Terhubung dengan kami

Batam

Reuni 212, Abu Janda, dan Khilafah di Indonesia

Diterbitkan

pada

Oleh : Anton Permana.

WAJAHBATAM.ID – Jakarta, 2/12/2019 | Hari ini tepat 2 Desember 2019. Dimana saat ini berhimpun dan berkumpul jutaan manusia di tugu Monas Jakarta. Tidak saja ummat muslim Indonesia yang berkumpul, terapi juga dihadiri ummat Islam dari luar negeri bahkan juga masyarakat non-muslim baik dalam dan luar negeri.

Hari ini mengingatkan kita tentang aksi 14 juta manusia yang berkumpul salam satu titik, satu semangat, satu sikap, satu komitmen tentang sebuah ketidak adilan atas perlakuan penistaan terhadap agama yang seharusnya dirawat dan dijaga oleh negeri ini.

Yang uniknya, jutaan manusia berkumpul ini penuh dengan kedamaian, penuh cinta dan kasih sayang, penuh rasa persudaraan yang luar biasa. Bayangkan, 14 juta manusia ini sama dengan separoh warga negeri jiran Malaysia. 3,5 kali warga Singapura, atau hampir sama dengan jumlah penduduk 5 negara di Eropah Timur. Namun, jutaan manusia dengan ‘dress code’ berwarna putih ini berkumpul tanpa ada rumput yang terinjak, bunga taman yang rusak, atau sampah yang tercecer layaknya konser atau pesta kembang api di tahun baru. Semua kembali clean and clear alias kinclong.

Tak ada aura kemarahan. Semua wajah ramah dan bahagia. Makanan gratis serta minuman tak terhitung gratis untuk semua yang hadir. Semua seakan berlomba, memperlihatkan inilah wajah asli kedamaian bangsa Indonesia. Inilah wajah sejatinya ummat Islam (mewakili dunia) sebenarnya. Sangat jauh dari segala fitnah stigma negatif, serta propaganda busuk para buzzer dan media tentang wajah Islam yang bengis, anarkis, radikal, dan penuh kekerasan.

Semua stigma dan fitnah sejak saat itu rontok bak bangunan tua yang rapuh. Segala fitnah keji terhadap ajaran Islam yang suci berbalik menjadi jutaan simpati. Sampai akhirnya, sebuah organisasi dunia bernama ‘the world peace of community’ yang beranggotakan 202 negara ini menjadikan tanggal 2 Desember atau populer disebut dengan 212 sebagai hari persaudaraan atau hari ukuwah sedunia.

Tidak saja hanya sampai di situ. Seiring waktu berjalan, fakta demi fakta terjadi semakin membuka mata publik dunia. Kejadian pembantaian oleh warga papua terhadap warga non-papua yang sadis dan biadab di Wamena, serta ingin merdeka melepaskan diri dari NKRI, menjadi ‘bomb’ fakta yang tidak terelakkan. Insiden anarkisme aparat dalam penanganan demo 21-23 Mei pasca Pilpres yang lalu juga menjadi fakta yang tak terbantahkan. Hingga tewasnya 700 petugas KPU masa Pilpres menjadikan objektifitas pikiran rakyat semakin terbuka. Bahwa siapa sebenarnya yang bengis di negeri ini ? Siapa sebenarnya yang radikal di negeri ini ? Kelompok mana sebenarnya yang anti toleransi dan anti NKRI di negeri ini ?

Tidak hanya itu. Pernyataan artis Agnes Mo yang tidak mengakui keturunan darah Indonesia plus kejadian dua siswa penganut Yehua yang tidak mau hormat pada bendera karena keyakinannya juga meluluh lantak kan segala stigma tentang image buruk Islam yang selalu di sudutkan dengan narasi radikal, intoleran, atau anti Pancasila.

Jadi menurut penulis, sangat wajar momentum 212 yang kembali bergelegar di laksanakan hari ini di tugu monas Jakarta memberikan arti, spirit, dan sebuah pesan holistik yang monumental bagi rakyat Indonesia khususnya yang paham akan arti sebuah nilai persaudaraan dan kebangsaan.

Tak mesti dengki, tak mesti iri, atau juga tak mesti sampai kejang-kejang kepanasan melihat jutaan rakyat Indonesia berkumpul dengan penuh cita rasa cinta hari ini.

