Terhubung dengan kami

Batam

Dosen S2 Bergaji 1,7 Juta Dipecat UNIBA Dan Harus Tebus Ijazah 120 Juta

Diterbitkan

pada

WAJAHBATAM.ID | BATAM  – UNIBA (Universitas Batam) yang bernaung dalam Yayasan Griya Husada minta tebusan 120 Juta Untuk Ijazah S2 Zahara Fatimah yang dipecat setelah 7 Tahun mengabdi dengan gaji 1,7 juta perbulan.
Hal ini terungkap dalam persidangan gugatan Zahara Fatimah karena ijazahnya ditahan pihak kampus dalam perkara nomor 175/Pdt.G/VII.PN.Btm di Pengadilan Negeri Batam yang dikawal AlHeRa & Associates sebagai kuasa hukumnya.
Berikut kronologis kasus ini sebagaimana yang dirilis untuk WAJAH BATAM.
Kronologis :
Saya bekerja di Uniba (Yayasan Griya Husada) April 2009 dengan gaji Rp. 1.776.000,- dan possisi staff Kemahasiswaan, di Agustus 2009 saya ditawarkan kuliah S2 Akuntansi. Kebetulan saya jurusan Manajemen/Ekonomi dan memang berminat di Akuntasi jadi saya terima, (disinilah sebenarnya awal ada orang yg sangat membenci dan mulai berusaha memfitnah saya karena tidak terima saya yang baru saja dipekerjakan sudah ditawarin kuliah S2). Dengan Syarat setelah selesai kuliah wajib mengabdi selama 3n+1 (7 thn) dan jika melanggar wajib membayar 3x lipat biaya kuliah yang keluarkan oleh Yayasan Griya Husada yaitu Rp. 120 jt
Setelah Wisuda S2 Agustus 2011, saya berharap segera memiliki NIDN agar saya bisa mengajar dengan nama sendiri, tapi semua itu tidak pernah saya dapatkan, karena saya terus berusaha mendapatkan NIDN itu malah ditahun 2014 saya dimutasikan jadi staff perpustakaan dan saya terus berusaha dengan segala cara, bahkan mengajarpun saya tidak diijinkan lagi, Sayapun tidak tahu apa dan dimana letak permasalahannya hingga saya malu sampai harus mendengar pendapat kalau saya dikuliahkan hanya untuk memenuhi quota kelas dan tidak layak untuk mengajar.
Terus di Agustus 2015 saya diindahkan lagi jadi staff pengajaran masuk malam yang tidak mempunyai jobdish apa-apa, sehingga saya seperti sudah tidak mempunyai harapan dan harga diri lagi hingga saya mencoba mengajar di kampus lain tapi diluar jam kerja Uniba, agar saya bisa memiliki NIDN dan mendapat tambahan karena dari 2009 selama 3 tahun gaji tidak pernah naik dan sejak tahun 2014 gaji saya dibawah UMK.
Sejak saya memiliki NIDN saya seperti mempunyai harga diri lagi, rata-rata karyawan Uniba sudah mulai menghargai saya lagi, dan Alhamdulillah pada Januari 2016 dipercaya memegang jabatan sebagai Pengawas Tata Ruang & Kebersihan tapi saat itu saya memberitahu kalau sudah mengajar dikampus lain karena begitu banyak polemik disini untuk menjadi Dosen dan saat itu Warek 2 malah mengatakan tidak capek, “kalau kamu merasa disana lebih baik saya akan mengusahakan ijazah kamu dikeluarkan, saya orangnya lebih memperhatikan kesejahteraan karyawan”.
Jadi saya begitu bersemangat tapi kebahagiaan itu tidak lama, pada November 2017 saya dikatakan melakukan kesalahan karena mempunyai NIDN di Kampus lain, karena ada kejadian itu saya harus mengundurkan diri, menebus ijazah S2 saya dan dinonjobkan
Karena saya tidak mau mengundurkan diri, tanpa pemberitahuan apapun pd januari 2018 saya mengetahui bahwa saya tidak menerima gaji dan Saya mempertanyakan gaji tapi tidak ada jawaban.
Karena tidak ada jawaban saya menyuratin Pimpinan Yayasan Griya Husada bukannya jawaban gaji yang saya dapatkan malah saya di PHK
Karena di PHK, saya pertanyakan Gaji yg belum saya terima, ijazah dan pesangon saya, jawabannya tidak ada dan ijazah tetap harus ditebus.
Segala upaya hukum sudah saya jalani tapi tidak ada tanggapan dari Uniba dan kini kasus saya sudah PN Batam karena mendapatkan dampingan bantuan hukum dari Alhera & Associates Advocat & Legal Consultan secara gratis. Sidang pertama telah berlangsung pd 17 Juli 2018 jam 09 wib tapi pihak Yayasan Griya Husada/Uniba tidak hadir.
Di tahun 2016 bulan Februari saya diwakilkan menjadi operator Vicon (Video Confren) dan mendapatkan honor dari MK melalui rekening Yayasan tapi honor tersebut tadak pernah saya terima.
Selama 3 tahun terakhir THR yang saya dapatkanpun dibawah gaji saya merasa memang dibuat tertekan sampai segitunya tapi saya harus bertahan karena saya dalam masa mengabdi, demikian rilis kronologis yang dikirim ke WA Allan Suharsad sebagai Pimpinan WAJAH BATAM. (wb212)
Berita Terkait : Sidang Perdana Dosen UNIBA Yang Dipecat

