Terhubung dengan kami

Nasional

Menakar Arah Konflik Laut Natuna

Diterbitkan

pada

Oleh : Anton Permana (Pengamat Pertahanan dan Sosial Politik, Alumni Lemhanas RI PPRA 58 tahun 2018)

WAJAHBATAM.ID – Jakarta, 8/1/2020 | Hingga hari ini, konflik dan perang isu tentang laut china selatan masih berjalan. TNI sebagai tulang punggung alat pertahanan sudah mengirimkan 5 kapal perang, satu pesawat patroli maritim, satu pesawat intai, dan empat pesawat tempur F 16 dari Lanud Pekanbaru. Tidak saja itu, 600 pasukan tambahan yg terdiri dari marinir, den paskhas Arhanud plus alutsista hanud (pertahanan udara) untuk menambah gelar kekuatan di pangkalan TNI Natuna. Tidak saja hanya sampai disitu, 500 kapal tradisional nelayan Indonesia juga dikerahkan untuk menghalau serta sekalian mengeksplorasi tangkapan ikan yang memang sedang melimpah di laut Natuna.

Secara diplomasi luar negeri, kita juga sama mendengar kementrian luar negeri sudah menyampaikan nota protes. Presiden Jokowi juga ikut melemparkan statemen keras bahwa laut natuna adalah teritorial dan kedaulatan NKRI sesuai dengan hukum laut internasional UNCLOS 1982.

Lalu bagaimana dengan respon China Tiongkok ? Apakah mereka bergeming ? Dan ternyata tidak. China Tiongkok (sebuah penyebutan nama atas China daratan hari ini yg berafiliasi komunis hasil kudeta Den Xioping), sama sekali tidak bergeming. China Tiongkok malah mengirimkan kapal induk terbarunya Shandong ke pangkalan militer buatan mereka di Kepulauan Spratly. Secara diplomasi pun, kementrian luar negeri China juga resmi menyatakan tidak terpengaruh atas apa saja upaya individu, organisasi, negara lain yang merugikan kepentingan China Tiongkok di Laut China Selatan. Bahkan, China Tiongkok kembali mengirimkan ratusan kapal nelayan tradisional mereka (yang di sinyalir adalah para tentara laut yg menyamar jadi nelayan) ke laut China selatan di bawah pengawalan ketat kapal coast guard China.

Tentu saja, kondisi ini semakin menaikkan tensi politik di Laut China Selatan atau Laut Natuna Utara. Kondisi ini juga semakin memanas karena Jepang juga tak mau kalah, dengan ‘show’ mengirimkan kapal destroyernya melakukan patroli maritim terbatas mengarah ke Laut China Selatan.

Lalu muncul pertanyaan. Apakah kondisi konflik ini akan bisa meningkat kepada konflik militer terbuka antara negara (China Vs Indonesia) ? Dan kalau ini terjadi, apakah Indonesia sanggup berhadapan dengan militer China yang saat ini digadang-gadang ranking dua dunia versi majalah Global Military Fire Power ?

Pertanyaan-pertanyaan ini awalnya tidak menarik perhatian penulis untuk meresponnya. Namun setelah penulis melihat, percakapan para netizen serta komentarnya yang mulai beragam tapi menjurus? Baru penulis merasa perlu ikut memberikan perbandingan informasi seimbang, agar masyarakat tidak mudah termakan ‘perang opini/propaganda’ media melalui proxy nya. Khususnya para proxy dan agen China Tiongkok. Untuk itu, izinkan penulis untuk merespon beberapa pertanyaan mendasar tentang kemana ‘sebenarnya’ arah konflik Laut China Selatan ini. Apakah konflik ini by design bermuatan politik ? Atau memang ‘pure’ bisa menjurus kepada perang terbuka ? Berikut penjelasannya.

ANALISIS SECARA POLITIK DAN EKONOMI

Secara logis. Di atas kertas penulis tetap memprediksi tidak mungkin China akan berani macam-macam terhadap Indonesia, apalagi kalau mau perang terbuka secara fisik/militer dengan Indonesia. Alasannya adalah :

1. Kalau kita jernih dan pintar membaca. China Tiongkok itu secara geo ekonomi dan geo politik sangat membutuhkan Indonesia. Bahkan kalau boleh dikatakan, China Tiongkok itu sangat bergantung kepada Indonesia. Dan Indonesia itu adalah masa depannya China. Namun, masyarakat kita dijejali dengan propaganda isu ‘hutang’ dan investasi begitu massive yg tidak seimbang. Sehingga lahirlah framing opini seolah Indonesia (secara negara bukan pemerintah) sangat tertekan oleh China karena hutang.

Padahal kalau kita lihat data statistik. Jumlah hutang Indonesia kepada China masih jauh di bawah hutang Indonesia kepada Amerika, Jepang, dan yang terbesar itu adalah kepada Singapore. Cuma kenapa propaganda hutang ini seolah membuat ‘mental’ bangsa Indonesia harus inferior dan merasa di bawah superioritas China ?

2. China Tiongkok itu berpenduduk 1,4 milyar terbesar di dunia. Dimana pertumbuhan ekonominya sangat bergantung kepada bergeraknya roda industri yang mesti terus berjalan agar masyarakatnya tetap bisa bekerja. Kondisi ini tentu akan menghasilkan dua konsekuensi besar yaitu : butuh market tempat menampung hasil produksi industri China, dan pasokan sumber daya energi dari luar China. Karena bahan baku sumber daya energi ini samgat terbatas. Kalau dua ini tidak terpenuhi maka industri China akan lumpuh yang pasti akan mengakibatkan pengangguran besar-besaran. Nah kalau ini terjadi, tentu akan menjadi bencana besar bagi ekonomi China. Ratusan juta rakyat China akan menjadi pengangguran dan menjadi bencana sosial yang bisa merontokkan ekonomi China.

Sedangkan, dua hal di atas China sangat bergantung pada Indonesia. Contohnya ; 42 persen pasokan energi China berupa gas dan batu bara berasal dari Indonesia. Kita bisa melihat bagaimana lalu lalang ratusan kapal tongkang hilir mudik Indonesia-China setiap harinya mengirimkan hasil kekayaan Indonesia. Ditambah lagi, saat ini China sedang investasi besar-besaran dalam infrstruktur teknologi society 5.0. Dimana material utama dari sistem ini adalah baterai lithium yang komponen utamanya berasal dari tambang nikel, tembaga, timah, yang hanya ada di Indonesia. Jadi sangat wajar China jor-joran tanam investasi di Indonesia seperti di Morowali, Nusa Tenggara dan Papua.

Begitu juga untuk yang kedua yaitu market. 270 juta rakyat Indonesia adalah pasar empuk bagi produk China tiongkok. Jutaan ton semen, baja, peralatan kebutuhan pembangunan di Indonesia, serta produksi fashion, peralatan teknologi, elektrical, adalah pasar utama China. Dengan dua alasan inilah menurut hemat penulis sangat tidak mungkin China ‘serius’ akan berani berperang terbuka dengan Indonesia.

3. China saat ini secara geopolitik dan geo ekonomi sedang terkepung oleh Amerika dan sekutunya. Secara ekonomi, perang dagang dengan Amerika terus berlangsung. Dan untuk hal ini boleh dikatakan China masih bisa mengimbangi AS bahkan berhasil bikin AS ‘kalimpasiang’ (panik).

Namun secara geo politik, mesti diakui AS masih jauh di atas pengaruh China. Isu pelanggaran HAM Uyghur, kerusuhan Hongkong, konflik Taiwan yang merdeka dari China, pencaplokan atas Tibet, membuat China makin ‘kalimpasiang’. Isu HAM Uyghur dan rusuh Hongkong telah mempelasah pamor China di mata dunia internasional. Sanksi internasionalpun menanti. Ditambah lagi, saat ini negara-negara Afrika yg sebelumnya manut sama China karena ‘debt trap obligation’ (jebakan hutang) seperti Angola, Zimbabwe, dan Pakistan sudah mulai berani melawan serta memutuskan kontrak investasi dengan China. Terakhir Malaysia, Thailand, dan Philipina yang juga mulai meninggalkan China.

Kondisi ini menjadikan China sangat membutuhkan teman aliansi seperti Indonesia. Negara Timur Tengah, Rusia, Eropah, bahkan Turkey yang sebelumnya menjadi mitra strategis China, saat ini akibat isu HAM Uyghur dan rusuh Hongkong banyak yang membekukan kerja samanya dengan China Tiongkok. Namun kondisi ini kurang terpublikasi di tanah air. Jadi akan sangat tidak mungkin China Tiongkok cari masalah dengan Indonesia. Adapun Rusia yg biasanya menjadi mitra strategis China namun yang perlu dicatat adalah ; hubungan dua negara ini hanya karena faktor mempunyai musuh yang sama yaitu Amerika. Bukan hubungan ideologis atau aliansi. Karena meskipun sesama beraliran sosialis-komunis, namun secara ideologi kenegaraan jauh berbeda. Rusia sosialis borjuis, China murni sosialis-komunis aliran Mao Tse Tung. Rusia masih menghormati adanya agama, China sangat anti akan agama apapun.

