Terhubung dengan kami

Nasional

Wiranto Ditikam Saat Kunjungan Ke Pandeglang

Diterbitkan

pada

WAJAHBATAM.ID – Kota Batam | Penusukan yang terjadi di Pintu Gerbang Lapangan Alun – alun Menes Desa. Purwaraja Kec. Menes Kab. Pandeglang atas diri Jenderal TNI ( Purn ) DR. H. WIRANTO, SH, ( Menko Polhukam ) dwngan Rombongannya yang hendak heninggalkan HellyPad Lapangan Alun – alun Menes Ds. Purwaraja Kec. Menes Kab. Pandeglang Kamis, 11.55 wib mengakibatkan KOMPOL DARIYANTO SH, MH ( Kapolsek Menes ), Sdr. H. FUAD.

mengalami luka dibagian punggung, dan H. FUAD mengalami luka di dada sebelah kiri atas.

Dua orang pelaku SA dan FA berhasil diamankan di Mako Polsek Menes POLRES PANDEGLANG

Dari rilis kepolisian yang dikutip WBtv via WhatsApp, kejadian penusukan tersebut terjadi secara tiba-tiba dimana pelaku langsung menyerang dan melakukan penusukan kebagian Perut Jenderal TNI ( Purn ) DR. H. WIRANTO, SH dengan senjata tajam berupa gunting secara membabi buta. Pihak keamanan yang menyaksikan kejadian tersebut dengan sigap melakukan perlindungan yang mengakibatkan kapolsek dan salah satu rombongan mengalami luka dibagian punggung dan dada.

Hingga berita ini diterbitkan, pihak kepolisian masih melakukan pengembangan kasus, demikian dikutip dari rilis tersebut. (TimWB)

55,793 kali dilihat, 15 kali dilihat hari ini

Nasional

Suharsad: Aparat Hukum, Berhentilah Menyakiti Hati Rakyat

Diterbitkan

pada

Oleh

WAJAHBATAM.ID – 10/12/2019 | Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) telah membuka ke publik identitas oknum yang telah melakukan gratifikasi kepada Nurdin Basirun selaku Gunernur Kepri.

Yang mengherankan adalah hanya tiga orang saja yang dijadikan tersangka dari puluhan pelaku korupsi tersebut.

Suharsad sebagai aktifis senior yang mendengar informasi tersebut dari media dan para aktifis langsung buka suara “Heran… sistem hukum apa yang ada di Indonesia ini, dan kenapa hal ini tak pernah berubah ?” ungkapnya dengan nada agak keras ketika kru media WB meminta tanggapannya. “Kok bisa JPU KPK hanya menjerat 10 orang saja, sementara ada 24 Kepala Dinas yang disinyalir terlibat !” lanjut Suharsad dalam kesibukannya setelah melaksanakan Anniversary WB ke-7 dibilangan Kepri Mall Batam Centre, Minggu, 8/12/2019 lalu.

Ketika kru WB meminta tanggapannya sebagai Presiden WAJAH BATAM terkait kasus tersebut Suharsad mengatakan “Saya akan pakai WAJAH BATAM untuk menekan kebijakan-kebijakan perangkat hukum untuk memberikan sesuatu yang menggembirakan rakyat dan tidak menyakiti perasaan rakyat yang sudah lama kecewa dengan sistem dan kebijakan yang disinyalir merugikan negara secara masive tersebut”

Mengenai aksi yang akan dilakukan, Suharsad hanya mengatakan bahwa apapun bentuk aksi hanyalah ceremonial dari pihak pihak yang mencari panggung, karena aksi apapun tentu memerlukan biaya yang besar dan tentu ada donaturnya, sindir Suharsad.

“Yang pasti sebagai Presiden WB, saya akan tetap memonitor, mengawal dan tetap eksis menyuarakan aspirasi masyarakat disamping jika indikasi itu ada maka saya juga sedang menyusun surat untuk mendesak aparatur negara ini berhenti mempermainkan perasaan masyarakat dengan kebijakan kebijakan murahan yang sudah tidak zamannya lagi disandiwarakan” tutur Suharsad

Sidang yang akan digelar Rabu (11/12/2019) merupakan awal pemantauan lanjut, apakah KPK akan mengembangkannya dalam menjerat pemberi suap sebagaimana kata juru bicara KPK Febri Diansyah atau hanya sebagai sandiwara hukum saja.