1,344 kali dilihat, 5 kali dilihat hari ini

Iklan
2 Komentar

1 Komentar

  1. Pingback: » Wajah Batam

  2. Pingback: Zaharafatimah, SE,M.Ak Menangkan Gugatan VS UNIBA » Wajah Batam

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Batam

Mobil Mewah “Bodong” Menghilang Dari Jalanan

Diterbitkan

pada

Oleh

Laporan Cak Ta’in Komari, SS.
Kontributor Wajah Batam; Ketua Presidium Kelompok Diskusi Anti 86

WAJAHBTAM.ID – 19/4/2019 | Sejenak kita rehat dari hiruk pikuk politik yang baru saja kita laksanakan 17 April 2019 lalu. Hasilnya semua pihak sudah memiliki gambaran dari perkembangan rekapitulasi data C1 semua TPS. Kita tunggu saja hasil resmi dari KPU nanti melalui hitungan real count digital maupun manual.

Ini kisah mobil mewah ‘bodong’ yang dua tahun belakangan ini marak kembali berkeliaran di jalanan kota Batam, namun tiba-tiba ‘menghilang’ setelah berita di WajahBatam.id menjadi viral. Berita pertama “Mobil Mewah ‘bodong’ Merugikan Negara” sudah tembus 100 ribu pembaca. Begitu juga dengan berita pengembangannya yang sudah mendekati angka 100 ribu pembaca juga. Hari-hari yang biasanya, mata kita dengan mudah menemukan mobil mewah di jalanan, kini tidak terlihat lagi pemandangan tersebut. Hanya ada satu dua unit yang parkir di pujasera atau kopitiam maupun melintas di jalan.

Mobil mewah ‘bodong’ itu kabarnya pada dikandangi para pemiliknya di garasi mobil masing-masing karena takut menjadi sorotan public. Keberadaannya memang sangat mencolok karena mobil-mobil mewah tersebut memang tampak istimewa dan sangat menarik pandangan setiap orang yang menemuinya. Mobil-mobil mewah ‘bodong’ yang menikmati jalanan yang dibangun dari uang pajak dan retribusi rakyat tanpa ikut serta itu sementara disembunyikan para pemiliknya.

Beberapa tahun lalu, sekira tahun 2015, kasus mobil mewah ‘bodong’ ini pernah mencuat dan heboh karena tanpa apa pemberitaan tapi Tim Bareskrim Mabes Polri turun ke Kota Batam. Mobil-mobil mewah ‘bodong’ itu dijemput aparat ke rumah-rumah pemiliknya dan dikumpulkan di Mapolda Kepri Batu Besar. Selama mobil-mobil itu dalam proses penyidikan aparat, para pemilik hanya diijinkan datang menghidupkan mesin agar mesin tidak rusak. Sayangnya memang penanganan kasusnya tidak tuntas sehingga tidaki tahu kisah akhirnya seperti apa?

Padahal menelusurinya jelas mudah saja, dimulai dari pemberian kuota impor oleh Menteri Perdagangan (bisa BP Batam) itupun kalau ada – mengalir ke dealer-dealer mobil mewah atau broker-broker (calo) penjual mobil mewah ‘bodong’. Anehnya mobil-mobil tersebut saat ini juga sudah tidak nampak ada di Batam, bahkan lebih mudah ditemukan di Jakarta, Bandung bahkan Surabaya.