4. Mesti dipahami, skema hutang dan investasi China di Indonesia itu sangat rapuh. Karena secara yuridis formil banyak melanggar konstitusi dan aturan hukum Indonesia. Skema hutang China di Indonesia tidak berdasarkan UU yang di setujui DPR. Namun berdasarkan Peraturan Presiden. Artinya, apabila terjadi force major terhadap Indonesia seperti pemakzulan presiden, kudeta, bencana alam, perang’ atau presiden meninggal dunia maka hal ini akan menjadi masalah besar bagi China. Hutang terancam bisa tidak berkekuatan hukum.

Selanjutnya, skema proyek investasi China di Indonesia adalah infrastruktur transportasi pelabuhan secara turn key. Dimana sangat bergantung kepada pemakaian konsumtif aktifitas ekonomi rakyat Indonesia. Kalau terjadi perang, tentu akan sama saja dengan menghancurkan infrastruktur yang mereka bangun sendiri. Memghancurkan sumber uang yang mereka investasikan.

5. Penulis tetap menilai, isu konflik Laut China Selatan tetaplah ‘by design’ untuk mengalihkan isu-isu besar seperti ; kalau di China tentang pelanggaran HAM di Uyghur dan rusuh Hongkong. Di Indonesia untuk mengalihkan dari isu mega korupsi 13,7 trilyun di Jiwasraya. Kalau untuk konteks Indonesia, hal ini lazim terjadi bahkan ada organ industri produsen isunya untuk mengaburkan segala kerusakan dan kegagalan roda pemerintahan hari ini. Baik itu tentang janji-janji politik kampanye, maupun hutang, narkoba, dan banyak lagi lainnya.

Namun, sebagai negara berdaulat kita tentu juga tidak bisa anggap remeh provokasi China Tiongkok di Natuna. Sesuai dengan doktrin pertahanan dunia yang masyur ‘Civis Paccum Parabelleum’ (Ketika siap berdamai, maka bersiaplah untuk berperang).

Untuk itu penulis sangat mengapresiasi tindakan tegas TNI dan Bakamla dalam menyikapi pelanggaran kedaulatan wilayah oleh China di Laut Natuna. Apapun motif dan modusnya di balik itu. Jargon NKRI harga mati mesti diimplementasikan.

ANALISIS SECARA MILITER

Untuk menjawab perdebatan antara kemampuan militer antar dua negara apabila memang terjadi perang terbuka. Sebagai perimbangan maka penulis juga akan mencoba menjawabnya.

1. Kemungkinan untuk terjadi perang terbuka itu, namanya kita hidup berdampingan tentu ada kompetisi dan distorsi kepentingan. Cuma pertanyaannya, apakah itu perang dalam skala tertentu untuk tujuan tertentu, atau memang perang dalam skala terbuka secara fisik militer ?.

Perang dalam skala terbatas/tertentu maksud penulis adalah ; Kita bisa belajar kepada perang 6 hari antara Israel dengan negara-negara Arab pada tahun 1967 dan perang Yon Kipur I, II pada tahun 1970-1973. Dari catatan inteligent yang pernah dipublish oknum CIA pada tahun 2000, diberitahukan bahwa perang yang terjadi itu hanyalah perang basa-basi alias perang setengah hati antara Israel dengan para pemimpin negara Arab ketika itu. Dalam rangka membangun opini di dunia tentang kedigjayaan militer Israel bisa mengalahkan keroyokan negara Arab seperti ; Irak, Mesir, Suriah, Yordania, Arab Saudi, dan seterusnya. Padahal dibaliknya telah terjadi ‘main mata’ antara Israel dengan oknum pemimpin negara Arab tersebut hingga sekarang. Contohnya ; kalaulah memang Israel itu militernya hebat, toh sering kebobolan dan bulan-bulanan juga oleh perlawanan Hamas di Palestina yang hanya menggunakan senjata ala kadarnya. Begitu juga menghadapi Hizbullah di Lebanon Selatan. Dan kalaupun ada pemimpin negara Arab yg serius untuk memerangi dan menjadi ancaman Israel, secara perlahan pasti di habisi. Contohnya Raja Faisal Arab Sudi, Saddam Hussein Irak, dan Moammaf Khadafi di Libya.

Hal ini yang sedikit penulis tangkap ada arah kemungkinan bisa terjadi di Laut Natuna. Dibuat skenario perang terbatas, kemudian Natuna dibuat bisa direbut dengan mudah (seperti tanah tinggi golan oleh Israel), lalu kemudian deal dengan perjanjian-perjanjian yang menguntungkan China.

Hal ini sangat mungkin saja terjadi, melihat tabiat dan track record para oknum pejabat politik
di negeri ini. Untuk itu, penulis meminta kita semua dan mempelototi setiap statement komentar para elit politik yang mencla-mencle berpotensi menjadi pengkhianat bangsa.

2. Dalam perang militer, hitungan angka kuantitatif kemampuan militer kadang berbanding terbalik dengan realitas di medan pertempuran. Kita tidak menafikan kemampuan kuantitatif (secara angka) militer China yang berada di atas Indonesia. China saat ini untuk kemampuan lautnya saja memiliki dua kapal induk (satu siap tempur kapal induk Lioning dan satu lagi baru tahapan uji coba berlayar yaitu kapal induk shandong), 62 kapal selam, 8 destroyer, puluhan freegate dan juga mempunyai puluhan kapal perang berbagai jenis lainnya. Begitu juga dalam kekuatan udara. China punya ratusan pesawat tempur berbagai type. Mulai dari pesawat tempur generasi ke 4 (JF thunder, J 10, J 11) juga sudah menerbangkan varian pesawat tempur generasi ke 5 seperti J-20 yang mirip SU 57 Rusia. Belum lagi drone tempur dan drone pembomb yang acap kali dipamerkan dalam parade militernya.

Untuk kekuatan darat, China juga spektakuler. Selain punya senjata nuklir. China juga mempunyai rudal jelajah lintas benua, 2,7 tentara aktif, ribuan tank dan artileri. Jadi wajar kalau saat ini majalah Military Global Fire mematok China berada pada ranking 2 kekuatan militer dunia bersaing tipis dengan Rusia (ranking 3) namun tetap jauh di bawah Amerika.

Bandingkan dengan Indonesia yang berada di posisi ranking 16 dunia. Secara kekuatan armada laut, Indonesia saat ini sudah mempunyai 5 kapal selam (3 kapal selam diesel electrik baru Cong Bo Go Claas) buatan Korea Selatan, ratusan kapal perang berbagai type mulai dari light freegate, korvet, dan kapal cepat rudal.

Secara kemampuan udara, Indonesia juga sudah menpunyai puluhan pesawat tempur canggih Sukhoi SU MK 27/30, F 16 Fighting Falcon Block 52i, dan juga Hawk MK 200 buatan Inggris.

Untuk kemampuan angkatan darat, jumlah prajurit aktif TNI 600 ribu personil. Serta memiliki 1,5 juta pasukan cadangan. Indonesia khusus di pangkalan militer Natuna, sudah menempatkan rudal jarak menengah Astros II buatan Brazil, Bataliyon roket yang menggunakan RM Grad 70 dan Vampire, begitu juga alutsista Arhanud (artileri pertahanan udara) seperti Orlykon Skyshield, Mistral, Star Track, bahkan juga buatan China QW-06 dan Chieron buatan Korea Selatan.

Meskipun tertatih’tatih, namun pertumbuhan alutsista militer Indonesia mulai tumbuh signifikan secara senyap. Sehingga hal ini juga diketahui pihak asing bahwa tidak akan mudah untuk merebut wilayah kedaulatan Indonesia secara invansi militer. Ada sebuah adagium dalam dunia militer ; Jangan pernah memerangi sebuah negara yang angkatan perangnya masih rajin berlatih bersama dan gabungan. Jangan pernah memerangi negara yang pesawat tempurnya masih terbang, kapal lautnya masih berlayar, dan meriamnya berbunyi. Karena pasti akan beresiko besar dan berbiaya mahal untuk mengalahkannya. (Jend. Mc Arthur 2000). Dan ini di lakukan AS terhadap Irak yang menginvansi setelah melucuti, mengembargo Irak hingga militernya lumpuh baru di serang.