Dilansir dari media media sosial, Febri juga menegaskan bahwa fakta faktalah sebagai acuan dari pembuktian keterlibatan yang akan dijadikan sebagai bukti dalam persidangan. Dan Febri juga menegaskan bahwa para penyuap juga dalam ancaman hukum yang belum tentu mereka bisa lolos. (TimWB)

2,268 kali dilihat, 54 kali dilihat hari ini

Lanjutkan Membaca

Batam

Reuni 212, Abu Janda, dan Khilafah di Indonesia

Diterbitkan

pada

Oleh

Oleh : Anton Permana.

WAJAHBATAM.ID – Jakarta, 2/12/2019 | Hari ini tepat 2 Desember 2019. Dimana saat ini berhimpun dan berkumpul jutaan manusia di tugu Monas Jakarta. Tidak saja ummat muslim Indonesia yang berkumpul, terapi juga dihadiri ummat Islam dari luar negeri bahkan juga masyarakat non-muslim baik dalam dan luar negeri.

Hari ini mengingatkan kita tentang aksi 14 juta manusia yang berkumpul salam satu titik, satu semangat, satu sikap, satu komitmen tentang sebuah ketidak adilan atas perlakuan penistaan terhadap agama yang seharusnya dirawat dan dijaga oleh negeri ini.

Yang uniknya, jutaan manusia berkumpul ini penuh dengan kedamaian, penuh cinta dan kasih sayang, penuh rasa persudaraan yang luar biasa. Bayangkan, 14 juta manusia ini sama dengan separoh warga negeri jiran Malaysia. 3,5 kali warga Singapura, atau hampir sama dengan jumlah penduduk 5 negara di Eropah Timur. Namun, jutaan manusia dengan ‘dress code’ berwarna putih ini berkumpul tanpa ada rumput yang terinjak, bunga taman yang rusak, atau sampah yang tercecer layaknya konser atau pesta kembang api di tahun baru. Semua kembali clean and clear alias kinclong.

Tak ada aura kemarahan. Semua wajah ramah dan bahagia. Makanan gratis serta minuman tak terhitung gratis untuk semua yang hadir. Semua seakan berlomba, memperlihatkan inilah wajah asli kedamaian bangsa Indonesia. Inilah wajah sejatinya ummat Islam (mewakili dunia) sebenarnya. Sangat jauh dari segala fitnah stigma negatif, serta propaganda busuk para buzzer dan media tentang wajah Islam yang bengis, anarkis, radikal, dan penuh kekerasan.

Semua stigma dan fitnah sejak saat itu rontok bak bangunan tua yang rapuh. Segala fitnah keji terhadap ajaran Islam yang suci berbalik menjadi jutaan simpati. Sampai akhirnya, sebuah organisasi dunia bernama ‘the world peace of community’ yang beranggotakan 202 negara ini menjadikan tanggal 2 Desember atau populer disebut dengan 212 sebagai hari persaudaraan atau hari ukuwah sedunia.

Tidak saja hanya sampai di situ. Seiring waktu berjalan, fakta demi fakta terjadi semakin membuka mata publik dunia. Kejadian pembantaian oleh warga papua terhadap warga non-papua yang sadis dan biadab di Wamena, serta ingin merdeka melepaskan diri dari NKRI, menjadi ‘bomb’ fakta yang tidak terelakkan. Insiden anarkisme aparat dalam penanganan demo 21-23 Mei pasca Pilpres yang lalu juga menjadi fakta yang tak terbantahkan. Hingga tewasnya 700 petugas KPU masa Pilpres menjadikan objektifitas pikiran rakyat semakin terbuka. Bahwa siapa sebenarnya yang bengis di negeri ini ? Siapa sebenarnya yang radikal di negeri ini ? Kelompok mana sebenarnya yang anti toleransi dan anti NKRI di negeri ini ?

