Terhubung dengan kami

Berita

Prahara Fauzan Sang Juara Dunia Karate

Diterbitkan

pada

WAJAHBATAM.ID |  – Menjadi atlet bahkan juara dunia tak selalu dapat menjadi jaminan hidup bahagia anak Indonesia. Masih ingat nasib Ellyas Pical mantan juara tinju dunia itu?
Seusai masa jayanya lewat, dia sempat jadi penjaga keamanan. Untung Pical punya istri yang baik dan sangat menyayanginya. Pical kini hanya menjadi pegawai kantoran rendahan karena rendahnya pendidikan.
Ini jelas beda dengan Cina, misalnya. Setiap ada juara dunia atau juara olimpiade, negara itu memperhatikannya seumur hidup. Statusnya naik kelas dari orang awam biasa menjadi warga utama.
Kalau ada banyak orang ribut dan bising mengeluk-elukan Lalu Muhammad Zohri karena mampu menjadi juara dunia lari U-18, ada hal ironi yang lain. Tiba-tiba ramai orang sibuk menyanjungnya yang sudah terlihat berlebihan. Di belahan negara lain pun sama, seperti di Inggris, Singapura, Malaysia, Thailand, negara-negara di Timur Tengah, Mesir, Rusia, dan berbagai negara lainnya.
Dan, apa yang dia dapat sekarang, semua kontras ketika Zohri belum apa-apa. Jangankan uang saku latihan, rumahnya yang reyot di Nusa Tenggara Barat tak bisa diperbaikinya. Rezeki baru datang ketika dia juara dunia. Sebelumnya, hanya segelintir orang yang peduli, memupuk bakat, dan mengasah kecepatan larinya.
Nasib Zohri berbanding terbalik, misalnya, dengan Fauzan Noor yang memenangi kumite (perkelahian) kejuaraan dunia karate tradisional (ITKF) di Praha, Republik Cheska, pada awal 2018 lalu. Meski menyandang gelar juara dunia, kehidupannya sampai kini tetap miskin. Sialnya, sampai sekarang tidak ada orang yang memberikan hadiah.
Tragisnya lagi bukan hanya itu, bahkan saat Fauzan melamar menjadi anggota satpol PP di Banjarmasin, Kalimantan Selatan, pun ditolak. Tidak pula ada dari TNI/Polri atau kementerian dan BUMN serta pemda yang menawarkannya kerja. Padahal, dia juara dunia.
Semua ini jelas ironis sekali. Sebab, jika Lalu M Zohri, juara dunia junior lari 100 meter putra yang kini banjir hadiah, Fauzan tetap gigit jari.
Namun, sebenarnya nasib dia sama dengan Zohri sebelum jadi juara. Fauzan berangkat ke Praha berbekal seadanya. Dia malah hanya bermodalkan makanan mi instan dan kacang bungkus. Tiket pesawatnya untuk ke Praha berasal dari sumbangan orang asing. Setelah jadi juara dunia, kehidupannya pun tetap tak berubah. Tetap pahit.
Pertanyaannya, mengapa tidak ada perhatian dari Pemprov Kalimantan Selatan? Apa kabar juga Federasi Karate Tradisional Indonesia (FKTI)? Bagaimana KONI, Kementerian Pemuda dan Olahraga?
Apa yang menimpa Fauzan, jelas membuktikan masih adanya diskriminasi terhadap cabang olahraga. Kiranya inilah yang bisa jadi menjadi biang penyebabnya. Karate, mungkin tidak sepopuler sepak bola, badminton, tinju, tenis, maupun atletik. Tetapi, menjadi juara dunia karate tradisional (dasar karate) punya gengsi tersendiri.
Apalagi di nomor perkelahian bebas yang diikuti Fauzan. Nomor ini tanpa kelas berat badan serta tanpa pelindung tubuh. Hebatnya di final, Fauzan mengalahkan karateka Cheska yang tubuhnya lebih tinggi dan berat badannya pun lebih dari 20 kg dari dirinya. Tapi, Fauzan sukses menekuk karateka asal Cheska itu untuk meraih juara dunia.
Bila Anda pencinta atau atlet beladiri pasti tahu betapa susahnya naik tingkat, apalagi meraih sampai mampu meraih juara dunia. Naik tingkat, apalagi sampai punya ban hitam, jelas tak sembarangan.
Saya tahu betul agar bisa mendapat sabuk hitam setidaknya butuh waktu empat tahun. Ini dicapai melalui penderitaan alias pengorbanan yang panjang. Kaki retak, muka jahitan, hingga patah-patah anggota tubuh adalah hal biasa saja.
Alhasil, saya jadi mafhum dengan sikap Susi Susanti yang lebih suka anaknya bersekolah daripada menjadi olahragawan. Dalam sebuah wawancara dia keberatan bila anaknya ikut bermain bulu tangkis. Padahal, dia tahu anaknya punya bakat alami, yakni punya kemampuan memukul shuttlecock yang keras. Katanya, juara hanya satu dari sekian ribu orang.
Di sini dia sadar bahwa menjadi atlet, bahkan menjadi juara dunia, tak ada jaminan hidup layak. Padahal, semua tahu bulu tangkis merupakan olahraga berprestasi kelas dunia dan populer di Indonesia. Bagaimana kalau jadi juara dunia di luar cabang olahraga itu?
Fauzan salah satu contohnya. Entah di mana jargon: Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai jasa pahlawannya?
Republika