3. Kita bisa belajar kepada Uni Soviet di Afghanistan. Amerika di Vietnam. Atau operasi Barbarosa Hitler di Jerman kepada Uni Soviet. Bahwasanya, tidak selalu postur militer yang besar secara jumlah angka menjadi penentu kemenangan sebuah peperangan. Buktinya, Uni Soviet akhirnya runtuh setelah kalah perang dan dipermalukan Taliban di Afghanistan (walaupun ada dukungan AS bermain di belakangnya). Amerika sendiri juga dipermalukan Vietnam dalam perang di tahun 1970an. Berapa ribu tentara Amerika tewas dan hilang. Tak terhitung kerugian materil yang dialami Amerika. Sampai Hollywood mesti membuat 86 jenis film propaganda termasuk film ‘Rambo’ untuk menutupi malu mereka kalah perang di Vietnam.

Dan juga mesti di catat juga. Irak yg berpenduduk 28 juta saja, dimana wilayahnya hanya seluas satu provinsi di Indonesia dan dalam keadaan lumpuh militernya, sekutu menghabiskan biaya 3 trilyun dolar, ribuan nyawa melayang. Dan itupun perangnya belum selesai hingga hari ini. Bayangkan kalau untuk menaklukan Indonesia yg punya penduduk 270 juta dan luas wilayah 7 juta Km persegi.

Artinya, banyak faktor penentu kalah-menang dalam sebuah perperangan. Seperti Jerman dalam operasi Barbarosa. Walaupun sebelumnya Prancis, Denmark mereja taklukan dengan mudah, namun medan yang sulit, cuaca ekstrim dan logistik menjadikan tentara Jerman kalah duluan melawan alam Uni Soviet sebelum berperang.

4. Yang harus menjadi catatan penting China kontemporer belum mempunyai jam terbang dalam perang terbuka dalam skala besar. Jadi kemampuan militer China yg dipropagandakan sedemikian rupa belumlah teruji. Berbagai peralatan canggih militer mereka belum teruji di medan perang sesungguhnya. Bahkan dalam proses latihanpun, sudah banyak justru peralatan mereka yang memakan korban nyawa tentaranya sendiri. Seperti salah tembak sasaran, tabrakan pesawat, pesawat tempur nyemplung di laut, rudal yg telat meledak, meriam yang lepas kuncinya, banyak lagi kejadian yang sengaja mereka tutupi.

Contoh gampangnya adalah, hati-hati dengan propaganda dan ‘show of force’ militer China untuk memukul mental kita. Ingat saja tokoh Buce Lee atau IP Man yang jago hanya dalam film. Tetapi buktinya, dalam semua event beladiri dunia seperti UFC, MMA, tidak ada satupun bela diri asal China yg juara. Keok semuanya dalam realitas. Jauh berbeda dengan adegan film.

5. Kalau perang terbuka antara China dan Indonesia, yakinlah TNI tidak sendiri. Ada ratusan juta rakyat Indonsia yang siap turun ke medan laga. Dan penulis yakin, kalau ini terjadi, AS dan sekutunya pasti akan memanfaatkan momentum ini untuk hancurkan China. Negara Asia Tenggara pun pasti akan terlibat dan dukung Indonesia. Jadi bisa-bisa konflik Natuna ini menjadi neraka bagi China, dan China berpotensi menjadi musuh bersama dunia.

Dan ingat, China sendiripun mempunyai masalah internal dalam negeri yang saat ini bagaikan api dalam sekam seperti bomb waktu yang hanya menunggu pemantik api saja untuk meledak. Tibet, mongolia, Uyghur, Hongkong, Taiwan, adalah titik panas yang akan jadi titik letupan pemberontakan kepada China.

Secara sejarah kita juga mesti ingat. China pernah besar karena ambisi, tetapi juga hancur karena ambisi. China pernah jadi imperium terbesar dunia, tetapi juga bangsa yang paling lama di jajah oleh bangsa asing bergantian selama 1000 tahun. Dan penulis yakin, China pasti tidak akan segegabah itu

6. Ingat juga, ada jutaan warga keturunan China hidup di Indonesia dan juga jutaan hidup di belahan dunia lainnya. Kalau perang terjadi, maka yang akan menerima dampak langsung adalah para warga keturunan China yg ada di santero nusantara. Perang ini akan meledakkan sentimen anti China. Dan sudah tak terbayangkan lagi bagaiamana kalau ini terjadi. Tentu warga keturunan China akan menjadi sasaran kemarahan rakyat Indonesia. Ditambah lagi, sentimen ini saat ini semakin meningkat bagai api dalam sekam.

SIMPULAN SARAN

Dari pemaparan diatas maka dapat kita simpulkan dan berikan saran adalah :

1. Strategi hard power. Situasi saat ini kembali menyadarkan kita bahwa ancama perang symetris (fisik) dan perang asymetris (non-fisik) itu tetap akan ada. Untuk itu, peningkatan postur dan kemampuan militer Indonesia adalah wajib dan mendesak. Kalau perlu MEF (Minimum Esensial Force) tahap tiga perlu di tingkatkan secara fundamental agar tercapai kekuatan penuh militer Indonesia di percepat. Kalau hari ini PDB alutsista kita masih 0,8 sudah saatnya di tingkatkan menjadi 2 persen PDB. Agar kekuatan militer Indonesia berotot yg dapat memberikan ‘deterent effect’ bagi negara manapun.

Kalau saat ini dalam kemampuan hanud (pertahanan udara) Indonesia masih berkutat pada sistem hanud titik dan pangkalan (jarak pendek), kedepan Indonesia mesti mempunyai kemampuan hanud terminal dan area (jarak menengah/jauh). Kalau perlu akuisisi rudal S 300, 400 buatan Rusia seperti Turkey dan Philipina.

Jumlah kapal perang kelas berat (freegate), dan kapal selam minimal kilo class perlu juga di tingkatkan. Begitu juga dalam kekuatan udara. Untuk mencapai superioritas udara, Indonesia segera menyelesaikan pengiriman pengadaan pesawat tempur Sukhoi SU 35 dan F 16 Viper block 72. Kalau perlu, minta prevalage khusus pengadaan dari AS untuk meningkatkan kemampuan militer Indonesia. Khususnya dalam alutsista intai maritim, drone, dan rudal jelajah baik surface to air maupun survacs to survacs/sub marine.

2. Dalam strategi soft power. Buat pos maritim bersama dengan negara Asia Tenggara. Meskipun sdh berjalan ‘setengah hati’, jadikan momentum ini untuk Indonesia sebagai big beother ASEAN sebagai pemimpin di depan. Kalau perlu, jadikan pangkalan militer Natuna sebagai markas besar maritim Asia Tenggara dengan biaya bersama. Ini baru namanya ancaman di robah jadi peluang.

3. Implementasikan segera amanah konstitusi pasal 30 tentang kewajiban bela negara. Yang akhir tahun ini UU nya sudah di sahkan melalui UU nomor 23 tahun 2019 tentang PSDN (Pemanfaatan Sumber Daya Dalam Negeri). Undang Undang ini semacam instrumen hukum wajib militer ala Indonesia. Dan ini sangat sesuai dengan doktrin pertahanan negara kita yaitu : Sishankamrata (Sistem Pertahanan Keamanan Rakyat Semesta). Artinya segala potensi negara baik itu sumber daya alam, sumber daya buatan, komponen utama, komponen cadangan, serta komponen pendukung wajib turut serta bela negara. Apabila negara dalam situsi perang.

Program ini juga bisa di jadikan program cuci otak dan menanamkan rasa nasionalisme, patriotisme lagi kepada anak bangsa yg saat ini mulai pudar. Program ini juga pasti akan ampuh untuk menjauhkan generasi muda kita dari narkoba, virus LGBT, virus allay, dan gaya hidup hedonisme.

4. Kita jadikan kondisi konflik natuna ini sebagai momentum pemersatu anak bangsa. Karena ada musuh bersama dari luar. Sambil menyadarkan kita bahwa dalam pergauln internasional tidak ada kawan atau lawan yg abadi. Semua tergantung kepentingan.

Jangan lagi kita mau di bodohi dan di adu domba dengan bahasa-bahasa manis tapi berbisa. Seperti ; menggunakan bahasa radikalisme untuk menyudutkan orang yg taat beribadah. Menggunakan kata intoleransi untuk misi terselubung mengganti akidah dari kelompok liberal. Atau menggunakan bahasa investasi dan ekonomi padahal di baliknya adalah untuk menjajah dan menjarah tanah air kita. Dan virus ini adalah murni pola dan strategi komunisme dalam memainkan propagandanya di dunia. Siapa yg jadi penghalang maka akan di sudutkan dgn bahasa radikal dan intoleran.