Tidak hanya itu. Pernyataan artis Agnes Mo yang tidak mengakui keturunan darah Indonesia plus kejadian dua siswa penganut Yehua yang tidak mau hormat pada bendera karena keyakinannya juga meluluh lantak kan segala stigma tentang image buruk Islam yang selalu di sudutkan dengan narasi radikal, intoleran, atau anti Pancasila.

Jadi menurut penulis, sangat wajar momentum 212 yang kembali bergelegar di laksanakan hari ini di tugu monas Jakarta memberikan arti, spirit, dan sebuah pesan holistik yang monumental bagi rakyat Indonesia khususnya yang paham akan arti sebuah nilai persaudaraan dan kebangsaan.

Tak mesti dengki, tak mesti iri, atau juga tak mesti sampai kejang-kejang kepanasan melihat jutaan rakyat Indonesia berkumpul dengan penuh cita rasa cinta hari ini.

Sebuah apresiasi besar patut kita berikan kepada Kapolri saat ini. Yang telah ikut mengawal dan tidak mempermasalahkan seperti tahun sebelumnya. Serta para Menteri kabinet jilid dua saat ini yang mulai ‘tahu diri’ dan mulai belajar hemat ujaran provokasi terhadap ummat Islam.

Lalu bagaimana dengan Abu Janda sesuai dengan judul di atas ? Penulis sebenarnya sengaja menyebutkan nama sosok Abu Janda (atau apalah nama aslinya) ini sebagai bentuk analogi gambaran nyata yang sederhana, bagaimana sebuah kekuatan ‘invisible hand’ yang sangat tidak ingin bangsa ini hidup dengan aman dan damai.

Abu Janda adalah representasi sebuah narasi global yang begitu berkepentingan tidak ingin bangsa Indonesia hidup tenang dan kemudian dapat berpikir jernih dan positif. Abu Janda adalah gambaran nyata dari sebuah kerapuhan mental spritual, sentimen, serta kepanikan membabu buta. Kenapa demikian ? Karena kalau rakyat ini hidup tenang dan damai, maka suasana kondusif ini akan dapat melahirkan sebuah aura positif yang konstruktif. Aura kedamaian dan stabil dari sebuah bangsa akan cepat melahirkan sebuah ‘quantum’ lompatan kemajuan berpikir, bertindak dari sebuah bangsa. Tetapi kalau sebuah bangsa selalu rusuh, bertengkar di sibuk kan dengan berita negatif, isu sentimentil provokasi dan narasi kebencian (adu domba antar sesama) ala Abu Janda ini kapan rakyat akan berpikir positif ? Kapan rakyat akan bersatu padu untuk bangkit ?

Nah semua ini sangat dipahami oleh kekuatan global ituterhadap bangsa Indonesia. Dikarenakan Islam adalah mayoritas di negeri ini, apalagi Islam juga adalah musuh ideologis kekuatan global ini, maka Islam akan selalu jadi sasaran empuk mereka melalui tangan kekuasaan yang mereka miliki. Karena mereka sangat tak ingin Islam masuk dan berada dalam pusaran kekuasaan walau satu titik pun. Ini sangat membahayakan agenda mereka untuk terus menguasai dunia.

Lalu muncul pertanyaan, bahwa para pemimpin di negeri ini adalah juga beragama Islam ? Jawabannya iya. Tetapi silahkan nilai sendiri tentang sikap, pemahaman, dan keberpihakannya terhadap Islam. Dan disinilah piawainya kekuatan global saat ini dalam memecah belah, mencuci otak ummat Islam sehingga berpecah belah.

Dan tidak tertutup kemungkinan dari semua itu ada yg secara tak sengaja menjadi ‘agent’ atau kaderisasi hasil cuci otak dan penokohan melalui kekuasaan mereka. Dalam sistem pertempuran operasi inteligent seperti ini lazim terjadi salam sebuah kompetisi geopolitik dan geostrategi antar negara di dunia.

