Terhubung dengan kami

Berita Utama

Pasca 22 Mei, KPPAD Kepri Himbau Masyarakat dan Stakeholder Ikut Serta Lakukan Advokasi Hukum Atas Kekerasan Pada Anak

Diterbitkan

pada

WAJAHBATAM.ID – 26/5/2019 | Adanya korban anak-anak yang diduga dilakukan oleh aparat Kepolisian dalam peristiwa demo damai di Bawaslu RI Jakarta 22/5/2019 lalu membuat KPPAD Kepri angkat bicara, setelah mengunjungi langsung korban anak (alm. Harun Rasyid) yang meninggal dunia dikediamannya (Red)

Eri Syahrial: Ketua KPPAD Kepri

Pers Rilis KPPAD Kepri

Dukungan KPPAD Provinsi Kepri terhadap Upaya KPAI Terkait Penanganan 3 Korban Anak Meninggal dan Luka-luka pada Kerusuhan 22 Mei 2019 di Jakarta

Komisi Pengawasan dan Perlindungan Anak Daerah (KPPAD) Provinsi Kepulauan Riau menyikapi adanya beberapa korban anak pada peristiwa kerusuhan yang terjadi pada tanggal 22 Mei 2019 lalu.

KPAI sudah turun ke lapangan, mengumpulkan data dan informasi terkait jumlah korban anak meninggal sebanyak 3 orang, banyaknya anaknya luka-luka dan masih ada yang dirawat di RSUD Tarakan, Jakarta dan masih ada beberapa orangtua mencari anak-anaknya karena belum ditemukan. Kejadian serupa juga terjadi Pontianak Kalimantan Barat sehingga seorang siswa SMK meninggal.

 

Kunjungan KPPAD Kepri di kediaman Alm. Harusn Rasyid, korban anak Jakarta

Atas peristiwa yang menyebabkan korban anak tersebut, Kami Komisioner KPPAD Provinsi Kepri menyatakan sikap sbb;

1. KPPAD Provinsi Kepri sangat menyayangkan terjadinya peristiwa kerusuhan yang terjadi sehingga menimbulkan kekerasan dan korban terhadap anak. Menilai kekerasan yang terjadi pada korban anak merupakan pelanggaran hak-hak anak dan perlindungan anak sehingga harus menjadi perhatian semua pihak.

2. KPPAD Provinsi Kepri Meminta Kapolri untuk melakukan pengusutan secara tuntas terhadap tewasnya 3 korban anak di jakarta dan beberapa anak lainnya luka-luka, serta 1 korban anak SMK tewas di Pontianak. Termasuk menindaklanjuti laporan orangtua terkait masih adanya beberapa anak yang belum ditemukan.

3. KPPAD Provinsi Kepri Memberikan dukungan kepada KPAI untuk terus bekerja mengumpulkan data dan informasi, berkoordinasi dengan pihak kepolisian, mengadvokasi kasus tersebut supaya menjadi atensi penanganan dan mengawasi proses hukum yang berjalan hingga tuntas.

4. KPPAD Provinsi Kepri meminta Pemerintah dan Pemerintah Daerah terjadi kerusuhan memberikan trauma healling dan pendampingan pemulihan psikologis kepada korban anak yang mengalami atau melihat kekerasan kerusuhan tersebut sehingga menimbulkan trauma, serta memberikan layanan pengobatan gratis kepada korban anak.

5. Meminta dukungan semua stakeholder perlindungan anak baik yang ada di pemerintahan dan peran serta masyarakat untuk turut serta mengadvokasi terciptanya keadilan untuk korban dan keluarganya, membantu upaya pemulihan para korban untuk mendapatkan hak-haknya.

6. Melihat situasi keamanan yang belum kondusif dan ditenggarai masih terjadi pengumpulan massa maka diharapkan para orangtua mengawasi anaknya (berusia di bawah 18 tahun) supaya menjauh dari lokasi dan tidak ikut-ikutan melihat dan berkumpul karena berpotensi membahayakan nyawa anak.

7. Dalam rangka menciptakan situasi keamanan, pihak kepolisian diminta tidak represif dan tidak melakukan kekerasan pada warga yang patut diduga berusia berusia anak karena setiap anak berhak mendapatkan perlindungan dari segala bentuk kekerasan. Terhadap anak harus dilakukan upaya yang persuasif dan ramah anak, meski dalam kondisi yang situasi yang sulit.

Demikian penyataan sikap kami kepada semua pihak terkait adanya korban anak pada peristiwa kerusuhan yang terjadi pada tanggal 22 Mei 2019 lalu.