Untuk itu, penulis kembali mengajak kita semua agar tetap waspada dan logis memahami konflik Laut Natuna ini. Di satu sisi kita mesti cerdas dan tanggap terhadap manuver politik yang bermain di balik ini, namun di satu sisi kita juga mesti siaga kalau terjadi hal yang paling buruk terhadap kedaulatan bangsa Indonesia.

Kalau sudah berbicara kedaulatan, mari kita stop segala perbedaan. Tak ada kata selain merangkai persatuan, kompak bersama dalam cita rasa nasionalisme, patriotisme kecintaan kita terhadap tanah air Indonesia. InsyaAllah NKRI harga mati akan tetap abadi untuk kita pertahankan bersama. Melalui persatuan dan kesatuan sesama anak bangsa. Jaya Indonesiaku…

Jakarta, 08 Januari 2020.

(Penulis adalah pengamat pertahanan dan sosial politik, alumni Lemhannas RI PPRA 58 tahun 2018).

8,668 kali dilihat, 18 kali dilihat hari ini

Facebook Comments

Nasional

Membedah PKI Lama dan PKI Hari Ini “PKI Gaya Baru !”

Diterbitkan

pada

Oleh

Oleh : Anton Permana.
(Tanhana Dharma Mangrwa Institute)

Sastrawan Taufik Ismail dalam puisinya mengungkap bahwa ada sebuah aliran politik di dunia yang telah membantai 120 juta nyawa manusia dengan kejam selama 74 tahun di 75 negara di dunia.

Kalau kita rata-ratakan itu sama dengan membunuh 4.400 manusia setiap hari selama 74 tahun. Ideologi apakah itu? Jawabannya adalah Yaitu ideologi komunisme. Dan pembunuhan ini adalah pembunuhan terbesar sepanjang sejarah dunia jauh mengalahkan jumlah korban gabungan perang dunia pertama dan kedua.

Di Indonesia, aliran ideologi pemikiran ini diadopsi dan dijalankan oleh sebuah Partai bernama PKI (Partai Komunis Indonesia). Bahkan partai komunis ini sudah mengobok-obok bumi nusantara ini sebelum negara bernama Indonesia ada. Dimulai dari masa penyusupan kedalam Syarikat Islam hingga SI pecah menjadi SI putih dan merah. Hingga pemberontakan PKI tahun 1926 terhadap kolonial Belanda. Hingga pemberontakan di tahun 1948 oleh Muso di Madiun, serta pemberontakan yang dipimpin oleh DN Aidit pada tahun 1965 yang kita kenal dengan G/30/S/PKI.

Ideologi komunisme ini sangat berbahaya dan kejam. Dimana revolusi menggunakan senjata adalah pusat gravitasi perjuangan dalam mendapatkan kekuasaan.

Sebagai bangsa yang besar kita jangan pernah melupakan sejarah alias “Jasmerah”. Bagaimana kebiadaban PKI ini di Indonesia. Tak terhitung jumlah korban kebiadaban PKI ini membunuh, menyiksa, membantai, menteror, mengintimidasi siapa saja kelompok masyarakat yang dianggap berlawanan dengan agenda komunisme.

Tak peduli apakah itu tokoh agama, ulama, polisi, pejabat, santri, kiyai, kesultanan raja, wanita, orang tua, bahkan tentara pangkat Jendral pun mereka bantai dan kubur hidup-hidup.

Dan untuk perlu pemahaman dan penadalaman literasi agar tidak jadi korban tipu menipu serta pembodohan PKI. Yang memang spesialis tukang fitnah, jago memutar balik kan fakta, pencuci otak ulung, piawai memghasut mengadu domba, dan penebar kebencian atas musuh-musuhnya melalui pembunuhan karakter.

Tercatat jelas dan faktual dalam sejarah, bagaimana sejak tahun 1945 melalui Badan Direktorium Pusat PKI membentuk laskar bernama “Ubel-Ubel” mengambil alih kekuasaan Tanggerang dari Bupati Agus Padmanegara.

Tanggal 9 desember PKI Banten menculik dan membunuh Bupati Lebak Raden Hardiwinangun di Jembatan Sungai Cimancak.

Tanggal 12 desember 1945. Ubel-Ubel membunuh tokoh nasional Otto Iskandar Dinata.

Tanggal 3-9 maret 1946 : PKI Langkat Sumatera menyerbu istana Sultan Langkat Darul Aman di Tanjung Pura dan membunuh Sultan bersama keluarganya dan menjarah harta kekayaannya.

Tanggal 19 agustus 1948 PKI Surakarta membuat kerusuhan membakar pameran HUT RI ke-3 di Sriwedari Surakarta Jawa Tengah.

Tanggal 18 September 1948, Kolonel Djokosunojo dan Sumarsono mendeklarasikan negara Republik Soviet Indonesia dengan Muso sebagai Presidennya.

Dalam fase ini, ribuan masyarakat dibunuh dan dibantai PKI dengan sadis. PKI menculik para Kiyai di pesantren Magetan dan menguburnya di desa Koco, kecamatan Bendo dalam sebuah sumur tua. Ditemukan 108 kerangka manusia terkubur dalam sumur neraka itu.

Disaat ini pula PKI membunuh 20 polisi dan membantainya di Madiun. Tanggal 21 September menculik dan menyembelih Bupati Blora Mr Iskandar, Camat Margorejo, lalu jenazahnya dibuang ke sumur Dukuh Pohrendang desa Kedungringin kecamatan Tujungan kabupaten Blora.

Selama tanggal 18-21 September 1948 itu, PKI menciptakan dua ladang pembantaian dan 7 sumur neraka di Magetan untuk membuang jenazah korban yang mereka siksa dan bantai.

Selanjutnya tanggal 6 Agustus 1951, gerombolan eteh dari PKI menyerbu asrama polisi di Tanjung Priok dan merampas senjata api yang ada.

Namun hebatnya PKI ketika itu sangat pandai mengambil hati Soekarno dan tidak dibubarkan bahkan bisa ikut Pemilu pada Tahun 1955.

Dan kedekatan PKI dengan Soekarno inilah yang dianggap menjadi pemicu dan perpecahan antara Soekarno dengan para sajabat seperjuangannya seperti Kahar Muzakar, Kartosuwiryo, Daud Beureuh yang melahirkan protes, koreksi perlawanan berujung perang saudara PRRI, DI/TII, dan Permesta.

Sampai akhirnya pada tahun 1960 Soekarno meluncurkan slogan NASAKOM menggabungkan antara Nasionalis, Agama, dan Komunis. Yang tentu saja semakin memantik protes keras rakyat, ulama dan TNI ketika itu.

Secara bertahap akhirnya sampai PKI resmi masuk dalam pemerintahan Soekarno dimana DN Aidit dan Nyoto diangkat sebagai Menteri Penasehat.

Sejak PKI masuk dalam lingkaran kekuasaan inilah, mereka melakukan agitasi penggiringan opini sesat dalam pusat kekuasaan untuk melumpuhkan satu persatu tokoh dan kelompok masyarakat.

Parpol Masyumi berhasil dibubarkan melalui Kepres no. 200 Th 1960 tertanggal 17 Agustus. Selanjutnya GPII dibubarkan. HMI dibubarkan. Buya Hamka, KH Yunan Helmi Nasution, KH Isa Anshari, KH Mukhtar Gazali, KH EZ Muttaqien, KH Soleh Iskandar, KH Dalari Umar semua di penjara tanpa pengadilan. Partai MURBA juga dibubarkan karena menentang PKI. Tapi ditutupi dengan tuduhan mendukung PRRI, menentang Nasakom dan anti semangat perjuangan revolusi ala Soekarno.

Semua keraguan, protes rakyat Indonesia saat itu akhirnya semua terbukti nyata. Setelah menguras habis energi bangsa Indonesia melalui propaganda adu domba dan perang saudara hingga pemaksaan untuk operasi ganyang malaysia, PKI menikam negara Indonesia melalui pemberontakan G/30/S/PKI pada tahun 1965.

Dengan isu fitnah Dewan Jendral yang anti Nasakom, PKI menggunakan tangan pasukan Cakrabirawa menculik 6 orang Jendral senior TNI AD ketika itu kemudian menyiksa, membunuh, membantai, menguliti, dan kemudian menguburnya kembali di sebuah sumur tua di Lubang Buaya.

Tidak hanya itu, PKI juga menyiksa dan membantai peserta training PII di desa Kanigoro kecamatan Kras kabupaten Kediri, sekaligus melecehkan wanitanya dan merusak menginjak injak kitab suci Alquran.

PKI juga membunuh Pelda Soedjono dalam insiden perkebunan karet Bandar Betsi. PKI juga meracuni ratusan anggota GP Anshor dan kemudian membantainya. Beruntung ada yang berhasil lari dan meloloskan diri dan jadi saksi hidup.