Sebuah apresiasi besar patut kita berikan kepada Kapolri saat ini. Yang telah ikut mengawal dan tidak mempermasalahkan seperti tahun sebelumnya. Serta para Menteri kabinet jilid dua saat ini yang mulai ‘tahu diri’ dan mulai belajar hemat ujaran provokasi terhadap ummat Islam.

Lalu bagaimana dengan Abu Janda sesuai dengan judul di atas ? Penulis sebenarnya sengaja menyebutkan nama sosok Abu Janda (atau apalah nama aslinya) ini sebagai bentuk analogi gambaran nyata yang sederhana, bagaimana sebuah kekuatan ‘invisible hand’ yang sangat tidak ingin bangsa ini hidup dengan aman dan damai.

Abu Janda adalah representasi sebuah narasi global yang begitu berkepentingan tidak ingin bangsa Indonesia hidup tenang dan kemudian dapat berpikir jernih dan positif. Abu Janda adalah gambaran nyata dari sebuah kerapuhan mental spritual, sentimen, serta kepanikan membabu buta. Kenapa demikian ? Karena kalau rakyat ini hidup tenang dan damai, maka suasana kondusif ini akan dapat melahirkan sebuah aura positif yang konstruktif. Aura kedamaian dan stabil dari sebuah bangsa akan cepat melahirkan sebuah ‘quantum’ lompatan kemajuan berpikir, bertindak dari sebuah bangsa. Tetapi kalau sebuah bangsa selalu rusuh, bertengkar di sibuk kan dengan berita negatif, isu sentimentil provokasi dan narasi kebencian (adu domba antar sesama) ala Abu Janda ini kapan rakyat akan berpikir positif ? Kapan rakyat akan bersatu padu untuk bangkit ?

Nah semua ini sangat dipahami oleh kekuatan global ituterhadap bangsa Indonesia. Dikarenakan Islam adalah mayoritas di negeri ini, apalagi Islam juga adalah musuh ideologis kekuatan global ini, maka Islam akan selalu jadi sasaran empuk mereka melalui tangan kekuasaan yang mereka miliki. Karena mereka sangat tak ingin Islam masuk dan berada dalam pusaran kekuasaan walau satu titik pun. Ini sangat membahayakan agenda mereka untuk terus menguasai dunia.

Lalu muncul pertanyaan, bahwa para pemimpin di negeri ini adalah juga beragama Islam ? Jawabannya iya. Tetapi silahkan nilai sendiri tentang sikap, pemahaman, dan keberpihakannya terhadap Islam. Dan disinilah piawainya kekuatan global saat ini dalam memecah belah, mencuci otak ummat Islam sehingga berpecah belah.

Dan tidak tertutup kemungkinan dari semua itu ada yg secara tak sengaja menjadi ‘agent’ atau kaderisasi hasil cuci otak dan penokohan melalui kekuasaan mereka. Dalam sistem pertempuran operasi inteligent seperti ini lazim terjadi salam sebuah kompetisi geopolitik dan geostrategi antar negara di dunia.

Menurut penulis, setiap saat akan selalu diciptakan narasi ala si Abu Janda terhadap bangsa ini. Yang membedakan hanya kelas perannya saja. Ada yang type Abu Janda kelas kaki lima berupa menolak ceramah agama atau bakar bendera tauhid. Ada yang kelas menengah dengan olok-olok ajaran agama atau symbol Islam melalui buzzer bayaran di sosial media. Dan ada juga kelas elit Istana, yang menyerang Islam melalui kebijakan, komentar, aturan regulasi yang mengkoptasi seakan mau menjadikan agama sebagai musuh negara.

Setelah narasi bom panci, bom termos, bom bawa ktp dan kk sudah basi dan tidak direspon publik lagi. Sepertinya, kubu pembenci Islam ini perlu berpikir keras bagaimana menciptakan strategi narasi baru agar tetap eksis dan dapat supplay logistik kehidupan memanfaatkan momentum. Apakah itu berupa uang, fasilitas dan jabatan.

Selanjutnya bagaimana dengan isu Khilafah ? Penulis sedari dulu sering menyuarakan agar terminologi Khilafah, radikal, terorisme, intoleransi, ini mesti di tuntaskan makna dan pengertiannya. Agar kita semua mempunyai pemahaman yang sama.

Tetapi penulis melihat, seolah ada semacam kekuatan besar yang memang sengaja terminologi kata di atas dibuat tetap mengambang dan berada di wilayah abu-abu tetapi secara kasat mata menyasar hanya kepada kelompok tertentu saja yaitu Islam.