Tanjungpinang, 25 Mei 2019
Ketua Komisi Pengawasan dan perlindungan Anak Daerah (KPPAD) Provinsi Kepri

ttd
Eri Syahrial, S.Pd, M.Pd.I

13,587 kali dilihat, 5 kali dilihat hari ini

Iklan
Klik untuk komentar

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Batam

Polling PILWAKO

Diterbitkan

pada

Oleh

Andai Hari Ini Pilwako Batam, Siapakah Pilihan Anda ?

24,112 kali dilihat, 606 kali dilihat hari ini

Lanjutkan Membaca

Batam

Eceng Gondok Ancaman Kelestarian dan Manfaat Waduk Untuk Penyediaan Air Berkualitas Secara Berkelanjutan di Kota Batam

Diterbitkan

pada

Oleh

“Eceng Gondok sebagai ancaman kelestarian fungsi dan manfaat waduk untuk penyediaan air baku yang berkualitas secara berkelanjutan di Kota Batam”

WAJAHBATAM.ID – Eceng gondok adalah vegetasi yang memberikan informasi bahwa suatu sumber air berupa waduk, danau, kolam sudah tercemar. Bahkan Eceng gondok akan mati dengan sendirinya apabila air tersebut bersih. Sebagai contoh kita dapat lihat di Waduk Sei Ladi justru bebas dari Eceng gondok krn airnya relatif bersih dari berbagai inflow berupa limbah rumah tangga dan industri. Inflow limbah dari rumah tangga saat ini sedang secara bertahap dikurangi melalui proyek The Sewerage System.

Dengan adanya beban limbah berupa pupuk berupa nitrigen dan fosfor yang ada di daerah tangkapan air, dari kegiatan pertanian ilegal yang tercuci akibat erosi dan sedimentasi ke dalam waduk, mengakibatkan Eceng gondok tumbuh dengan subur dan sangat cepat. Ditambah adanya limbah yang berasal dari keramba jaring apung dan inflow waduk yang berasal dari rumah tangga mengakibatkan beban limbah yang menjadi nutrisi Eceng gondok semakin besar.

Tumbuhnya Eceng gondok akan mengakibatkan berkurangnya genangan waduk secara cepat akibat pengaruh evapotranspirasi/penguapan melalui daun Eceng gondok, yang mengakibatkan berkurangnya sumber air di waduk mencapai 13 kali lebih lebih banyak dari kondisi tanpa Eceng gondok di genangan waduk. Bahaya lainnya adalah Eceng gondok melalui sistem perakarannya dapat menagkap sedimentasi dan mengendapkannya sehingga secara cepat mendangkalkan waduk.

Pertumbuhannya yang cepat akan mengurangi tinggi muka  air baku sekaligus mengurangi volume tampungan waduk. Pada gilirannya tanpa upaya serius waduk akan terdegredasi secara cepat menjafi semakin tercemar dan berkurang volumenya. Ini merupakan ancaman serius karena sumber air untuk waduk di Batam hanya berasal dari curah hujan bukan sungai yang mengalir sepanjang tahun.

Pembuatan pupuk kompos hanyalah upaya memanfaatkan sampah Eceng gondok yang sudah terangkut. Adapun pemanfaatan lain sebagai usaha bisnis akan mengakibatkan upaya para pihak untuk melanggengkan “sumber bahan baku produksi” yang berakibat terhadap upaya mempertahankan gulma Eceng gondok di genangan waduk tersebut. Hal ini berbahaya untuk kelangsungan ketersediaan air baku dengan kuantitas, kualitas dan kontinuitas yang baik.

Upaya mengatasinya akan dilakukan dengan dua cara yaitu mencegah masuknya limbah /nutrient baik dari saluran rumah tangga dan industri di genangan waduk serta menghentikan kegiatan pertanian ilegal du sekeliling waduk serta kegiatan keramba jaring apung. Hal lainnya melakukan pembersihan Eceng gondok itu sendiri secara signifikan serta tetap melakukan upaya pembersihan rutin pasca upaya pembersihan “besar” terhadap Eceng gondok tersebut.

Bukti kerusakan dan kehilangan waduk sudah terjadi di Batam yaitu di Waduk Baloi dimana sekeliling waduk tersebut sudah menjadi permukiman yang tidak terkendali dan menghasilkan limbah rumah tangga ke dalam waduk tiap detiknya. Eceng gondok pun tumbuh dan berkembang serta waduk semakin dangkal sehingga kualitas air menjadi sangat kotor (too dirty). Kota Batam sudah kehilangan 30 l /det yang merupakan suatu kehilangan yang besar.

Saat ini Kota Batam dengan 1.300.000 penduduk telah memanfaatkan air baku sebanyak  3.500 liter/detik dari total 3.850 liter/detik yang dapat dimanfaatkan saat ini. Pada tahun 2045 di Kota Batam dibutuhkan ketersediaan air baku sampai dengan 7.000 liter/detik, sehingga ketersediaan air baku yang ada saat ini harus dipertahankan bahkan ditingkatkan.