Menurut penulis, setiap saat akan selalu diciptakan narasi ala si Abu Janda terhadap bangsa ini. Yang membedakan hanya kelas perannya saja. Ada yang type Abu Janda kelas kaki lima berupa menolak ceramah agama atau bakar bendera tauhid. Ada yang kelas menengah dengan olok-olok ajaran agama atau symbol Islam melalui buzzer bayaran di sosial media. Dan ada juga kelas elit Istana, yang menyerang Islam melalui kebijakan, komentar, aturan regulasi yang mengkoptasi seakan mau menjadikan agama sebagai musuh negara.

Setelah narasi bom panci, bom termos, bom bawa ktp dan kk sudah basi dan tidak direspon publik lagi. Sepertinya, kubu pembenci Islam ini perlu berpikir keras bagaimana menciptakan strategi narasi baru agar tetap eksis dan dapat supplay logistik kehidupan memanfaatkan momentum. Apakah itu berupa uang, fasilitas dan jabatan.

Selanjutnya bagaimana dengan isu Khilafah ? Penulis sedari dulu sering menyuarakan agar terminologi Khilafah, radikal, terorisme, intoleransi, ini mesti di tuntaskan makna dan pengertiannya. Agar kita semua mempunyai pemahaman yang sama.

Tetapi penulis melihat, seolah ada semacam kekuatan besar yang memang sengaja terminologi kata di atas dibuat tetap mengambang dan berada di wilayah abu-abu tetapi secara kasat mata menyasar hanya kepada kelompok tertentu saja yaitu Islam.

Ketika yang melakukan tindak kekerasan bahkan kebiadaban itu bukan Islam, tak ada istilah radikal ini digunakan. Ketika pelarangan cadar, celana cingkrang digaungkan tidak ada bahasa intoleransi disebutkan. Padahal ini jelas sebuah bentuk arogansi supra intoleransi yang dilakukan terhadap ibadah ummat Islam. Karena cadar dan celana cingkrang adalah bahagian dari pelaksanaan ibadah yang dijamin konstitusi negeri ini (pasal 29 (ayat) 2 UUD 1945).

Begitu juga dengan konsep khilafah. Ketika konsep ini dianggap berbahaya bagi ideologi negara ? Bahagian mana yang berbahaya bagi negara ? Dan konstitusi atau aturan mana yang bertentangan dengan khilafah ? Dan kalau di larang, apa dasar hukumnya ? Seperti pelarangan komunis yang tegas dan jelas dalam TAP MPR nomor XXV dan UU no 27 tahun 1999.

Kalau ada ketakutan khilafah akan dijadikan ideologi negara, juga mesti di jelaskan siapa yang akan berani melakukan itu ? Partai politik apa ? Kekuatan militer mana ? Karena, hanya dua cara untuk merubah ideologi negara ini. Yaitu, pertama melalui jalur politik (menguasai lebih separo kursi parlemen) atau melalui kudeta militer (perang).

Nah sekarang mari kita bahas. Kalau lah HTI, FPI, atau kelompok 212 di tuduhkan akan mengganti ideologi negara melalui apa ? Kalau melalui politik jelas mereka bukan lah partai politik. Jangankan itu, partai politik Islam yang sudah masuk parlemen saja masih sangat jauh kalah suara dari partai nasionalis.

Selanjutnya melalui militer ? Ini sungguh tak mungkin. Mereka tidak punya tentara apalagi senjata yang bisa melawan TNI-Polri ? Artinya. Cukup sudah dan hentikan narasi-narasi halusinasi paranoid yang selalu di bangun untuk menyudutkan Islam. Stop segala upaya agenda membangun narasi ketakutan dan kebencian terhadap Islam alias program Islamphobia.

Nah kalau sudah berbicara tentang agenda Islamphobia, berarti ini sudah masuh kompetisi theologis antar agama dan kepentingan politik. Kalau ini sudah kompetisi atau pertarungan ideologi, berarti negara jangan ikut latah dong. Karena untuk menyikapi ini para funding father kita sudah menyiapkan solusinya yaitu melalui software Pancasila dan UUD 1945. Jangan di rusak lagi tatanan yang sudah ada dengan norma sesat orderan politik kekuasaan sesaat.