Ketika yang melakukan tindak kekerasan bahkan kebiadaban itu bukan Islam, tak ada istilah radikal ini digunakan. Ketika pelarangan cadar, celana cingkrang digaungkan tidak ada bahasa intoleransi disebutkan. Padahal ini jelas sebuah bentuk arogansi supra intoleransi yang dilakukan terhadap ibadah ummat Islam. Karena cadar dan celana cingkrang adalah bahagian dari pelaksanaan ibadah yang dijamin konstitusi negeri ini (pasal 29 (ayat) 2 UUD 1945).

Begitu juga dengan konsep khilafah. Ketika konsep ini dianggap berbahaya bagi ideologi negara ? Bahagian mana yang berbahaya bagi negara ? Dan konstitusi atau aturan mana yang bertentangan dengan khilafah ? Dan kalau di larang, apa dasar hukumnya ? Seperti pelarangan komunis yang tegas dan jelas dalam TAP MPR nomor XXV dan UU no 27 tahun 1999.

Kalau ada ketakutan khilafah akan dijadikan ideologi negara, juga mesti di jelaskan siapa yang akan berani melakukan itu ? Partai politik apa ? Kekuatan militer mana ? Karena, hanya dua cara untuk merubah ideologi negara ini. Yaitu, pertama melalui jalur politik (menguasai lebih separo kursi parlemen) atau melalui kudeta militer (perang).

Nah sekarang mari kita bahas. Kalau lah HTI, FPI, atau kelompok 212 di tuduhkan akan mengganti ideologi negara melalui apa ? Kalau melalui politik jelas mereka bukan lah partai politik. Jangankan itu, partai politik Islam yang sudah masuk parlemen saja masih sangat jauh kalah suara dari partai nasionalis.

Selanjutnya melalui militer ? Ini sungguh tak mungkin. Mereka tidak punya tentara apalagi senjata yang bisa melawan TNI-Polri ? Artinya. Cukup sudah dan hentikan narasi-narasi halusinasi paranoid yang selalu di bangun untuk menyudutkan Islam. Stop segala upaya agenda membangun narasi ketakutan dan kebencian terhadap Islam alias program Islamphobia.

Nah kalau sudah berbicara tentang agenda Islamphobia, berarti ini sudah masuh kompetisi theologis antar agama dan kepentingan politik. Kalau ini sudah kompetisi atau pertarungan ideologi, berarti negara jangan ikut latah dong. Karena untuk menyikapi ini para funding father kita sudah menyiapkan solusinya yaitu melalui software Pancasila dan UUD 1945. Jangan di rusak lagi tatanan yang sudah ada dengan norma sesat orderan politik kekuasaan sesaat.

Bangsa ini butuh narasi baru, energi baru yang positif dan besar agar bisa keluar dari tepian jurang resesi parah yang semakin dekat menghampiri. Agama Islam bersama ummatnya adalah aset utama bangsa Indonesia untuk bangkit. Bukan malah mau di habisi. Ini jelas seperti infiltrasi paparan ideologi komunis di China. VOC, Portugis dan Jepang saja ketika menjajah nusantara ini tidak begitu lancang mengacak-ngacak kehidupan beragama rakyat ketika itu. Karena pasti akan melahirkan perlawanan rakyat. Dan para penjajah sadar akan itu. Lalu bagaimana dengan pemerintah kita hari ini ? Aneh kan ? Siapa sebenarnya yang jadi duri dalam daging dan musuh negara ?

Untuk itu, mari kita kembalikan kehidupan berbangsa dan bernegara ini sesuai dengan falsafah kehidupan bangsa kita yakni Pancasila dan UUD 1945.

Mari kita berpikir jernih dan objectif. Buang segala rasa kedengkian dan kebencian terhadap Islam. Terima Islam sebagai ummat mayoritas di negeri ini dengan lapang dada. Kalau konsep khilafah dilarang ? Apa dasar konstitusinya. Semua harus terbuka dan adil. Khilafah itu menurut pemahaman penulis, adalah sebuah konsep kepemimpinan kolektif ummat Islam sedunia yang satu Tuhan, satu kitab suci, satu Nabi, satu kiblat, satu nilai, dan satu payung panji perlindungan persaudaraan sesama ummat Islam. Sebagaimana pernah diterapkan para pendahulu ummat Islam yang menjadikan Islam berjaya sebagai sebuah kekuatan imperium besar selama hampir satu milenium (1000 tahun) lamanya. Sejak mulai dari zaman Nabi, Khalifah Urrasyidin, Abbasiyah, Ummayah, dan terakhir Utsmani Turkey. Apakah ini salah ?