PKI juga membunuh Brigjen Katamso Dharmokusumo dan Kolonel Sugiono. Kapten Piere Tandean, dan juga putri Jendral AH Nasution Ade Irma Suriani yang berumur 5 tahun.

Artinya, PKI itu tidak mengenal agama. Tak mengenal institusi. Tak mengenal jenis kelamin dan usia. Pokoknya siapa saja yang berlawanan dengan agenda PKI wajib dihabisi. Apapun caranya.

Barulah pada masa Orde Baru, setelah TNI bersama rakyat dan ulama berhasil menumpas PKI hingga terbitlah TAP/MPRS/XXV/1966 yang secara resmi membubarkan PKI dan menjadikan PKI sebagai partai terlarang di Indonesia.

Pada masa Orde Baru tahun 1968-1998, PKI tidak berkutik dan lumpuh di bawah kekuasaan Orde Baru. Sampai pada akhirnya, melalui gerakan masive bawah tanah dan dukungan dari anasir asing, memboncengi lahirnya gerakan reformasi yang memaksa Soeharto mengundurkan diri maka tumbanglah Orde Baru.

Terlepas dari isu negatif dan kesalahan Orde Baru, tetapi yang jelas pada masa Orde Baru Indonesia bersih dari rongrongan PKI. Dan tumbangnya Soeharto adalah langkah awal perubahan fundamental politik di Indonesia. Para anak dan kader PKI yang sudah terkubur sekarang sudah bangkit lagi. Hingga ada yang berani tampil terbuka membuat bukua “saya bangga jadi anak PKI”. Anak PKI masuk parlemen. Dan yang terbaru ucapan selamat HUT PKI yang ke-100 tahun secara terbuka sebagai bentuk show of force dan agitasi sugesti antar sesama anak dan kader PKI.

Lalu bagaimana dengan PKI hari ini? Apa modus dan pola gerakannya?

Perlu kita jelaskan. Pasca kegagalan 1965, PKI hari ini sudah belajar banyak dan meng-up grade diri dan pola gerakannya. Sehingga PKI itupun terbagi ke dalam empat kelompok atau faksi.

1. *PKI radikal* . Yaitu kelompok genetis, biologis, dan ideologis PKI. Mereka yang berasal dari keturunan langsung anak-anak kandung kader PKI. Kelompok ini tetap menjadikan jalur revolusioner perjuangan menggunakan senjata menjadi agenda utama dalam merebut kekuasaan. Apapun kondisinya.

Karena bagi kelompok ini “pakem atau gezah” sebuah perjuangan tertinggi itu tetap melalui kekerasan revolusi. Revolusi adalah pusat gravitasi perjuangan dimana hal ini (revolusi) akan menjadi sumber hukum untuk merubah total ideologi dan haluan negara menjadi komunis secara total. Seperti apa yang dilakukan Mao Tse Tung mengkudeta kepemimpinan China demokratik melalui revolusi dan menjadikan China hari ini negara komunis terbesar di dunia.

Kelompok ini sangat keras, idealis, tangguh dan terlatih. Karena memang tujuan hidup matinya untuk komunisme.

2. *PKI Opportunis* . Yaitu kelompok yang bergabung, direkrut, atau berafiliasi dengan PKI untuk sebuah keuntungan pribadi. Demi uang dan jabatan. Yang memanfaatkan kekuasaan PKI juga untuk bisa hidup dan eksis. Seperti kelompok Liberal, LGBT, atau mereka yang anti agama dan berlindung didalam tubuh PKI kalau berkuasa.

Namun apabila saatnya nanti PKI runtuh atau kalah dalam perang atau kontestasi politik, PKI kelompok ini yang akan keluar duluan dan berkamuflase jadi bunglon dengan kekuatan baru selanjutnya. Orientasi mereka ini hanyalah keuntungan, kepuasaan, jabatan, dan materi.

3. *PKI borjuis* . Yaitu kelompok PKI yang hanya ikut-ikutan karena terbius oleh bujuk rayu dan cuci otak ala PKI. Mereka ini bisa dari kelompok pembenci agama (khususnya anti Islam), dari para non-muslim radikal, penganut Syiah, kelompok gay dan LGBT, yang merasa nyaman dengan buaian janji manis PKI.

PKI borjuis inilah yang dimanfaatkan knowledge atau pengetahuan dan sumber dayanya untuk menjalankan agenda-agenda PKI. Apakah itu adu domba, menebar kebencian, menghasut, menebar fitnah, hingga penyusupan.

4. *PKI garis serong* . Kenapa kita namakan garis serong? karena tak ada PKI garis lurus. Yaitu : kelompok yang masih ragu-ragu, was-was atau sadar akan bahaya kalau agenda PKI yang ketiga kalinya ini mengkudeta Indonesia jadi komunis akan gagal kembali.

Kelompok ini adalah dari para anak keturunan PKI yang masih trauma dan takut. Bahkan juga ada yang sudah sadar. Bahwa mereka hanya dijadikan umpan yang dimanfaatkan elit global saja untuk merevolusi Indonesia.

Kelompok ini mereka yang sebenarnya sudah nyaman dan cukup dengan kondisi hari ini. Punya hak politik dan ekonomi kembali. Bisa jadi ASN lagi. Dan hidup berdampingan dengan masyarakat secara normal.

Kelompok PKI garis serong ini tahu resiko dan konsekuensi seandainya upaya mengembalikan “PKI reborn” ini pasti akan melahirkan perlawanan keras dari rakyat Indonesia bersama TNI. Kalau sempat gagal, mereka tak membayangkan akan dikejar-kejar, dibumi hanguskan tanpa ampun oleh rakyat Indonesia.

Dan PKI garis serong ini, sadar walaupun saat ini kembali masuk dalam pusaran kekuasaan, tapi mereka tidak yakin akan berhasil untuk merubah Indonesia menjadi Komunis. Apalagi kalau China sebagai sponsor utama kalah perang dengan Amerika. Apalagi kalau terjadi perang saudara antara rakyat Indonesia dengan PKI gaya baru. Traumatik masa lalu dan kesadaran logika masih jadi pikiran utama mereka.

Namun PKI garis serong ini tak berdaya melawan kekerasan hati para PKI ideologis radikal di atas. Yang begitu percaya diri dan yakin akan berhasil mengganti Indonesia menjadi negara Komunis atas sponsor China dan para naga.

Nah jadi kalau kita simpulkan. Sebenarnya PKI itu secara internal juga pecah dan tidak solid. Terlebih untuk PKI jenis nomor (2,34). Mereka sejatinya setengah hati. Tidak semilitan PKI radikal yang militan. Bagi mereka kondisi hari sudah lebih dari cukup. Bisa hidup enak, punya kekuasaan, kebal hukum, hidup normal dan bebas. Dan ini akan bisa berubah total terbalik menjadi mimpi buruk yang lebih parah lagi dari tahun 1965. Resikonya sangat besar kalau kalah lagi.

Lalu bagaimana dengan metode gerakan mereka hari ini?

PKI hari ini adalah Komunis Gaya Baru atau disingkat KGB. Yaitu, mereka yang telah menggunakan cara baru dari “hard power” murni menjadi “soft power”. Yaitu melalui perencanaan strategis yang matang, bertahap, dan terukur.

KGB tidak serta merta mengandalkan pada perekrutan banyaknya anggota, tetapi lebih mengutamakan kepada bagaimana masuk ke dalam sistem, merubah aturan dan regulasi untuk memuluskan agendanya.

Bagi KGB boleh partai apa saja, tapi warna dan ideologinya bisa diwarnai dengan prinsip dan pemikiran PKI. Agama, media, organisasi massa dan sumber baya ekonomi bagi KGB saat ini asalah sarana dan instrumen bukan musuh lagi.

PKI gaya baru ini, dalam program KKM (Kelompok Kerja Musuh) masuk infiltrasi dan merebut posisi-posisi strategis baik itu dilembaga negara, organisasi massa, dan media massa. Untuk berkamuflase membumikan pemikiran-pemikiran komunisme bertopengkan pluralisme, matrealistis, dan liberalisme.

Seperti ; Jangan campur adukkan agama dengan politik. Membuat framing agama adalah musuh ancaman negara. Membenturkan agama dengan budaya nusantara. Menebar kebencian dan menjatuhkan apa saja yang terkait simbol agama dengan isu radikalisme, anti bhineka, intoleransi dan anti Pancasila.

Mendukung apa saja pemikiran dan prilaku yang bertentangan dengan agama yang membuat manusia senang. Seperti melegalkan zina, LGBT, syurga bagi Narkoba, kehidupan matrealistis dan hedonis.

Sambil secara aktif menguras energi negara dengan perpecahan adu domba. Kalau dahulu menguras energi negara dengan perang saudara. Hari ini dengan hutang negara dan korupsi yang menggurita. Bagi yang pro penguasa akan diberikan syurga dunia, bagi yang menentang penguasa akan dijadikan musuh negara, penjahat, dan disengsara.