Laporan sebelumnya:

Mobil Mewah ‘Diselundupkan’ Keluar Batam

Pulau Batam yang terbuka dan banyaknya pelabuhan tikus dijadikan alibi aparat dalam menangani kasus penyelundupan mobil ke Batam. Padahal barang itu nampak jelas, bukan barang elektronik yang gampang disembunyikan. Memasukan mobil puluhan tentu perlu gudang yang sangat besar untuk menyimpannya, sebelum mobil dibawa ke bengkel untuk dilakukan rekondisi agar mobil terlihat se0perti baru ketika dipajang di showroom.

Belakangan masuknya mobil mewah ‘bodong’ bukan hanya melalui pelabuhan tikus tapi melalui pelabuhan resmi dengan menggunakan container. Persoalan dasarnya adalah bagaimana pemeriksaan barang tersebut di pelabuhan oleh aparat Bea dan Cukai sehingga dengan mudah lolos hingga beredar bebas di jalanan, tanpa ada penindakan hukum sama sekali.

Anehnya juga meskipun berita soal mobil mewah ‘bodong’ ini viral, tidak ada sinyal bagi aparat penegak hukum atau pemerintah untuk menindaklanjuti. Keberadaan mobil mewah ‘bodong’ yang memanfaatkan jalanan umum tanpa terdaftar di Samsat dan Pembayar pajak di Dispenda – jelas telah merugikan pemerintah maupun masyarakat yang lain. Di mana kendaraan lainnya membayar pajak, sementara mobil mewah ‘bodong’ yang punya justru orang-orang yang banyak duit, yang semestinya tidak menjadi penilap pajak. Mobil mewah ‘bodong’ itu hanya menghilang sementara – karena mereka tidak mungkin menyimpan seterusnya, pasti juga pemiliknya ingin menikmati kenyamanan fasilitas mobil mewah tersebut.

Memang situasi politik pra dan pasca pemilu tentu membuat semua pihak terkonsentrasi ke sana, termasuk aparat keamanan. Tapi apapun kondisinya persoalan mobil mewah ‘bodong’ ini harus mendapatkan tindakan hukum secara nyata dan tegas, baik itu importer, dealer maupun pengguna. Mereka jelas-jelas telah melakukan pelanggaran hukum dan perundangan, minimal menilap pajak – menggunakan mobil selundupan, melakukan jual beli barang tidak legal ; semua itu masuk kategori pelanggaran hukum dan perbuatan melawan hukum. Jadi perlu tindakan hukum yang serius agar persoalan ini tidak terus terulang. TUMAN…!

To be continue

Foto: tweeter

68,926 kali dilihat, 87 kali dilihat hari ini

Lanjutkan Membaca

Batam

Christiaan Snouck Hurgronje: Orientalis Belanda Yang Sukses Hancurkan Serambi Mekkah

Diterbitkan

pada

Oleh

Wikipedia.org – Christiaan Snouck Hurgronje (lahir di Tholen, Oosterhout8 Februari 1857 – meninggal di Leiden26 Juni 1936 pada umur 79 tahun) adalah seorang sarjana Belanda budaya Oriental dan bahasa serta Penasehat Urusan Pribumi untuk pemerintah kolonial Hindia Belanda (sekarang Indonesia).

Christiaan Snouck Hurgronje
Dutch scholar Snouck Hurgronje.

Dutch scholar Snouck Hurgronje.
Lahir 8 Februari 1857
OosterhoutBelanda
Meninggal 26 Juni 1936
LeidenBelanda
Pekerjaan Profesor, penulis, mata-mata, penasihat kolonial.
Kebangsaan Belanda
“Snouck Hurgronje” beralih ke halaman ini. Untuk keluarga, lihatSnouck Hurgronje (keluarga)

Lahir di Oosterhout pada tahun 1857, ia menjadi mahasiswa teologi di Universitas Leiden pada tahun 1874. Ia menerima gelar doktor di Leiden pada tahun 1880 dengan disertasinya ‘Het Mekkaansche feest’ (“Perayaan Mekah”). Ia menjadi profesor di Sekolah Pegawai Kolonial Sipil Leiden pada 1881.

Snouck, yang fasih berbahasa Arab, melalui mediasi dengan gubernur Ottoman di Jeddah, menjalani pemeriksaan oleh delegasi ulama dari Mekkah pada tahun 1884 sebelum masuk. Setelah berhasil menyelesaikan pemeriksaan diizinkan untuk memulai ziarah ke kota suci muslim Mekkah pada 1885. Di Mekkah, keramahannya dan naluri intelektualnya membuat para ulama tak segan membimbingnya. Dia adalah salah satu sarjana budaya Oriental Barat pertama yang melakukannya.