Upaya penyediaan tambahan air baku tersebut dapat dipenuhi melalui pemanfaatan bauran air baku yang ada melalui konsep Batam Integrated Total Water Management (BITWM). Upaya pemanfaatan air hujan secara langsung maupun di waduk-waduk, sea water reverse osmosis (SWRO), sewerage water/pemanfaatan air limbah serta sumber air dari surplus air baku di pulau-pulau terdekat, termasuk konsep “waduk laut”.

Dibutuhkan tindakan penertiban kegiatan pertanian ilegal. dan keramba jaring apung oleh “Pihak  Berwajib” sesuai peraturan dan perundangan yang berlaku serta mengunakan  “heart ware” berupa kesadaran dari hati seluruh masyarakat Kota Batam demi keberlanjutan penyediaan air baku yang berkualitas yang saat ini diambang krisis.

Waduk Duriangkang sebagai waduk yang terbesar (70 % sumber air di Batam) merupakan pilihan kepentingan yang sangat kritis  bagi seluruh stake holder di Kota Batam untuk menjadi salah satu obyek vital nasional yang harus dipertahankan fungsi dan manfaatnya untuk kemaslahatan penyediaan air untuk kebutuhan rumah tangga dan industri Kota Batam. (bp_batam)

17,077 kali dilihat, 39 kali dilihat hari ini

Lanjutkan Membaca

Batam

LSM Tipikor: Pertanyakan Status Negeri Madrasah Aliah 2 Bengkong

Diterbitkan

pada

Oleh

WAJAHBATAM.ID – Batam | Sekolah Madrasah Aliyah 2 Bengkong mendapat sorotan dari LSM Tipikor terkait pengaduan dan beredarnya isu ditengah masyarakat dan orang tua, dan siswa yang belajar di sekolah tersebut. Hal ini disampaikan oleh Khairul ketua LSM Tipikor Batam Selasa, 1/10/2019 dibilangan Kampung Tua Belian, Batam Centre saat ditemui WBtv di kantor LSM Peduli Masyarakat Kepri Kampung Belian, Batam Centre.

Khairul mengatakan bahwa pengaduan yang diterimanya langsung ditindaklanjuti dengan melakukan investigasi ke masyarakat dan orang tua siswa serta siswa yang berstatus pelajar di MAN 2. Dari temuan tersebut LSM Tipikor menyimpulkan bahwa status sekolah MAN 2 adalah sekolah Negeri, sementara setelah dilakukan konfirmasi dengan Muhamad Ilham Zulkarnain dari kementrian agama Batam menyatakan bahwa MAN 2 bukanlah sebagai sekolah Negeri.

Dalam investigasi yang dilakukan LSM Tipikor juga mendapatkan temuan bahwa sekolah MAN 2 tersebut juga melakukan praktek pemungutan uang penerimaan siswa baru sejumlah 4.820.000 rupiah yang diperuntukan untuk biaya pembangunan, pakaian dan biaya lainnya.

Pada kesempatan yang sama, Ketua LSM Peduli Masyarakat Kepri (PMK) Firdaus yang juga merupakan salah satu orang tua siswa mengakui bahwa selama ini beliau tahu bahwa anaknya bersekolah disebuah sekolah Negeri dan juga mengakui bahwa pungutan uang penerimaan siswa baru setiap tahunnya cukup besar.

Kepala sekolah Madrasah 2 Bengkong Ulfa, ketika dikonfirmasi oleh WBtv mengatakan bahwa hingga saat ini MA USB FILIAL MA BATAM masih berstatus Swasta, sementara penyebutan MAN (Madrasah Aliah Negeri) hanya sebutan yang selalu disebut oleh siswa saja. Hal itu dapat dilihat dari plang nama yang berdiri di depan sekolah.

Ulfa, Kepala sekolah Madrasah Aliah Bengkong juga mengatakan bahwa hingga saat ini memiliki tenaga guru pengajar yang diperbantukan oleh Kementrian Agama sebanyak 11 orang guru yang berstatus ASN/PNS dan selebihnya diisi tenaga-tenaga pengajar honorer.

Lebih lanjut juga dikatakan bahwa MA Bengkong saat ini sedang melakukan pembangunan mesjid yang anggarannya bersumber dari infaq para siswa dan orang tua siswa.

Dari sumber beberapa orang siswa, WBtv juga menerima keterangan bahwa mereka setiap hari memberikan infaq seikhlasnya, karena selama ini mereka belum memiliki mushalla tempat beribadah, dimana selama ini mereka beribadah menumpang disamping sekolah mereka saat ini. (TimWb)

18,689 kali dilihat, 5 kali dilihat hari ini

Lanjutkan Membaca

Pasang Iklan Disini

Trending