Dalam teori analisa ancaman “Fishbone of Threat”. Ancaman itu terbagi dua yaitu ; pembawa ancaman dan objek ancaman. Dimana ancaman itu dibagi lagi menjadi dua yaitu, Intensi (intention) yang terdiri dari keinginan (desire) dan harapan (expectation). Yang kedua adalah capabilty (kapasitas) yang juga terdiri dari pengetahuan (knowledge) dan sumber daya (resource).

Dan dalam analisa ancaman terhadap KGB ini TNI AD pada tahun 2016 skornya adalah (16,5) yang berarti tinggi (high). Dengan rincian : desire (4), expectation (4), knowledge (4,3), resource (4,25), intention (8), capabilty (8,55). Dan untuk hari ini diperkirakan sudah naik menjadi 19-20 (accute).

Secara “analisa Pestelo” terhadap ancaman KGB ini, mereka lebih fokus mengutamakan kepada pendekatan ekonomi, legal, dan organisasi. Yaitu menguasai perekonomian untuk menunjang gerakan dalam skala organisasi (kelembagaan) politik (partai politik), untuk kemudian secara bertahap merubah regulasi dan undang-undang yang memuluskan agenda PKI gaya baru ini menguasai semua lini dan sendi negara.

Dimana intinya adalah bagaimana melalui produk regulasi ideologi komunisme ini bisa hidup lagi di Indonesia, kemudian ikut politik secara legal, memenangkan Pemilu dan Pilpres baru merubah secara total haluan ideologi negara menjadi komunis setelah kuat, besar dan menjadi partai tunggal penguasa.

Kalau kita cermati semua hal di atas sudah mereka jalankan. Tinggal satu langkah lagi RUU HIP (Haluan Ideologi Pancasila) dan RUU Omnibus Law disahkan maka selesai sudah semuanya. Karena dua UU ini sama saja secara halus merubah negara, dan membuat negara didalam negara secara sistematis.

Skenario hukum proses legislasi ini sama dengan mengkebiri konstitusi negara. Dan momentum wabah covid-19 ini adalah momentum yang paling tepat. Karena semua sendi ketahanan nasional negara lumpuh. Dan penguasa bisa menggunakan kewenangan diskresinya untuk berbuat apa saja melalui produk Undang-Undang yang mereka buat sendiri. Legislatif hanya tukang stempel saja kecuali PKS.

Lalu apa solusinya ? Nah ini dia pertanyaan yang paling tepat. Yang jelas, kesadaran masyarakat secara kolektif terhadap ancaman nyata PKI gaya baru hari ini sudah semakin tinggi. Contohnya, saat ini sudah 21 provinsi mendeklarasikan anti dan tolak PKI. Tapi itu saja tidak cukup, perlu aktivasi dan langkah besar yang lebih strategis dan presisi. Yaitu :

1. Melakukan penyadaran kolektif, membangun satu kesepahaman melalui perang opini, perang argumentasi untuk menggalang kekuatan di masyarakat. Baik melalui sosial media, diskusi, seminar dan aksi nyata deklarasi di lapangan secara serentak. Sebagai pesan kepada PKI ini bahwa rakyat Indonesia tidak main-main.

2. Mengaktivasi kesepahaman menjadi serbuah gerakan bersama seluruh komponen masyarakat. Termasuk saudara kita yang dari muslim dan non-muslim yang terlena dicuci otak oleh PKI yang memang jago akan hal itu. Tekankan PKI itu pada saat kuat akan menghabisi apapun agama yang ada. Karena mereka benci dan anti agama.

Kadi kuncinya. PKI akan kuat kalau kita yang lemah. PKI itu berani kalau kita takut daj berpecah belah. PKI itu jumawa kalau kita mau di bodoh-bodohi dengan isu pemutar balik kan fakta.

3. Gerakan ini serentak dan mendesak partai politik agar kembali kepada UUD 1945, dan menolak RUU HIP, RUU Omnibus Law, mencabut UU Corona dan UU Minerba yang disinyalir sangat merugikan negara.

4. Memberi pemahaman bahwa, institusi dan lembaga yang ampuh menumpas gerakan PKI ini adalah TNI dan lembaga inteligent. Untuk itu kita desak legislatif untuk merevisi penguatan untuk TNI dan lembaga inteligent agar bisa bertaji kembali menjadi alat pertahanan negara dan menjadi mata telinga negara. Karena kalau TNI dan rakyat bersatu, maka PKI bukanlah apa-apanya walaupun didukung China.

Dan jangan mau dihasut lagi, diadu domba untuk membenci TNI. Karena keberhasilan pertama PKI itu pasca orde baru adalah, berhasil membumi hanguskan apa saja yang berbau orde baru. Termasuk peran TNI. Padahal itu hanyalah strategi PKI melumpuhkan TNI sebagai alat pertahanan negara.

5. Mulai siapkan sistem pertahanan diri, sistem perlindungan diri, pemahaman dasar-dasar militer apakah melalui latihan bela negara atau latihan fisik lainnya. Untuk persiapan terburuk terjadi. Karena diperkirakan, para PKI ideologis sudah siap sedia menyiapkan tentara rakyat (kader PKI) bersenjata untuk perang saudara. Kalau informasi ini betul, ini sangat berbahaya agar seluruh rakyat Indonesia siap siaga.

6. Boomingkan penyadaran dan himbau para tokoh nasional agar rembuk bersama. Para tokoh bangsa, tokoh agama, raja-raja nusantara, purnawirawan TNI-Polri, para pendekar, jawara, Kiyai, santri, ulama, romo, pendeta, tokoh adat, termasuk para pimpinan partai politik, TNI-Polri aktif agar semua kembali duduk bersama. Bahwa ancaman PKI baru itu bukan hantu dan ilusi lagi. Semua nyata terang benderang.

7. Kompak serentak turun kelapangan dan memberikan dukungan baik moril dan materil terhadap siapa saja anak bangsa, pejuang yang ditangkap alias kriminalisasi. Kita bisa belajar kepada Amerika hari ini. Satu saja warganya tewas ditangan polisi bernama George Flyod, seluruh warga kulit hitam serentak turun kejalan. Negara sekelas Amerikapun panik kalau sudah rakyat yang turun. Tapi tentu turun dengan cara yang damai bermartabat.

8. Pastikan dan yakinkan bahwa PKI itu adalah nyata bukan hantu lagi. Para anak PKI dan pendukung PKI itu juga manusia, makan bakso, makan ayam penyet, dan kalau mati pasti juga dikubur. Artinya, pilihan ada pada kita. Mau mati disembilih PKI atau bangkit melawan hari ini ??

Lihatlah bagaimana penguasa hari ini begitu represif terhadap siapa saja yang begitu keras terhadap isu PKI. Mulai dari Habieb Rizieq Shihab, Ustad Alfian Tanjung, Mayjend Purn Kivlan Zen, Habieb Bahar Smith, dan erakhir Kapt. Purn. Ruslan Buton. Pada dasarnya mereka ini adalah para patriot sejati penentang PKI. Wajah dari TNI-Islam yang paling begitu ditakuti dan dibenci PKI. Lihatlah apa yang mereka alami saat ini. Terlepas dari pro dan kontra pelanggaran hukum yang mereka lakukan dalam hal lain.

Apakah hal ini akan terus dibiarkan ? Padahal yang diperjuangkan adalah nasib bangsa, nasib kita semua.

Jangan sampai terlambat. Penyesalan di akhir tiada guna. Kalau terus dibiarkan, kita tidak tahu siapa lagi korban setelah ini. Bisa anda, bisa kita, bisa juga saya. Wallahu’alam.

Batam, 04 Juni 2020.

2,281 kali dilihat, 19 kali dilihat hari ini

Facebook Comments

Lanjutkan Membaca

Blog

Antara Bilik Virus, Bambu Runcing dan Darurat Sipil

Diterbitkan

pada

Oleh

Oleh : Anton Permana.

WB – Yogjakarta | Hari ini tepat tanggal 31 Maret 2020 Kemenkes RI mengeluarkan update Covid19 1528 positif, 81 sembuh dan 138 orang meninggal. Namun sehari sebelumnya Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan juga menyampaikan 283 jenazah dikubur sejak tanggal 6 maret 2020 menggunakan protokol covid19.

Secara global, penulis tak tahu lagi sudah berapa ratus ribu positif Covid19 atau yang meninggal dunia. Penulis lebih suka memperhatikan gerak langkah masing kepala negara dan para pemimpin dunia berjibaku dalam mengatasi krisis wabah pandemi covid19 ini.