Bangsa ini butuh narasi baru, energi baru yang positif dan besar agar bisa keluar dari tepian jurang resesi parah yang semakin dekat menghampiri. Agama Islam bersama ummatnya adalah aset utama bangsa Indonesia untuk bangkit. Bukan malah mau di habisi. Ini jelas seperti infiltrasi paparan ideologi komunis di China. VOC, Portugis dan Jepang saja ketika menjajah nusantara ini tidak begitu lancang mengacak-ngacak kehidupan beragama rakyat ketika itu. Karena pasti akan melahirkan perlawanan rakyat. Dan para penjajah sadar akan itu. Lalu bagaimana dengan pemerintah kita hari ini ? Aneh kan ? Siapa sebenarnya yang jadi duri dalam daging dan musuh negara ?

Untuk itu, mari kita kembalikan kehidupan berbangsa dan bernegara ini sesuai dengan falsafah kehidupan bangsa kita yakni Pancasila dan UUD 1945.

Mari kita berpikir jernih dan objectif. Buang segala rasa kedengkian dan kebencian terhadap Islam. Terima Islam sebagai ummat mayoritas di negeri ini dengan lapang dada. Kalau konsep khilafah dilarang ? Apa dasar konstitusinya. Semua harus terbuka dan adil. Khilafah itu menurut pemahaman penulis, adalah sebuah konsep kepemimpinan kolektif ummat Islam sedunia yang satu Tuhan, satu kitab suci, satu Nabi, satu kiblat, satu nilai, dan satu payung panji perlindungan persaudaraan sesama ummat Islam. Sebagaimana pernah diterapkan para pendahulu ummat Islam yang menjadikan Islam berjaya sebagai sebuah kekuatan imperium besar selama hampir satu milenium (1000 tahun) lamanya. Sejak mulai dari zaman Nabi, Khalifah Urrasyidin, Abbasiyah, Ummayah, dan terakhir Utsmani Turkey. Apakah ini salah ?

Dan penulis melihat. Akan sangat berlebihan apabila ummat Islam itu sendiri ikut-ikutan anti konsepsi khilafah tanpa terlebih dahulu memahami esensi sebenarnya. Dan untuk itulah, penulis berharap pemerintah dalam hal ini membuka seluas-luasnya diskusi ini secara ilmiah dan objectif. Bukan malah meresponnya dengan bahasa kekerasan dan kekuasaan tanpa tahu akan substansi permasalahan

Kalau khilafah ini dilarang ? Mengapa kita juga tidak melarang konsep Vatikan yang juga menggunakan konsepsi keummatan katolik yang hampir serupa di Indonesia ? Kalau khilafah ini tidak boleh ? Kenapa konsepsi barat seperti kapitalisme, sekulerisme, dan liberalisme begitu tumbuh subur di Indonesia. Padahal sudah sangat jelas, sekulerisme (memisahkan kehidupan dengan agama) sangat bertentangan dengan Pancasila sila pertama KeTuhanan yang Maha Esa ? Karena negara ini berdasar nilai keTuhanan atau bahasa lain dari nilai agama (keTuhanan) ?

Jadi kalau jujur kita lihat. Ini semua hanyalah ketakutan yang di paksa-paksakan dengan isu khilafah. Yang mereka takutkan dan benci itu sebenarnya adalah kebangkitan Islam yang saat ini begitu luar biasa di dunia. Di eropah rata-rata 1000 – 2000 orang masuk Islam tiap hari. Di Inggris hukum waris Islam di jadikan dasar hukum kerajaan. Masjid-masjid pun semakin tumbuh subur di Rusia, Jerman, Belanda, Prancis, dan lainnya.

Begitu juga ketika ada berbagai narasi kebencian mengkaitkan Islam secara sempit dengan bangsa Arab dan budaya berpakaian lainnya.

