Terhubung dengan kami

Batam

Epicentrum Politik Kota Batam

Diterbitkan

pada

Oleh Cak Ta’in Komari, SS.(Kontributor Wajah Batam.id)

WAJAHBATAM.ID – 7/8/2019 | Sejak beberapa pekan terakhir lini masa dipenuhi beragam citra figur tokoh masyarakat, yang didominasi dengan narasi kontestasi pemilukada walikota Batam. Beberapa kelompok maupun personal mencoba melemparkan sosok yang dianggap berpotensi bisa mengikuti pertarungan Pilkada Walikota Batam yang akan dilaksanakan pada tahun 2020. Maka dapat aku simpulkan saat ini sedang terjadi penjajakan calon pemimpin Kota Batam baik di tataran elit maupun masyarakat, terutama para spekulan terhadap tokoh tersebut.

Jika pemungutan suara dilaksanakan pada akhir tahun 2020, maka mulai saat ini hingga akhir tahun 2019 adalah momentum penjajakan penerimaan public terhadap potensi seorang tokoh untuk ditampilkan menjadi seorang pemimpin daerah. Bukan itu saja, mereka sudah mesti mulai melakukan penjajakan dan lobi-lobi partai politik untuk kendaraannya nanti atau kalau memungkinkan pencalonan melalui jalur independen bagi yang tidak memiliki partai dan kemungkinan kecil bisa mendapatkan kendaraan partai. Maklum, untuk memperoleh kendaraan politik diperlukan ‘mahar’ yang cukup mahal – kecuali partai sendiri yang menimbang potensi sang tokoh sangat besar bakal memenangkan pilkada tersebut.

Semua ini menandakan bahwa “pesta rakyat” kota Batam yang berbarengan dengan Pilgub. Kepri serta beberapa daerah lain tersebut sudah dekat. Di padang yang penuh sesak, kuru setra akan bertarung dengan para kesatria. Instrik politik dan informasi perkembangan politik akan terus mewarnai lini masa, media sampai obrolan kedai kopi. Bisa menarik bisa juga tidak. Di mana tahun ini, kita baru saja terlibat dalam pertarungan sengit pilpres dan pileg yang penuh instrik dan dinamika, yang tentu sangat menguras tenaga dan pikiran bahkan melelahkan. Aura pilpres yang cenderung negatif hingga saat inipun masih berasa. Bukan tidak mungkin muncul kejenuhan pada masyarakat sehingga akan muncul sikap acuh tak acuh, meskipun bukan sikap skeptis apalagi antipati.

Masyarakat yang dalam kesadaran berharap akan adanya perubahan politik masih dalam kondisi cemas, di mana segala kondisi membuatnya khawatir. Bayang-bayang akan kenaikan harga BBM, kenaikan tarif listrik, kesulitan berusaha, bahkan kesulitan mendapatkan pekerjaan. Yang otomatis akan memberikan gambaran akan ada kenaikan-kenaikan lainnya, terutama harga sembako. Kondisi ekonomi yang sulit bakal semakin sulit. Persoalan pendidikan yang saat PPDB selalu bermasalah dan memunculkan kesulitan bagi masyarakat, dan banyak persoalan lainnya yang dihadapi masyarakat ke depan.

Kondisi tersebut bisa memberikan dua effect yang berlawanan, di mana masyarakat akan antusias mendukung dan memilih pemimpin yang memiliki sikap berani mengambil kebijakan local yang benar-benar berpihak pada masyarakat atau sebaliknya tidak perduli. Yang antusias akan mendorong calon pemimpin yang memberikan angin segar pada perubahan iklim investasi, berusaha, bekerja dan hidup akan menjadi lebih baik. Pemimpin yang benar-benar memahami kultur dan persoalan yang dihadapi masyarakat ke depannya. Sementara yang tidak perduli tentu tidak menarik untuk dibahas, dan biarkan waktu yang akan membuat mereka perduli untuk menentukan masa depannya sendiri selama 5 tahun ke depan.