Dan penulis melihat. Akan sangat berlebihan apabila ummat Islam itu sendiri ikut-ikutan anti konsepsi khilafah tanpa terlebih dahulu memahami esensi sebenarnya. Dan untuk itulah, penulis berharap pemerintah dalam hal ini membuka seluas-luasnya diskusi ini secara ilmiah dan objectif. Bukan malah meresponnya dengan bahasa kekerasan dan kekuasaan tanpa tahu akan substansi permasalahan

Kalau khilafah ini dilarang ? Mengapa kita juga tidak melarang konsep Vatikan yang juga menggunakan konsepsi keummatan katolik yang hampir serupa di Indonesia ? Kalau khilafah ini tidak boleh ? Kenapa konsepsi barat seperti kapitalisme, sekulerisme, dan liberalisme begitu tumbuh subur di Indonesia. Padahal sudah sangat jelas, sekulerisme (memisahkan kehidupan dengan agama) sangat bertentangan dengan Pancasila sila pertama KeTuhanan yang Maha Esa ? Karena negara ini berdasar nilai keTuhanan atau bahasa lain dari nilai agama (keTuhanan) ?

Jadi kalau jujur kita lihat. Ini semua hanyalah ketakutan yang di paksa-paksakan dengan isu khilafah. Yang mereka takutkan dan benci itu sebenarnya adalah kebangkitan Islam yang saat ini begitu luar biasa di dunia. Di eropah rata-rata 1000 – 2000 orang masuk Islam tiap hari. Di Inggris hukum waris Islam di jadikan dasar hukum kerajaan. Masjid-masjid pun semakin tumbuh subur di Rusia, Jerman, Belanda, Prancis, dan lainnya.

Begitu juga ketika ada berbagai narasi kebencian mengkaitkan Islam secara sempit dengan bangsa Arab dan budaya berpakaian lainnya.

Seperti contoh. Kalau lah fakta sejarah bangsa ini dijajah, ditindas, ratusan tahun oleh bangsa Eropah dan Jepang ? Kenapa yang selalu setiap saat dibenci adalah bangsa Arab ?

Kalaulah pakai rok mini, rambut merah, serta operasi plastik wajah adalah modis dan bahagian privasi kehidupan ? Kenapa ketika ummat Islam memakai cadar dan bercelana cingkrang dipermasalahkan ?

Ketika rakyat boleh kumpul dengan konsep hura-hura pada tahun baru plus sampah berserakan, kenapa ummat Islam berkumpul hari ini dalam memperingati maulud Nabi Muhammad SAW dan reuni di permasalahkan ?

Banyak lagi sebenarnya narasi dan fakta ketidak adilan yang terjadi di negeri ini khususnya terhadap ummat Islam. Jadi sangat wajar, bentuk perlakuan ketidak adilan yang kasat mata ini di respon secara gegap gempita oleh ummat melalui aksi 212 hari ini.

Aksi dan reuni 212 hari ini adalah bentuk sebuah perlawanan masyarakat kelas civil society Indonesia hari ini. Karena terbukti di lakukan secara tertib, aman, dan penuh kehangatan. Dan semua ini tentu hanya bisa di lakukan oleh kelas (strata) masyarakat berperadaban tinggi. Dimana itulah sejatinya out put wajah Islam yang damai itu sebenarnya.

Dan semoga momentum ini terus berlanjut, sebagai sebuah spirit kebangkitan ummat Islam di dunia yang bermula dari Indonesia.

Sebagai bangsa Indonesia, tentu juga hal ini adalah sebuah nilai positif dan baik bagi kestabilan dan harmonisasi kehidupan bangsa kita. Dengan catatan, selagi dimaknai dan tidak keluar dari konsensus dasar berdirinya negara Indonesia yakni Pancasila, UUD 1945, Bhineka Tunggal Ika, dan NKRI harga mati. InsyaAllah.

Yogyakarta, 2 Desember 2019.

(Penulis adalah alumni PPRA 58 Lemhannas RI Tahun 2018).

Facebook Comments

Iklan
Klik untuk komentar

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Batam

RUU Omnibus Law Disebut UU Cilaka

Diterbitkan

pada

Oleh

WAJAHBATAM.ID – 21/1/2020 | RUU Omnibus Law yang dianggap serikat pekerja kota Batam adalah sebagai aturan yang mengekang dan menjajah masyarakat pekerja memicu seluruh buruh di kota Batam menentang dengan menggelar aksi unjuk rasa yang diselenggarakan didepan kantor DPRD kota Batam. Berbagai organisasi dan federasi pekerja berkumpul di depan lapangan Welcome to Batam, Senin (20/1/2020).

