Terhubung dengan kami

Berita

12 Bocah Terjebak di Gua Thailand Belum Siap Menyelam Keluar

Diterbitkan

pada

WAJAHBATAM.ID | Bangkok – Sebanyak 12 bocah dan pelatihnya yang terjebak di dalam gua di Thailand yang dilanda banjir, belum siap untuk menyelam keluar. Padahal satu-satunya cara untuk membawa mereka keluar adalah dengan menyelam di dalam gua yang dipenuhi air.
Seperti dilansir AFP, Sabtu (7/7/2018), ketua tim operasi penyelamatan, Narongsak Osottanakorn, menyatakan ‘tidak cocok’ untuk membuat bocah-bocah itu menyelam keluar. Dia mengindikasikan hujan deras yang masih akan mengguyur sehingga memaksa upaya penyelamatan dipercepat.
Opsi membawa bocah-bocah itu keluar gua dengan menyelam semakin memicu kekhawatiran setelah seorang penyelam handal yang mantan anggota SEAL Angkatan Laut Thailand bernama Saman Kunan tewas karena kehabisan oksigen, saat menyelam keluar gua.
Kematian Saman memicu kesedihan juga kekhawatiran keluarga bocah-bocah tersebut. Sebabnya, upaya mengajari bocah-bocah itu menyelam agar mereka bisa keluar gua bukanlah tugas mudah. Hujan deras diperkirakan masih akan mengguyur hingga beberapa hari ke depan. Otoritas Thailand yang awalnya optimistis kini mulai khawatir dengan nasib bocah-bocah itu.
“Awalnya kami berpikir bahwa anak-anak itu bisa tinggal untuk waktu lama (di dalam gua)… tapi sekarang situasi berubah, kami memiliki waktu terbatas,” ujar Komandan SEAL Angkatan Laut Thailand, Apakorn Yookongkaew, kepada wartawan setempat.
Bocah-bocah yang tergabung dalam klub sepakbola lokal bernama ‘Wild Boars’ itu masuk ke dalam gua bernama Tham Luang itu pada 23 Juni, bersama pelatih mereka. Bocah-bocah itu masuk ke dalam gua usai berlatih sepakbola bersama. Di dalam gua, perjalanan mereka terhenti saat hujan deras mengguyur dan gua dilanda banjir hebat. Mereka terjebak di dalam gua dan tidak bisa keluar karena akses keluar tergenangi air.
Sebanyak 12 bocah dan pelatihnya itu bertahan di dalam bilik gua yang masih kering selama sembilan hari, tanpa bisa keluar. Upaya penyelamatan terus dilakukan, mulai dari pengerahan tim militer hingga menyedot air banjir keluar, namun tidak membuahkan hasil.
Hingga akhirnya dua penyelam handal asal Inggris yang ikut membantu upaya penyelamatan, behasil mencapai lokasi mereka yang ada di titik beberapa kilometer jauhnya dari mulut gua. Dua penyelam Inggris itu menemukan 12 bocah dan pelatihnya masih hidup, meskipun kelaparan parah.
Upaya penyelamatan masih jauh dari akhir. Sebanyak 12 bocah yang berusia 11-16 tahun itu bersama pelatih mereka harus menyelami genangan banjir di dalam gua untuk bisa keluar. Hal ini tidak mudah karena kondisi gua yang dibanjiri air sangat tidak aman.
Para penyelam handal yang biasa melakukan misi di dalam gua bawah laut saja membutuhkan waktu 11 jam untuk mencapai lokasi bocah-bocah itu dan berenang lagi keluar. Rute yang ditempuh sangat panjang, sempit dan terkadang dipenuhi air lumpur dengan jarak pandang sangat terbatas.
Kebanyakan bocah laki-laki itu tidak bisa berenang dan tidak ada dari mereka yang memiliki pengalaman menyelam di air yang dalam dan gelap.
Para pakar menyebut bahaya dalam upaya penyelaman untuk keluar dari gua itu sangat tinggi. “Sangat berisiko (untuk menyelam keluar). Coba pikirkan, seorang penyelam SEAL Angkatan Laut baru saja meninggal semalam, bagaimana dengan bocah 12 tahun,” ucap Rafael Aroush yang merupakan relawan asal Israel yang ikut membantu upaya penyelamatan.
detik

Iklan
Klik untuk komentar

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Batam

Merasa Dibohongi Pelni dan PT. Inalum, Masyarakat Bakar Dokumen Keberangkatan

Diterbitkan

pada

Oleh

WAJAHBATAM.ID – 17/5/2019 | Harapan pulang kampung yang diharapkan masyarakat Batam hari ini Jumat (17/5) pupus karena masyarakat yang sudah mengumpulkan berkas sebelumnya dan dijanjikan pada hari ini pukul 09.00 WIB mendapat panggilan ternyata harus gigit jari dan pulang dengan tangan kosong setelah tahu mereka tidak mendapatkan tiket yang dinyatakan sudah habis.