Potensi bakal calon Walikota Batam sebenarnya gampang mengukurnya, sebab syarat-syarat yang ditentukan oleh undang-undang sudah sangat jelas. Misalnya, calon diusung partai politik atau gabungan partai politik dengan minimal 20 persen kursi dewan. Maka pasangan calon yang memungkinkan bisa mengikuti kontestasi pilkada hanya 4 pasang, sebab tidak mungkin perolehan partai politik atau gabungan partai politik tersebut angkanya persis 20 persen – tentu melebihi. Tapi bukan persoalan normatif tersebut yang penting, melainkan kemampuan dan kapasitas personal sang calon untuk memanagemen pemerintahan dengan orientasi kepentingan peningkatan kualitas kehidupan masyarakatnya. Tentu bukan konsepsual semata karena itu bisa dibuatkan oleh orang lain atau timsesnya, yang terpenting kontekstual yang teraplikasi dalam pemikiran dan perbuatannya.

Melihat konstalasi perolehan kursi Dewan Kota Batam, maka tidak ada satupun partai yang memungkinkan mengusung pasangan sendiri karena tidak ada yang menembus perolehan suara di atas 20 persen. Mereka harus saling bergabung untuk bisa mengusung pasangan calon. Tentu saja ditambah pasangan calon independen yang langsung diusung oleh masyarakat dengan dukungan tanda tangan dan KTP. Rasanya cukup berat bagi seorang tokoh untuk bisa maju melalui jalur independen tapi bukan tidak mungkin kalau masyarakat memang mau.

Sementara kondisi partai politik juga berubah total pasca-pemilu, di mana koalisi 02 sudah bubar karena sebagian merapat ke capres pemenang. Dimulai dengan Demokrat diikuti PAN, sementara PKS berteguh hati tetap bersama Gerindra sebagai kelompok oposisi. Meskipun kepastian semua itu belum ada sampai pelantikan presiden dan penunjukkan menteri-menterinya. Tapi Jika hal tersebut mempengaruhi sampai pada kontestasi pilkada pada semua daerah, maka satu pasangan yang pasti dari Gerindra dan PKS akan membentuk poros tersendiri.

Satu-satunya partai politik di Kota Batam hanya Nasdem yang memiliki kader layak menjadi pemimpin Batam, yakni Walikota Batam Muhammad Rudi (sekretaris Nasdem Provinsi Kepri) dan Amsakar Ahmad (Ketua Nasdem kota Batam yang juga Wakil Walikota Batam). Selebihnya masih sebatas tokoh politik local yang baru sukses di level legislatif, meski bisa saja dipaksakan untuk menjadi calon baik untuk walikota maupun wakil walikota seperti Iman Sutiawan (Gerindra), Zaenal Abidin atau Ruslan Ali Wasyim (Golkar), dan Safari Ramadhan (PAN).

Ada tokoh-tokoh di luar partai politik yang juga banyak dibicarakan bakal mencalon atau dicalonkan dalam pilwako nanti. Ada nama mantan Kepala BP Batam 2005-2016, Mustofa Widjaya; mantap Kepala BP Batam 2018-2019, Lukita Dinarsyah Tuwo; Ikhsan, tokoh muda Sumatera Barat; dan mungkin tokoh yang lainnya yang masih malu-malu untuk memunculkan dirinya.

Melihat sekilas peluang mereka untuk menjadi kontestan Pilwako Batam. Dari tokoh politik yang hampir pasti maju baru Amsakar Ahmad – Nasdem. Sementara Muhammad Rudi kabarnya akan maju di Pilkada Gubernur Kepri. Berdasarkan gambar yang sudah beredar di medsos, Amsakar Ahmad bakan berpasangan dengan Istri Rudi. Mustofa Widjaya masih sebatas mendapat dukungan dari kelompok Jawa Timur. Sementara Lukita jauh sebelumnya sudah didengungkan oleh Ketua Kadin Batam maupun Provinsi sebagai bakal calon Walikota Batam 2021-2026.

Kabarnya PDIP yang bakal digunakan oleh Lukita untuk kontestasi tersebut, meskipun hingga saat ini belum diketahui siapa yang bakal menjadi calon pasangannya. PDIP biasanya menduetkan calon potensial dengan kadernya seperti yang terjadi pada percaturan sebelumnya. Pada pilwako 2015, PDIP mencalonkan Ria Saptarika dengan Sulistiana. Sementara pada pilwako 2010, PDIP mencalonkan Nada Soraya dengan Nuryanto. Sayangnya dua kali kontestasi yang diikuti tersebut PDIP belum berhasil memenangkannya. Tentu kali ini PDIP akan berhitung dengan sangat matang untuk bisa memenangkan calon yang akan diusungnya. Lukita itu baru sebatas wacana belum menjadi keputusan partai.