Dari pantauan WAJAHBATAM.ID, masa pekerja mulai menuju dan berkumpul di jalan utama depan Dataran Engku Putri Batam Center, terlihat mengibarkan berbagai atribut bendera, baliho, brosur-brosur dari karton hingga mobil komando dari Federasi Buruh seluruh kota Batam.

Tonton Videonya

https://m.facebook.com/story.php?story_fbid=127845302043892&id=106080947553661

Dalam menyampaikan aspirasinya, masa buruh yang dipimpin oleh para orator diatas mobil komandonya menyatakan menolak dan mengecam keras RUU Omnibus Law yang terkesan menjadikan para pekerja sebagai budak perusahaan. Mereka mengatakan bahwa Omnibus Law adalah UU Cilaka.

Ketua Konfeserasi Perjuangan Buruh Indonesia, Mazmur Siahaan, SH meminta kepada pemerintah pusat melalui perwakilan rakyat di kota Batam agar pemerintah tidak mempersulit hidup dan masa depan masyarakat melalui RUU ini.

Beberapa saat sebelum aksi dimulai, Wakapolres Barelang juga terlihat memimpin gelar apel persiapan untuk pengawalan dan pengamanan aksi buruh itu dan berpesan agar aparat harus menjalankan tugas dengan benar dan harus mengikuti SOP yang sudah ditentukan, yang juga akan diminta pertanggungjawabannya dalam menjalankan tugasnya mengayomi masyarakat dengan baik.

Terlihat dalam aksi yang diselenggarakan di DPRD Batam bergabung beberapa organisasi seperti Federasi Perjuangan Buruh Indonesia (FPBI) kota Batam, Lem Serikat Buruh Sejahtera Indonesia (SBSI) kota Batam dan Federasi Serikat Pekerja Metal Indonesia (FSPMI) kota Batam. (Redaksi)

Facebook Comments

Lanjutkan Membaca

Batam

Forum Panti Asuhan Kota Batam mengadakan Rapat Kerja Perdana di Tahun 2020

Diterbitkan

pada

Oleh

WAJAHBATAM.ID – Batam (20/01), Forum Daerah Lembaga Kesejahteraan Sosial Anak – Panti Sosial Asuhan Anak (Forda LKSA-PSAA) mengadakan Rapat Kerja Daerah pada 20 Januari 2020 di STT Lintas Budaya, Bengkong, Batam.

Rakerda yang dihadiri oleh sekitar 50 orang kepala Panti Sosial Asuhan Anak mengambil tema “Sinergitas Program Kerja Dalam Mewujudkan LKSA Maju dan Terakreditasi”.

Melalui sambutannya Ketua Forda LKSA-PSAA Kota Batam, Jefri Medi SH., MH. mengajak seluruh LKSA/Panti Asuhan untuk bersatu dalam rangka mensejahterakan anak-anak di LKSA masing-masing, ”Mari kita bersatu dalam rangka mensejaterakan anak-anak di LKSA masing-masing, kita tuangkan unek-unek yang ada di pikiran kita apa yang harus kita lakukan secara nyata.”

Acara turut dihadiri oleh anggota DPRD Kota Batam, Atiq Sarwo Edi yang menanggapi anggaran untuk LKSA yang sampai saat ini belum ada anggaran khusus untuk LKSA/Panti Asuhan, “Semoga nanti mengetuk hati Pak Walikota kita sehingga nanti bisa dianggarkan, kalau bisa nanti minta di perubahan 2020,” tuturnya.

Sekretaris Forda LKSA- PSAA Kota Batam, Muhammad Nasir mengingatkan dan mengusulkan agar pengurus Forda dapat aktif agar program-program dapat berjalan, “Mari kita maksimalkan kerja dari para pengurus, yaitu dengan mengisi bidang kepengurusan yang masih kosong atau mengganti beberapa pengurus yang kurang aktif supaya bisa berjalan.”