Presiden Amerika Donald Trumph mengeluarkan stimulus 2,3 Trilyun Dolar dari pemerintah untuk mencegah dan mengatasi virus mematikan ini. Hampir sebahagian negara bagian di AS juga mengambil langkah lockdown namun segala kebutuhan dan pasokan logistik,sandang, dan pangan ditanggung oleh negara. Rata-rata kalau dirupiahkan, masing warga AS mendapatkan 51 juta rupiah selama diberlakukan lockdown.

Arab Saudi juga tak mau kalah. Kerajaan petro dolar ini menggratiskan bagi seluruh rakyatnya untuk berobat dan memeriksakan diri. Tidak hanya itu, pemerintahan KSA juga menyediakan hotel mewah full fasilitas bagi masyarakat baik itu warga negara asli Arab Saudi maupun expatriat bahkan mahasiswa luar negeri yang kuliah disana.

Presiden Italia menyesali keterlambatannya mengambil langkah lockdown sehingga ribuan masyarakatnya meninggal dunia akibat covid19. Raja Thailand mengungsikan dirinya bersama para selir ke suatu tempat mewah yang terpisah jauh dari keramaian. Malaysia menggelontorkan uang ratusan ringgit untuk satu keluarga selama diberlakukan social distancing. Korea Selatan, Jepang, Singapore, dan Vietnam adalah contoh negara yang boleh dikatakan berhasil mengendalikan covid19 dan berhasil menekan angka kematian sekecil mungkin.

Tercatat sudah 23 negara mengambil langkah lockdown untuk mencegah mutasi covid19. Ada juga dengan memberlakukan social distancing di negaranya, dan hanya Indonesia satu-satunya negara didunia saat ini yang mengambil langkas darurat sipil (SOS) dalam menangani covid19.

Inilah wajah kita hari ini. Wajah dunia global yang sedang dihantui oleh virus pandemic covid19. Saat ini dunia menghadapi musuh yang sama, musuh yang tidak tampak namun telah berhasil merobah tatanan dunia secara radikal.

Kenapa dikatakan radikal? Karena hanya dalam hitungan hari, situasi geo politik global dan geo ekonomi dunia berubah total. Secara ekonomi, banyak perusahaan gulung tikar, bursa efek hancur, perjudian terbesar tutup, perdagangan virtual pialang shut down. Banyak negara yang akhirnya mengalami krisis ekonomi akibat tidak berjalannya industri dan lalu lintas perdagangan serta pariwisata. Entah berapa puluh milyar dolar kerugian setiap hari diterima sektor ini.

Secara geo politik begitu juga. Perang dagang antara AS dan China terhenti. Berbagai konflik di belahan dunia baik di Suriah, Kashmir, Palestina-Israel semua berhenti. Olympiade di Tokyo ditunda. Balap Formula 1 juga di tunda. Kalau di Indonesia event Pilkada pun ditunda ke tahun 2021.

Begitu dahsyatnya virus ini mengendalikan dunia. Tiap hari gadget dan layar televisi kita setiap detik dan menit disuguhi tentang kematian dan jatuhnya korban akibat covid19. Di Indonesia ditambah lagi dengan kebijakan pemerintahnya yang serba tidak jelas. Plintat-plintut tak tentu arah.

Hari ini bicara A, besok B, lusa C semua ibarat jurus mabuk. Sangat terlihat kualitas kepemimpinan nasional kita hari ini lemah, amatiran, dan sepertinya memang didesign hanya untuk buat hutang dan melayani China. Ketika ada krisis corona langsung gagap dan kelimpungan.

Bayangkan, negeri kita hari ini penuh ketidakpastian. Seharusnya musibah hari ini dapat menjadi instrumen pemersatu bangsa. Karena kita ada musuh bersama yaitu corona. Namun yang terjadi ada semacam gap (jurang) yang dalam antara pemerintah dengan rakyatnya. Pemimpin kita hari ini kehilangan empati dan kering dari rasa kenegarawan. Setiap komentar dan kebijakan yang dikeluarkan selalu melukai hati rakyat.

Ketika rakyat teriak tentang bahaya corona, pemerintah menganggap remeh dan tuduh itu sebagai ujaran kebencian. Ketika korban berjatuhan, bukan membangun solidaritas tapi malah mengeluarkan biaya puluhan milyar buat para buzzer dan influencer.

Jangankan untuk biaya pengobatan khusus, untuk mengontrol ketersediaan masker saja pemerintah tak mampu. Harga masker yang awalnya 15 ribu satu kotak, sekarang malah jadi 15 ribu satu bijinya. APD (Alat Pelindung Diri) juga langka, kalaupun ada mahalnya minta ampun.

Lebih parahnya lagi, tidak ada instruksi yang jelas, satu komando, terarah dan berkualitas dari pemerintahan pusat kepada rakyatnya. Jatuhnya korban jiwa setiap hari seolah hal yang biasa saja. Padahal kenegarawan seorang pemimpin itu dilihat dari bagaimana negaranya melindungi satu tetes darah warganya jangan sampai tumpah.

Semua aturan dan informasi dibuat abu-abu dan tumpang tindih. Sesama pejabatpun saling kontradiksi statemennya. Ketika masker langka dan mahal, masyarakat berinisiatif membuat masker buatan dari kain, tapi setelah itu keluar himbauan masker kain tak aman dan tidak recomended.

Disaat APD langka dan mahal, masyarakat berinisiatif pakai mantel hujan dan buat sendiri, juga dilarang dan dikatakan tak recommended.

Disaat masyarakat berinisiatif membuat bilik pembersih virus menggunakan disinfectan atau antiseptic, lalu keluar juga himbauan bahwa juga tidak recomended. Namun di satu sisi rakyat disuguhi penyemprotan anti septik ini pada WNI Wuhan yang baru turun pesawat. Rakyat disuguhi dengan laporan Istana negara menggunakan bilik pembersih virus sebelum masuk Istana. Begitu juga dengan kantor kementrian yang lain sampai DPR RI. Walikota Surabaya Rismapun mempertontonkan bilik pembersih virus innovasinya atas rekomendasi pakar medis dan biokimia (farmasi) UNAIR yang mengatakan bahwa bilik virus ini adalah aman dan solusi cerdas mencegah penularan covid19.

Masyarakat hari ini dibuat bingung dengan kondisi tak menentu ini. Pada dasarnya sebagai masyarakat kita semua pasti akan patuh dan taat apapun kebijakan pemerintah. Tapi jangan biarkan masyarakat dalam kebingungan dan keraguan. Disatu sisi kita disuruh di rumah saja, tapi di luar sana TKA China lalu lalang masuk Indonesia.

Disatu sisi kita diminta jangan panik dan tetap jaga kesehatan, tapi setiap upaya dan innovasi masyarakat untuk bersama melawan virus dibatasi tidak jelas ujungnya.

Penulis membaca, innovasi masyarakat membuat masker sendiri, buat APD secara swadaya, membuat bilik virus, adalah sebuah bentuk semangat perlawanan bela negara dan ingin berkonstribusi pada negara. Ibarat kalau dulu ketika melawan penjajah tak ada senjata pakai bambu runcing pun jadi. Begitu juga hari ini. Walaupun tak ada panduan yg jelas, bahan medis langka, masker mahal, APD tak ada, bilik virus disinfectan yang aman untuk manusia mahal, maka dibuatlah secara mandiri masker, APD, dan bilik virus secara kreatif. Tapi inipun dilarang. Parahnya lagi, pelarangan ini tanpa argumentasi yang jelas. Padahal di satu sisi berseliweran berita dan pendapat para ahli bahwa masker buatan, bilik virus adalah langkah cerdas dalam kondisi darurat saat ini untuk memutus dan meminimalisir penularan virus. Terkait resiko dan effect samping, pasti semua langkah ada resiko. Pertanyaannya, kalau boleh memilih mana mau dipilih kena resiko iritasi kulit karena pakai bilik chamber atau kena covid19 ? Masyarakat tentu akan memilih yang paling kecil mudharatnya.

Disinilah akhirnya menimbulkan keraguan dan pertanyaan besar bagi kita semua. Apakah sebenarnya pemerintah hari ini serius untuk mengatassi covid19 ? Atau sengaja membiarkan masyarakatnya begitu saja. Sebagaimana Belanda menerapkan methode ‘self immunity’ atau “herd immunite”. Yaitu, membiarkan rakyatnya secara alami beradaptasi dengan virus sehingga kemudian kebal sendiri. Adapun mengenai resiko korban jiwa yang besar itu adalah bahagian takdir. Namun perbedaannya, kalau Belanda memberikan insentif dan subsidi kesehatan serta fasilitas moderen bagi masyarakatnya. Indonesia bagaimana ?