Mustofa kabarnya akan mencoba melalui jalur independen dengan mengumpulkan dukungan KTP dan tanda tangan masyarakat melalui jaringan paguyuban Sejatim, sambil melakukan penjajakan untuk menggunakan kendaraan partai politik. Sejauh ini belum ada deklarasi public tentang pencalonannya tersebut. Apalagi Mustofa Widjaya juga baru mengalami kegagalan dalam kontestasi politik dalam pencalonannya untuk menjadi anggota DPD RI dari Kepri tahun 2019 ini. Tentu ketidakberhasilan tersebut disebabkan oleh sesuatu yang tidak tepat dalam suksesi. Tapi bisa jadi hasil evaluasi dari situasi tersebut menjadi titik perbaikan dalam kontestasi pilwako. Semua bisa saja terjadi dan patut kita tunggu keseriusannya.

Kiranya siapa yang sudah di hati masyarakat, entah dibenci atau dinanti, semua soal hati dan piti. Para spekulan sudah bergerilya sana-sini. Tapi mungkin semua mesti tahu diri dan sadar diri. Semoga semua pada mau berkaca diri. Dan akan lebih menarik pada ulasan berikutnya untuk mencoba mengkaji para calon dari sisi kekuatan dan kelemahannya, sejauh mana masing-masing tokoh punya peluang untuk memenangkan kontestasi pilwako ke depan.

***

16,485 kali dilihat, 40 kali dilihat hari ini

Iklan
Klik untuk komentar

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Batam

Guru SD Shabilla Cabuli Siswanya

Diterbitkan

pada

Oleh

WAJAHBATAM.ID | Batam kembali dihebohkan dengan kejadian asusila yang terjadi disekolah dasar shabilla yang bernaung dibawah Yayasan Harapan Kasih Bunda yang beralamat di Perumahan Pesona Asri kecamatan Batam Kota.

Salah satu orang tua siswa mengatakan kepada WBtv bahwa kejadian tersebut sering didengarnya disekolah ini yang dilakukan oleh salah satu guru yang mengajar disekolah Shabilla ini, tapi entah kenapa ini seolah dibiarkan dan terkesan diabaikan.

Menurut Kepala Sekolah SD Shabilla … Kejadian yang terjadi tiga hari lalu tersebut baru dilaporkan oleh walimurid SD Shabilla pada hari Rabu, 4 sept 2019. Kejadian ini. Dan dari keterangan yang dipantau dari orang tua siswa lainnya terdata baru tiga orang siswa yang diduga menjadi korbannya.

Suharyono, pelaku yang merupakan guru konseling di sekolah Shabilla ini juga mengajar sebagai guru kelas. Peristiwa pencabulan tersebut dilakukan saat para siswa melakukan bimbingan hipnoterapi. Modus yang dilakukan dengan cara menyuruh para siswa tutup mata dan berbagai cara lainnya yang dilakukan berkelompok ataupun individu. Dalam keadaan mata tertutup pelaku melakukan aksinya dengan meraba-raba siswa bahkan sampai pada gesekan pada tempat vital siswa.

Leni Fitriana, Komisioner Perlindungan anak yang hadir saat WBtv lakukan liputan mengatakan bahwa KPAI Batam akan melakukan pendampingan dan pengawalan untuk menuntaskan kasus ini. Dan berharap kasus ini dapat sesegeranya dituntaskan pihak berwajib.

Dalam konferensi pers yang digelar oleh Kepala sekolah Shabilla pada Kamis, 5 September 2019 siang tadi, anggota KPPAS Kepri Mahmud Syaltut. S. Psi yang diwawancarai WBtv mengatakan bahwa KPPAD Kepri akan tindaklanjuti kejadian ini sesuai tupoksinya, dan pada kesempatan tersebut juga menerangkan modus operandi yang sering terjadi dimana para pelaku yang memakai modus operandi hipnoterapi ini sering terjadi dimana pelaku selalu memanfaatkan kedudukannya untuk memenuhi perintahnya dengan alasan bimbingan dan konseling yang tujuannya dapat leluasa melaksanakan aksinya agar terkesan hal tersebut merupakan sistem pembelajaran dan bimbingan.

