontekstual yang teraplikasi dalam pemikiran dan perbuatannya.

Melihat konstalasi perolehan kursi Dewan Kota Batam, maka tidak ada satupun partai yang memungkinkan mengusung pasangan sendiri karena tidak ada yang menembus perolehan suara di atas 20 persen. Mereka harus saling bergabung untuk bisa mengusung pasangan calon. Tentu saja ditambah pasangan calon independen yang langsung diusung oleh masyarakat dengan dukungan tanda tangan dan KTP. Rasanya cukup berat bagi seorang tokoh untuk bisa maju melalui jalur independen tapi bukan tidak mungkin kalau masyarakat memang mau.

Sementara kondisi partai politik juga berubah total pasca-pemilu, di mana koalisi 02 sudah bubar karena sebagian merapat ke capres pemenang. Dimulai dengan Demokrat diikuti PAN, sementara PKS berteguh hati tetap bersama Gerindra sebagai kelompok oposisi. Meskipun kepastian semua itu belum ada sampai pelantikan presiden dan penunjukkan menteri-menterinya. Tapi Jika hal tersebut mempengaruhi sampai pada kontestasi pilkada pada semua daerah, maka satu pasangan yang pasti dari Gerindra dan PKS akan membentuk poros tersendiri.

Satu-satunya partai politik di Kota Batam hanya Nasdem yang memiliki kader layak menjadi pemimpin Batam, yakni Walikota Batam Muhammad Rudi (sekretaris Nasdem Provinsi Kepri) dan Amsakar Ahmad (Ketua Nasdem kota Batam yang juga Wakil Walikota Batam). Selebihnya masih sebatas tokoh politik local yang baru sukses di level legislatif, meski bisa saja dipaksakan untuk menjadi calon baik untuk walikota maupun wakil walikota seperti Iman Sutiawan (Gerindra), Zaenal Abidin atau Ruslan Ali Wasyim (Golkar), dan Safari Ramadhan (PAN).

Ada tokoh-tokoh di luar partai politik yang juga banyak dibicarakan bakal mencalon atau dicalonkan dalam pilwako nanti. Ada nama mantan Kepala BP Batam 2005-2016, Mustofa Widjaya; mantap Kepala BP Batam 2018-2019, Lukita Dinarsyah Tuwo; Ikhsan, tokoh muda Sumatera Barat; dan mungkin tokoh yang lainnya yang masih malu-malu untuk memunculkan dirinya.

Melihat sekilas peluang mereka untuk menjadi kontestan Pilwako Batam. Dari tokoh politik yang hampir pasti maju baru Amsakar Ahmad – Nasdem. Sementara Muhammad Rudi kabarnya akan maju di Pilkada Gubernur Kepri. Berdasarkan gambar yang sudah beredar di medsos, Amsakar Ahmad bakan berpasangan dengan Istri Rudi. Mustofa Widjaya masih sebatas mendapat dukungan dari kelompok Jawa Timur. Sementara Lukita jauh sebelumnya sudah didengungkan oleh Ketua Kadin Batam maupun Provinsi sebagai bakal calon Walikota Batam 2021-2026.

Kabarnya PDIP yang bakal digunakan oleh Lukita untuk kontestasi tersebut, meskipun hingga saat ini belum diketahui siapa yang bakal menjadi calon pasangannya. PDIP biasanya menduetkan calon potensial dengan kadernya seperti yang terjadi pada percaturan sebelumnya. Pada pilwako 2015, PDIP mencalonkan Ria Saptarika dengan Sulistiana. Sementara pada pilwako 2010, PDIP mencalonkan Nada Soraya dengan Nuryanto. Sayangnya dua kali kontestasi yang diikuti tersebut PDIP belum berhasil memenangkannya. Tentu kali ini PDIP akan berhitung dengan sangat matang untuk bisa memenangkan calon yang akan diusungnya. Lukita itu baru sebatas wacana belum menjadi keputusan partai.

Mustofa kabarnya akan mencoba melalui jalur independen dengan mengumpulkan dukungan KTP dan tanda tangan masyarakat melalui jaringan paguyuban Sejatim, sambil melakukan penjajakan untuk menggunakan kendaraan partai politik. Sejauh ini belum ada deklarasi public tentang pencalonannya tersebut. Apalagi Mustofa Widjaya juga baru mengalami kegagalan dalam kontestasi politik dalam pencalonannya untuk menjadi anggota DPD RI dari Kepri tahun 2019 ini. Tentu ketidakberhasilan tersebut disebabkan oleh sesuatu yang tidak tepat dalam suksesi. Tapi bisa jadi hasil evaluasi dari situasi tersebut menjadi titik perbaikan dalam kontestasi pilwako. Semua bisa saja terjadi dan patut kita tunggu keseriusannya.

Kiranya siapa yang sudah di hati masyarakat, entah dibenci atau dinanti, semua soal hati dan piti. Para spekulan sudah bergerilya sana-sini. Tapi mungkin semua mesti tahu diri dan sadar diri. Semoga semua pada mau berkaca diri. Dan akan lebih menarik pada ulasan berikutnya untuk mencoba mengkaji para calon dari sisi kekuatan dan kelemahannya, sejauh mana masing-masing tokoh punya peluang untuk memenangkan kontestasi pilwako ke depan.

***

11,139 kali dilihat, 61 kali dilihat hari ini

Lanjutkan Membaca

Batam

Stikom Muhammadiyah Batam dan Wajah Batam Jalin Jaringan Kerjasama Informasi

Diterbitkan

pada

Oleh

WAJAHBATAM.ID – 3/8/2019 | Gaung untuk menjadi kampus berkelas terus digalakkan oleh seluruh sivitas Stikom Muhammadiyah Batam (SMB). Menjadi bagian dari belasan kampus yang ada di Batam pada tahun 2019 tidaklah mudah, sehingga Stikom SMB Menerima yang menjalankan kurikulum, web, jaringan, android dan Robotik dan bergerak di jurusan TEKNIK INFORMATIKA (TI) yang beralamatkan di Jln.Prof Dr.Hamka Kompleks pusat muhammdiyah Asean terus berupaya melakukan kerjasama dengan berbagai pihak khususnya media mainstream dan media sosial ternama di Kepulauan Riau.

Dalam upaya memperkenalkan diri kedalam kancah pendidikan khususnya Batam dan Kepulauan Riau, Stikom menggalang kerjasama dan hubungan jaringan dengan Wajah Batam (WB), sebuah media sosial dan portal untuk memperkenalkan Stikom sebagai salah satu perguruan tinggi yang memiliki visi masa depan berbasis ROBOTIK yang berkedudukan di Kota Batam.

 

Dalam pertemuan dan perbincangan Suharsad (management WB) dengan Mohd.Iqbal. ST.Mkom (Ketua SMB) – Jum’at, 2/8/2019 membahas kerjasama ini dan segera memulai program-program dalam mengembangkan kampus SMB berbasis Robotik yang ada di kurikulum SMB ini.

Mohd. Iqbal, ST.Mkom mengatakan bahwa SMB harus lebih gencar memanfaatkan media sosial dalam memperkenalkan SMB ke masyarakat Batam dan Kepri secara meluas.

“Semoga kami mampu memberikan yang terbaik kepada masyarakat dan bangsa Indonesia,” papar Iqbal

Suharsad juga mengatakan bahwa persaingan yang semakin tinggi, SMB harus lebih intens dan cepat jika tidak ingin tertinggal. (TimWb)

16,531 kali dilihat, 63 kali dilihat hari ini

Lanjutkan Membaca

Trending