Iklan
Klik untuk komentar

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Berita

Bandara Hang Nadim Tidak Lagi Jadi Primadona Pemudik, Pelabuhan Kapal Laut Jadi Alternatif

Diterbitkan

pada

Oleh

WAJAHBATAM.ID – 30-5-2019 | Bandara Internasional Hang Nadim Batam sore ini Kamis, 30/5/2019 terlihat sedikit ada lonjakan penumpang yang bepergian keluar Kota Batam dibandingkan hari-hari sebelumnya,

Hal tersebut disinyalir semakin banyaknya arus pemudik yang berangkat keluar Batam menuju kampung halamannya pada hari raya Idul Fitri tahun ini.

 

Pada tempat yang terpisah, dari informasi yang diperoleh oleh awak media ini mengatakan bahwa “dibandingkan dari sebelum adanya kenaikan harga tiket, suasana keberangkatan dan kedatangan penumpang pesawat saat ini sangat jauh menurun. Walaupun saat ini suasana lebaran, tetap masih belum merubah keadaan seperti sebelumnya pada hari-hari biasa”, demikian pengakuan salah satu pekerja kepada awak media ini.

Pada kesempatan yang sama, awak media Wajah Batam juga menerima informasi bahwa khususnya masalah keamanan di bandara Hang Nadim tetap maksimal, namun keamanan menjelang lebaran kali ini lebih terfokus di pelabuhan-pelabuhan kapal laut, karena masyarakat Batam yang akan mudik tahun ini lebih cenderung memilih naik kapal laut. (TimWb)

43,671 kali dilihat, 98 kali dilihat hari ini

Lanjutkan Membaca

Berita

Harga Kebutuhan Pokok Jelang Lebaran Cenderung Stabil

Diterbitkan

pada

Oleh

WAJAHBATAM.ID – 29/5/2019 | Kebutuhan pokok menjelang hari raya Idhul Fitri 1440 H di beberapa pasar kota Batam cenderung stabil tanpa ada kenaikan yang signifikan dibanding sebelum Ramadhan sebagaimana pantauan media Wajah Batam, rabu sore 16.00 WIB di salah satu Pasar yang berada di kecamatan Batam Kota, Kota Batam.

Lihat videonya ..!!

 

Dari pantauan tersebut, harga-harga kebutuhan pokok seperti daging ayam, daging sapi, cabe, sayur dan lainnya hanya sedikit naik dan bahkan ada yang turun hingga 3000 rupiah per kilonya menjelang lebaran ini.

Menurut pedagang yang dijumpai awak media ini, kisaran perbedaan harga ada yang naik antara 2.000 hingga 3.000 rupiah per kilo dan ada juga yang turun hingga 3.000 rupiah per kilo seperti daging kotak.

Kecenderungan stabilnya harga kebutuhan ini membuat masyarakat tidak begitu mempersoalkan biaya lainnya dalam menyambut lebaran tahun ini. (TimWb)

19,537 kali dilihat, 98 kali dilihat hari ini

Lanjutkan Membaca

Batam

Merasa Dibohongi Pelni dan PT. Inalum, Masyarakat Bakar Dokumen Keberangkatan

Diterbitkan

pada

Oleh

WAJAHBATAM.ID – 17/5/2019 | Harapan pulang kampung yang diharapkan masyarakat Batam hari ini Jumat (17/5) pupus karena masyarakat yang sudah mengumpulkan berkas sebelumnya dan dijanjikan pada hari ini pukul 09.00 WIB mendapat panggilan ternyata harus gigit jari dan pulang dengan tangan kosong setelah tahu mereka tidak mendapatkan tiket yang dinyatakan sudah habis.

Dengan kejadian ini masyarakat yang datang berbondong-bondong merasa dibohongi oleh oknum Pelni dan PT. Inalum, demikian disampaikan Sabarudin salah satu aktifis yang juga hadir untuk mengambil tiket yang dijanjikan tersebut karena telah merasa mengumpulkan berkas-berkas berupa KTP dan KK sebelumnya.

“Kantor pelni Sekupang tahun sebelumnya lancar tahun ini ada unsur KKN masyarakat disuruh pulang bagi yyg sudah kumpulkan berkas disuruh besok datang hari Jumat jam 9 tinggal ambil tiket seperti tahun lalu tiba tiba Jumat datang tiket sudah habis di bagikan ini namanya pembohongan atau penipuan terhadap masyarakat, Masyarakat yg mau mudik dgn tiket gratis dari PT. Inalum akhirnya kecewa dengan membakar foto copij KTP dan KK akibat pembagian tiket tidak jelas dan adanya unsur KKN dgn panitia” demikian Sabarudin menyampaikan hal ini kepada Wajah Batam via WhatsApp siang ini. (shd)

60,331 kali dilihat, 98 kali dilihat hari ini

Lanjutkan Membaca

Trending