Dengan kejadian ini masyarakat yang datang berbondong-bondong merasa dibohongi oleh oknum Pelni dan PT. Inalum, demikian disampaikan Sabarudin salah satu aktifis yang juga hadir untuk mengambil tiket yang dijanjikan tersebut karena telah merasa mengumpulkan berkas-berkas berupa KTP dan KK sebelumnya.

“Kantor pelni Sekupang tahun sebelumnya lancar tahun ini ada unsur KKN masyarakat disuruh pulang bagi yyg sudah kumpulkan berkas disuruh besok datang hari Jumat jam 9 tinggal ambil tiket seperti tahun lalu tiba tiba Jumat datang tiket sudah habis di bagikan ini namanya pembohongan atau penipuan terhadap masyarakat, Masyarakat yg mau mudik dgn tiket gratis dari PT. Inalum akhirnya kecewa dengan membakar foto copij KTP dan KK akibat pembagian tiket tidak jelas dan adanya unsur KKN dgn panitia” demikian Sabarudin menyampaikan hal ini kepada Wajah Batam via WhatsApp siang ini. (shd)

36,709 kali dilihat, 1,835 kali dilihat hari ini

Lanjutkan Membaca

Batam

Yulidar: Kartu Sakti Yang “Bohongi” Masyarakat

Diterbitkan

pada

Oleh

Laporan: Suharsad (Dir. Forum Komunikasi Pendidikan Nasional)

Berbagai program subsidi berbentuk kartu yang digulirkan pemerintah ditujukan untuk menghilangkan hambatan ekonomi siswa untuk bersekolah, keluarga tak mampu dan lain-lain sehingga nantinya membuat masyarakat dan anak-anak tidak lagi terpikir untuk berhenti sekolah dan keluarga tak mampu tak lagi memikirkan beban hidup yang berat. Khususnya KIP, menghindari anak pustus sekolah, program KIP juga dibuat untuk bisa menarik kembali siswa yang telah putus sekolah agar kembali bersekolah. Bukan hanya tentang biaya administrasi sekolah, program ini juga bertujuan untuk membantu siswa memenuhi kebutuhan dalam kegiatan pembelajaran. Lebih luas lagi, program dalam KIP ini juga sangat mendukung untuk mewujudkan program Wajib Belajar Pendidikan Dasar 9 Tahun dan Pendidikan Menengah Universal/Wajib Belajar 12 Tahun.

WAJAHBATAM.ID– 8/5/2019 | Yulidar adalah salah satu penerima kartu-kartu seperti KIS dan KIP yang hingga saat menerima kartu tersebut baru satu kali menerima bantuan sembako (KIS) dan satu kali menerima bantuan pendidikan anak (KIP) berjumlah 375.000 rupiah (125.000/bulan)

Awalnya Yulidar yang menerima kartu tersebut sangat gembira dan merasa terbantu, tapi setelah penerimaan pertama tersebut hingga detik ini hal ini tidak terjadi lagi, dan merasa heran apakah kartu-kartu ini hanya sebagai pemanis saja dan Yulidar sudah berkali-kali mempertanyakan ini ke Walikota Batam H.M Rudi, SE tapi tak pernah mendapat jawaban sama sekali.

Yulidar hanya berharap, andaikan itu merupakan program Nasional, kenapa sekian lama hanya sekali saja diberikan sebagai pemenuhan janji saja dan apakah anggaran tersebut benar ada turun sejak program tersebut dicanangkan khususnya kota Batam ? tutur Yulidar pada WB di bilangan Pasar Pasir Putih selasa (7/5) lalu. (Shd)

Bersambung

50,024 kali dilihat, 112 kali dilihat hari ini

Lanjutkan Membaca

Batam

Kalam Membangun Komitment

Diterbitkan

pada

Oleh

WAJAHBATAM.ID – 29/4/2019 – Kalam (kawan lama) melakukan silaturrahmi dan musyawarah besar untuk menentukan kepemimpinan 2019-2023 sekaligus menetapkan AD/ART organisasi.

“Kalam harus berkomitmen dalam hubungan silaturrahmi,” kata DR. H. Kholiq Widiarto, SH. MH. dalam sambutannya. “Sesama anggota kalam adalah keluarga besar sehingga jangan sampai ada kalimat atau saling membuka aib – justru sebaliknya,” ujarnya.

Sementara Ketua Dewan Pembina DR. H.M. Soerya Respationo, SH. MH. menekankan adanya ketulusan dalam bersilaturrahmi, “harus ada satunya kata dan perbuatan, jangan jadi munafik..!” tegasnya.

Soerya menegaskan ” jangan ada yang ketika berhadapan saling bertemu baik di belakang dibicarakan lain…! ”

Silaturrahmi yang juga dihadiri tokoh kawan lama seperti Mustafa Wijaya, Erdin Odang, Yusuf Domi, dan banyak lainnya berlangsung dengan penuh keakraban.

Bahkan rapat besar pembahasan AD/ART, program dan kepengurusan baru berlangsung sangat cepat karena dinilai untuk kebersamaan. (timwb)

16,255 kali dilihat, 79 kali dilihat hari ini

Lanjutkan Membaca

Trending