3,866 kali dilihat, 810 kali dilihat hari ini

Lanjutkan Membaca

Batam

Sopir Trans Batam Bahayakan Keselamatan Penumpang

Diterbitkan

pada

Oleh

WAJAHBATAM.ID – Batam | Perlakuan kru sebuah bus umum Trans Batam rute Teluk Mata Ikan BP 7135 EU yang terjadi saat tujuan akhir sebuah sekolah TK di Kecamatan Batam Kota yang sedang selenggarakan kurikulum “Puncak Thema” dengan “Pengenalan Lingkungan Menaiki Transportasi Umum” kepada anak usia dini di halte depan Batara Batam Centre Jum’at 11 /10/2019 dianggap pembimbing Sekolah TK tersebut kurang manusiawi.

Bermula dari perjalanan yang diawali dari halte tersebut menuju simpang pantai melayu, rombongan salah satu sekolah Taman Kanak-kanak yang berjumlah total 39 orang yang terdiri dari 15 anak TK, 16 orang tua siswa, 5 balita dan 3 bayi menaiki sebuah bus umum Trans Batam, melakukan perjalanan dalam rangka program kurikulum untuk anak sekolah tingkat Taman Kanak-kanak.

Melalui sebuah kesepakatan antara ketua rombongan dengan sopir bis disepakati harga 2 kali lipat (one way) dengan ketentuan mengantar sampai tujuan yang berjarak sekitar setengah kilo dari jalur umum. Ketua rombongan meminta dapat dijemput kembali mengingat anak-anak dan orang tua siswa/pendamping yang juga membawa bayinya.

Setelah waktu yang ditentukan, karena sesuatu hal, maka sopir bis pertama (pengantar) mendelegasikan penjemputan kepada bis lainnya dwngan rute yang sama. Atas permintaan kru bis kedua (penjemput) juga disepakati dengan pembayaran ongkos yang sama dengan bis pertama (pulang).

Kesan pertama saat akan menaikkan anak-anak, kru bis ini secara spontan bicara didepan para siswa yang ditujukan kepada rombongan “tolong ibu-ibu anak-anaknya jangan mengotori mobil kami ya..!”

Perjalanan yang seharusnya memberikan kenyamanan dan pendidikan positif pada anak usia dini tersebut akhirnya berubah menjadi suatu permasalahan, dimana kru bis tersebut tidak mempedulikan jumlah penumpang yang seharusnya (over capacity). Kru bis umum tersebut terus menaikkan penumpang lain hingga mencapai hampir 80 penumpang yang seharusnya berkapasitas 31 sit penumpang.

Tidak sampai disitu, dalam perjalanan yang membahayakan nyawa penumpang, terlihat anak-anak yang dari awal telah membayar seharusnya menempati kursi, diminta oleh kru bis tersebut dipangku orang tua masing-masing dan ada orang tua siswa yang berdiri sambil memegang anak dan menggendong bayinya, sehingga dalam perjalanan terjadi kehebohan dan berbagai keluhan. Bahkan dalam perjalanan yang berdesakan banyak siswa TK dan anak bayi yang menagis.

Menanggapi hal tersebut, sesampai pada tujuan akhir, ketua rombongan sekolah TK menyampaikan protes, tapi kru bis umum tersebut menanggapi dengan kasar bahkan mengeluarkan kata-kata “jika mau nyaman cari mobil lain saja” sementara rombongan telah membuat kesepakatan bahkan dengan harga dua kali lipat. “perjalanan ini bukan karena sekolah tidak memiliki mobil sendiri, tapi dalam rangka program kurikulum sekolah, cetus Kepala Sekolah ini.