Sebagai wisatawan perintis, ia adalah orang langka asal Barat yang berada di Mekkah, tetapi memeluk budaya dan agama dengan penuh gairah sehingga ia berhasil membuat kesan kepada orang-orang bahwa ia masuk Islam.[1] Dia mengaku berpura-pura menjadi Muslim seperti yang ia jelaskan dalam surat yang dikirim ke teman kuliahnya, Carl Bezold pada 18 Februari 1886 yang kini diarsipkan di Perpustakaan Universitas Heidelberg.[2][3]

Pada tahun 1889 ia menjadi profesor Melayu di Universitas Leiden dan penasehat resmi kepada pemerintah Belanda untuk urusan kolonial. Dia menulis lebih dari 1.400 makalah tentang situasi di Aceh dan posisi Islam di Hindia Belanda, serta pada layanan sipil kolonial dan nasionalisme.

Sebagai penasehat J.B. van Heutsz, ia mengambil peran aktif dalam bagian akhir (1898-1905) Perang Aceh (1873-1913). Ia menggunakan pengetahuannya tentang budaya Islam untuk merancang strategi yang secara signifikan membantu menghancurkan perlawanan dari penduduk Aceh dan memberlakukan kekuasaan kolonial Belanda pada mereka, mengakhiri perang 40 tahun dengan perkiraan korban sekitar 50.000 dan 100.000 penduduk tewas dan sekitar satu juta terluka.

Kesuksesannya dalam Perang Acehmemberinya kekuasaan dalam membentuk kebijakan pemerintahan kolonial sepanjang sisa keberadannya di Hindia Belanda, namun seiring dengan sarannya yang kurang diimplementasikan, ia memutuskan kembali ke Belanda pada 1906 Kembali di Belanda Snouck melanjutkan karier akademis yang sukses.

Sumber: Wikipedia.org

62,355 kali dilihat, 90 kali dilihat hari ini

Lanjutkan Membaca

Batam

Oknum RT dan Petugas PKH Intervensi Warga Untuk Berpihak Pilih Caleg Nya

Diterbitkan

pada

Oleh

WAJAHBATAM.ID – 16/4/2019 | Belasan mak-mak warga Baloi Kota Batam mendatangi kantor DPC Partai Persatuan Pembangunan yang beralamat di Komplek Ruko Aku Tahu Sei. Panas malam tadi Senin, 15 April 2019 sekitar pukul 18.00 WIB menyampaikan keluhannya atas intervensi oknum RT dan PKH yang mereka alami.

Menurut keterangan warga bahwa mereka didatangi oleh oknum perangkat RT dan PKH yang menyampaikan bahwa warga harus memilih caleg-caleg dari partai Nasdem jika masih mau menerima bantuan PKH. Salah satu warga juga mengatakan bahwa diduga sudah ada nama warga yang dicoret dan tidak terdapat lagi namanya sebagai penerima bantuan.

Dalam pertemuan warga dengan pengurus PPP disinyalir ada indikasi tekanan dan intervensi yang mereka alami dan hal ini dibuktikan dengan kiriman SMS dari oknum perangkat RT ke salah satu warga dengan memerintahkan pilihan warga harus ke salah satu Partai peserta pemilu beserta seluruh caleg nya.

Berikut isi SMS via WhatsApp yang diterima warga:

Pengurus PPP dalam hal ini juga telah menghubungi pihak RT, PKH dan Lurah yang pada kesempatan itu berencana akan hadir di kantor PPP pada sore tersebut, tapi setelah ditunggu beberapa jam tidak ada konfirmasi lanjut akan kehadiran mereka.

Tonton video pengakuan warga !

Ketua DPC PPP Erizal T, SE. MM yang hadir setelah kedatangan warga tersebut mengatakan pada Wajah Batam bahwa pengaduan warga simpatisannya akan ditampung dan akan dilakukan kajian lebih lanjut “semwntara ini kita jadikan catatan penting dulu, karena kami lagi konsentrasi dalam persiapan pemilu yang tinggal 2 hari lagi” demikian ulasana Erizal T. (shd)

69,973 kali dilihat, 88 kali dilihat hari ini

Lanjutkan Membaca

Trending