Ada beberapa keputusan yang dihasilkan dari Rakerda ini antara lain:
1. Anggota Forda LKSA-PSAA Kota Batam saat ini ada 83 LKSA.
2. Pengadaan KTA sebagai identitas keanggotaan Forda LKSA-PSAA Kota Batam.
3. Mengisi formulir untuk semua LKSA yang bergabung dalam Forda LKSA-PSAA Kota Batam.
4. Membayar iuran anggota bulanan yang disepakati lima puluh ribu rupiah.
5. Rekomendasi dari Forda untuk LKSA yang akan memperpanjang atau akreditasi LKSA.
6. Mengusulkan agar masa berlaku izin LKSA menjadi 3 Tahun yang selama ini hanya 2 tahun, dan ini akan diperjuangkan oleh Forda.

Selain itu disepakati pula beberapa poin program kerja Forda LKSA kedepannya:
1. Forda akan melakukan pertemuan bulanan secara rutin yang berlokasi di LKSA secara bergantian sebagai ajang silaturahmi antar LKSA.
2. Pekan Olah Raga dan Seni (PORSENI) LKSA.
3. Kegiatan Camping antar LKSA.
4. Advokasi hukum untuk LKSA dengan membentuk Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Forda

Disepakati juga beberapa program pendanaan untuk Forda yaitu:
1. Pembayaran iuran anggota Forda LKSA-PSAA Kota Batam dibayarkan perbulan.
2. Rekomendasi Pemutihan Hutang Organisasi ASPAN yang merupakan Organisasi Forum Panti Asuhan sebelum terbentuknya Forda LKSA-PSAA Kota Batam.
3. Forda akan mengadakan kegiatan amal (charity).

Rapat kerja ditutup oleh pimpinan sidang, Pdt. Peringatan Zebua, MA, IE dan dilanjutkan dengan foto Bersama para anggota Forda LKSA-PSAA. (HAS)

Facebook Comments

Lanjutkan Membaca

Batam

Masyarakat Batam Kecewa “Batam Bersepeda” Diselenggarakan Pada Hari Kerja

Diterbitkan

pada

Oleh

WAJAHBATAM.ID – 20/1/2020 | Viralnya penolakan masyarakat dan para karyawan-karyawan perusahaan terhadap kegiatan Batam Bersepeda yang diselenggarakan pada hari kerja Senin, 20/1/2020 membuat sororan kepada Pemko Batam sangat negatif. Hal ini dilansir dari beberapa postingan di Media Sosial Wajah Batam pada hari tersebut.

Banyak juga kalangan aktifis, praktisi, politisi dan tokoh masyarakat menyesalkan kegiatan tersebut karena merasa Walikota Batam harusnya bijak atas kebutuhan masyarakat terhadap layanan publik yang pada hari tersebut terkendala.

Tonton Videonya

Sebagaimana dikutip dari tanggapan masyarakat dalam sebuah postingan video berdurasi 4.01 Menit yang disiarkan oleh Wajah Batam yang sudah berjalan 12 jam dan ditonton hampir 13.000 kali seperti dibawah ini:

Sraya Bustan : Buat KTP lama jadi
Orang pemerintah sibuk sepeda
Kata orang pemerintah : masa bodo sama masyarakat yang pentinf kita hidup sehat 😂🤣😂🤣

Rezki Sria Putra: Ini acara kelawatan, di adakan di jam berangkat kerja, banyak orang yg telat karena acara ini, knapa ga hari minggu saja, atau di jam yg bukan jam sibuk, lucu memang

Merry: Anak saya tidak masuk sekolah gara gara telat 😂😂cuman saya maklum aja Lah dibawa Happy saja tdi 😁

Hamzah M: siapa lah yang usul acara ini, macam ga ada hari lain aja.
bikin rusuh aja. minta maff dong sama masyrakat yang sudh terganggu

Andre: Menzolimi bnyak masyarakat..😂

Dari ratusan tanggapan masyarakat dengan dialeg yang beragam, hampir 100% yang menolak dan merasa kecewa dengan kegiatan tersebut. Dan berharap Walikota Batam kedepannya lebih bijak dalam melayani masyarakat, bukan dilayani, demikian tanggapan salah satu pegawai ASN yang tak ingin disebutkan namanya, juga heran kenapa mereka diharuskan hadir dalam acara ini, sementara ini adalah hari kerja dalam melayani masyarakat.

Dalam kesempatan yang sama, dalam kata sambutannya Walikota Batam H.M Rudi. SE mengatakan bahwa acara ibi bukanlag gagasannya, tapi juga mengatakan bahwa beliau sangat mendukung dalam menciptakan Batam sehat. (Redaksi)

Facebook Comments

Lanjutkan Membaca

Pasang Iklan Disini

Iklan

Komentar Facebook

Trending