Ketua rombongan sekolah yang dipimpin langsung oleh Kepala Sekolah di salah satu Taman Kanak-kanak di Batam Kota mengungkapkan kekecewaan dan kekesalannya, “perjalanan dalam pelaksanaan kurikulum pendidikan Anak Usia Dini yang seharusnya menanamkan kebanggan dan kecintaan mereka dari contoh pelayanan pemerintah kota Batam menjadi sebuah pendidikan negatif karena perlakuan kru berbaju biru tersebut. Apalagi adanya keributan antara Ketua rombongan dengan kru bis umum saat sampai tujuan akhir”

Kepala Sekolah tersebut juga menyampaikan kepada WBtv, bahwa “apa yang dikatakan oleh Walikota Batam HM. Rudi ternyata hanya slogan manis dimulut saja, dan ini kami alami langsung bahkan saat melakukan pendidikan kepada anak bangsa” kata Kepsek tersebut.

Pada kesempatan yang sama, salah satu orang tua siswa yang tidak mau disebutkan namanya juga mengatakan dan mengharap kepada pemerintah kota Batam agar ini menjadi perhatian, “kami ingin anak-anak kami melihat dan merasakan langsung kenyamanan layanan pemerintah, agar anak-anak kami termotifasi menjadi anak-anak yang mencintai pemerintahnya” demikian ujar orang tua siswa tersebut dengan kesal.

Sampai berita ini diterbitkan, Kepala dinas Perhubungan yang dikonfirmasi WBtv belum membwrikan jawabannya. (WBtv)

45,181 kali dilihat, 1,058 kali dilihat hari ini

Lanjutkan Membaca

Batam

Polemik Bebas UWT BP Batam

Diterbitkan

pada

Oleh

WAJAHBATAM.ID – Batam | Direktur Riset Ekonomi, Politik, Sosial dan Budaya Provinsi Kepri – Tengku Jayadi Noer menyarankan agar tidak ada pihak-pihak yang mempolemikan wacana pembebasan UWT BP Batam untuk pemukiman 200 M2 ke bawah. Lebih baik semua pihak menunggu kebijakan yang diambil Kepala BP Batam dalam beberapa bulan ke depan.

Menurut Jayadi, biarkan Kepala BP Batam yg merupakan Walikota Batam bekerja terlebih dahulu untuk menata dan mensinkronisasi kinerja kedua lembaga menjadi satu kekuatan untuk memajukan Batam.

“Pernyataan bebas UWT ini bisa memicu pertentangan antara Kepala BP Batam dengan masyarakat Batam, satu sisi masyarakat sangat berharap bisa bebas UWT BP Batam, tapi satu sisi kita masih melihat kebijakan yg akan diambil BP Batam,” katanya kepada WB di Batam Center, 10/10/19.

Lebih lanjut Jayadi menjelaskan, BP Batam itu hanya sebuah lembaga yang menjalankan kebijakan pemerintah pusat. “Jadi pertanyaan nya, apakah Kepala BP Batam punya kewenangan untuk pembebasan UWT ini,” ujarnya.

Jayadi menambahkan, kebijakan tarif UWT selama ini acuannya adalah PMK (Peraturan Menteri Keuangan) – yang kemudian dipertegas dengan Keputusan Kepala BP Batam. “Artinya Kepala BP Batam masih harus berjuang untuk itu. Ini yang perlu diberikan kesempatan bekerja tanpa beban macam-macam.”

Sejauh yang dia tahu filosofi UWTO itu bukan hanya utk ngejar pendapatan dari sewa, maka awal tarif nya rendah sekali, tapi lebih kepada pengendalian lahan.

Misal untuk investor yang datang survey begitu selesai mau realisasi komponen harga tanah itu tetap, kedua bagi perencanaan dan pengembangan kota, bila dibutuhkan untuk urban renual, peremajaan kota maupun redevelopment akibat perkembangan kota, tidak perlu biaya pembebasan dan penggusuran, misalnya kampung utama sudah selayaknya jadi kawasan niaga bukan perumahan, cukup men stop uwto pada habis masanya.

Jayadi justru mengingatkan kepala BP Batam agar mempertimbangkan segala aspek terkait wacana bebas UWT BP Batam itu, di mana akan ada kepentingan dan keuntungan yang besar bagi developer dan pelaku properti di Batam. “mesti perlu kajian yang lebih mendalam lah, dan tidak ada yg berpolemik soal tersebut, apalagi terkesan mengadu domba antara Kepala BP Batam dengan masyarakat Batam..?” tambahnya. (WB)

16,696 kali dilihat, 802 kali dilihat hari ini

Lanjutkan Membaca

Trending