Ditambah lagi dengan diambilnya kebijakan PSBB ini. Yaitu implementasi darurat sipil sesuai dengan Perpu nomor 23 tahun 1959. Dimana kebijakan ini ditentang keras hampir seluruh lapisan. Baik akademisi, parlemen, dan masyarakat. Karena dianggap sangat mengada-ngada dan bisa disebut ‘abuse of power’.

Darurat sipil itu berlaku bagi negara yang sedang terancam dari segi keamanan dan pemberontakan. Perpu ini lahir ketika era Soekarno dalam menghadapi ancaman pemberontakan. Nah saat ini negara kita musuhnya bukan manusia dan bukan pemberontak. Tetapi wabah virus. Artinya, ancaman kita hari ini adalah ancaman kesehatan bukan ancaman keamanan.

Kebijakan paranoid pemerintahan hari ini semakin melihatkan bahwa design pemerintah hari ini tidak lagi untuk melayani bangsa Indonesia. Bukan lagi atas nama rakyat Indonesia. Karena dengan diberlakukan darurat sipil, ini sama saja membuka celah kekuasaan otoriter. Karena di dalam Perpu darurat sipil itu penuh dengan nuansa perang, kekuasaan luas pemerintah untuk melakukan apa saja. Baik itu untuk intimidasi, penahanan, penggeledahan, dan apa saja yang secara kewenangan diskresi penguasa anggap jadi ancaman buat negara.

Pertanyaannya. Bagaimana kalau kekuasaan ini disalahgunakan untuk menghabisi lawan politiknya ? Menghabisi setiap orang atau kelompok yang berseberangan atau kritis terhadap pemerintah ? Siapa yang menjamin penguasa hari ini tidak menyalahgunakan kewenangan ini ?

Sedangkan tanpa darurat sipil pun, kita melihat sendiri bagaimana kesewenang-wenangan pemerintah melalui kekuasaan aparat hukum untuk menangkap, memenjarakan, setiap lawan politik yang berseberangan dengan pemerintah. Kritikan dianggap sebagai ujaran kebencian. Sedikit sedikit main penjara. Tapi kalau yang pro pemerintah boleh berbuat apa saja. Ini yang merusak bangsa dan membuat perpecahan sesama anak bangsa.

Ini juga yang diragukan para praktisi dan cendikiawan bangsa ini. Sekarang ketika wabah corona menimpa kita, isu dan narasi tentang radikalisme, intoleransi, dan anti Pancasila sepi kita lihat. Jangan-jangan nanti pas darurat sipil ini diberlakukan, isu dan narasi tentang radikalisme ini kembali dimainkan sebagai instrumen Islam Phobia dalam mengabisi kelompok Islam. Bagaimana skenarionya, tentu itu adalah hal yang mudah saja bagi penguasa untum dilakukan dan direkayasa.

Padahal musuh kita adalah wabah covid19 bukan lagi manusia. Artinya bagaimana kita bersama melakukan pencegahan secara masif dengan segala sumber daya yang ada bersatu padu melawan corona bukan malah bertinju.

Kita juga mengetahui, bahwasanya sudah jadi rahasia umum bahwa yang namanya virus itu bisa berasal dari rekayasa genetika buatan manusia. Dan kalau kita membaca dan memahami dari buku yang pernah ditulis mantan menteri kesehatan Ibu Siti Fadillah bahwa, ada bisnis raksasa besar di balik penyebaran virus ini. Yaitu bisnis obat dan vaksin dari perusahaan kesehatan dunia. Ditahun 2000 sampai 2011 di dalam bursa ekonomi dunia, perusahaan vaksin kesehatan inilah yang teratas daya incomenya mengalahkan perusahaan minyak raksasa dunia. Puluhan Milyar dihasilkan dari jualan vaksin virus ini. Ibarat teori pedang dan perisai, ada ancaman penyakit virus maka akan ada juga vaksin atau obat penawarnya. Ketika virus SARS, flue burung dan Mers inilah para perusahaan raksasa dunia itu meraup keuntungan yang luar biasa.

Kalau dulu diera tahun 1960 dikenal wabah campak, kolera dan polio. Maka setelah itu generasi kita diwajibkan vaksin polio dan campak. Apakah semua gratis ? Tentu tidak dong. Minimal dana kas WHO untuk kesehatan yang berjumlah milyaran dolar jadi sasarannya. Siapa pemainnya ? Siapa lagi kalau bukan taipan dunia kelompok elit yahudi dan Amerika.

Jadi wajar juga ketika begitu kuat upaya pencegahan yang kita lakukan, akan begitu kuat juga upaya untuk melemahkan agar pencegahan tidak terjadi. Karena sasaran utama dari virus tentu bagaimana timbul ketakutan, kecemasan,orang sakit dan jatuhnya korban. Yang kemudian pasti akan membutuhkan obat dan vaksin agar sembuh dan kebal. Disinilah letak ‘clue’ bisnis ini. Namanya manusia, kalau untuk kesehatan pasti tak akan memikirkan berapa biayanya. Karena sehat itu mahal. Dan penulis yakin, bahwa saat ini obat penawar atau vaksin virus covid19 ini sudah ada tapi sengaja didiamkan dulu sampai pada saat tertentu dikeluarkan. Sudah terbayangkan berapa besar keuntungan yang akan diraup dari bisnis ini ??

Benar atau salahnya asumsi dan analisa penulis biarlah waktu yang akan menjawabnya. Namanya hipotesa tentu ada kala benar ada kala salah.

Yang penting kita berharap, pemerintah Indonesia jangan bermain api dengan kondisi saat ini. Rakyat sudah lelah. Rakyat lagi susah dan sekarat. Mencari uang semakin susah. Pekerjaan semakin langka. Jangan tambah lagi beban pikiran dan perasaan masyarakat dengan hal hal yang tak masuk akal.

Manfaatkanlah kondisi saat sekarang ini sebagai titik awal konsolidasi nasional. Rekatkan kembali rasa persatuan dan kesatuan anak bangsa yang tercabik-cabik saat ini. Pemerintah jujur saja kepada rakyat. Kalau tak ada uang alias bangkrut, katakan saja dengan jujur. Kalau perlu hentikan dulu bangun ibu kota baru di Kalimantan.

Kalau pemerintah jujur, terbuka penulis yakin masyarakat Indonesia akan mendukung setiap langkah kebijakan pemerintah. Karena apapun itu kebijakan pemerintah baik itu lockdown, social distancing, maupun PSBB hanya akan sukses kalau didukung rakyat. Hanya akan sukses kalau rakyat percaya. Posisikan pemerintah itu sebagai Bapak nya rakyat. Milik seluruh rakyat Indonesia. Jangan posisikan ibarat sopir bus antar kota dengan penumpang yang tak saling kenal. Bayar ongkos tancap gas. Ini negara bukan bus kota. Ini negara milik bersama bukan milik elit penguasa. Cam kan itu.

Yogjakarta, 31 Maret 2020.

(Penulis adalah pengamat sosial politik-pertahanan alumni Lemhannas PPRA 58 Tahun 2018)

4,463 kali dilihat, 18 kali dilihat hari ini

Facebook Comments

Lanjutkan Membaca

Batam

Pembangunan Proyek Excamp Kampung Vietnam 80% Rampung

Diterbitkan

pada

Oleh

WAJAHBATAM.ID – 21/03/20202 |
Pembangunan proyek rumah sakit dan penampungan yang dicanangkan Pemerintah Pusat beberapa waktu lalu diperkirakan telah rampung pada 28 Maret 2020.

Saat tim WB berkunjung ke lokasi ada dua kontraktor yang mengerjakan Rumah sakit di kampung Vietnam tersebut,

Dari masing masing kontraktor mempunyai masing masing tugas, seperti PT.WHIKHA mengerjakan renovasi Rumah Sakit yang lama dan PT.WASKITA mengerjakan pembangunan rumah sakit yang baru.

Ketika tim WB mewawancarai  salah satu kontraktor bernama Salim mengatakan “Target kita yaitu pada akhir bulan Maret ini, tapi kita upayah tanggal dua puluh tujuh Uda rampung, karea pekerjaan ini sudah selesai hampir delapan puluh limah persen“, ujarnya

Salim juga mengatakan bahwa sejak awal pengerjaan proyek mereka bekerja dari  pukul 07.00 hingga 22.00 WIB. hingga saat ini pekerjaan hanya tinggal pemasangan pintu-pintu dan jendela saja.

Dalam pengerjaan proyek ini hingga saat berita ini diterbitkan pihak kontraktor mengatakan telah menyelesaikan sekitar 80% pekerjaan yang dikerjakan oleh 700 pekerja dari dua kontraktor tersebut. (timWB)

17,057 kali dilihat, 16 kali dilihat hari ini

Facebook Comments

Lanjutkan Membaca

Perkembangan VIRUS CORONA

Komentar Facebook

Trending