Seperti contoh. Kalau lah fakta sejarah bangsa ini dijajah, ditindas, ratusan tahun oleh bangsa Eropah dan Jepang ? Kenapa yang selalu setiap saat dibenci adalah bangsa Arab ?

Kalaulah pakai rok mini, rambut merah, serta operasi plastik wajah adalah modis dan bahagian privasi kehidupan ? Kenapa ketika ummat Islam memakai cadar dan bercelana cingkrang dipermasalahkan ?

Ketika rakyat boleh kumpul dengan konsep hura-hura pada tahun baru plus sampah berserakan, kenapa ummat Islam berkumpul hari ini dalam memperingati maulud Nabi Muhammad SAW dan reuni di permasalahkan ?

Banyak lagi sebenarnya narasi dan fakta ketidak adilan yang terjadi di negeri ini khususnya terhadap ummat Islam. Jadi sangat wajar, bentuk perlakuan ketidak adilan yang kasat mata ini di respon secara gegap gempita oleh ummat melalui aksi 212 hari ini.

Aksi dan reuni 212 hari ini adalah bentuk sebuah perlawanan masyarakat kelas civil society Indonesia hari ini. Karena terbukti di lakukan secara tertib, aman, dan penuh kehangatan. Dan semua ini tentu hanya bisa di lakukan oleh kelas (strata) masyarakat berperadaban tinggi. Dimana itulah sejatinya out put wajah Islam yang damai itu sebenarnya.

Dan semoga momentum ini terus berlanjut, sebagai sebuah spirit kebangkitan ummat Islam di dunia yang bermula dari Indonesia.

Sebagai bangsa Indonesia, tentu juga hal ini adalah sebuah nilai positif dan baik bagi kestabilan dan harmonisasi kehidupan bangsa kita. Dengan catatan, selagi dimaknai dan tidak keluar dari konsensus dasar berdirinya negara Indonesia yakni Pancasila, UUD 1945, Bhineka Tunggal Ika, dan NKRI harga mati. InsyaAllah.

Yogyakarta, 2 Desember 2019.

(Penulis adalah alumni PPRA 58 Lemhannas RI Tahun 2018).

11,908 kali dilihat, 88 kali dilihat hari ini

Lanjutkan Membaca

Batam

Sertifikat Bodong Singkirkan Pedagang Ke Pembangunan Pasar Induk Tahap II Yang Tidak Terealisasi Hingga Kini (Bagian III)

Diterbitkan

pada

Oleh

Laporan: Suharsad (Ketua LSM Penggerak Pengusaha Kecil Menengah)

Bag II: Ternyata setelah bangunan megah tersebut selesai, para pedagang kembali menghadapi kesulitan baru, dimana berbagai masalah yang pupuskan harapan sebagian pedagang menjadi sirna oleh permainan oknum-oknum yang ingin memperkaya diri memanfaatkan bangunan yang dimiliki pemerintah tersebut.

WAJAHBATAM.ID – 3/11/2019 | Bangunan megah Pasar Induk Jodoh Batam yang berdiri megah dan kokoh itu berdiri diluas lahan 4,7 Hektar dengan bangunan fisik seluas 1,7 Hektar. Bangunan itu terletak dikawasan strategis untuk sebuah pasar induk dimana dirancang sebagai pasar modern dengan semua fasilitas lengkap termasuk akses barang masuk dari laut yang rencananya akan dibangun dermaga perkapalan dibelakang pasar tersebut (laut Tanjung Uma).

Masa depan cerah yang terpancar diwajah para pedagang yang ditampung di TPS sebelah lahan pasar induk itu. Mimpi yang mereka cita citakan terkabul saat pemerintah Batam (Dinas Pasar) mulai melakukan sosialisasi tentang technis penempatan hingga hak dan kewajiban pedagang (2005)

Pedagang yang berhak masuk dan menempati kios adalah pedagang yang sudah terdata dan memenuhi kewajibannya, selanjutnya berhak memiliki selembar sertifikat untuk mendapatkan nomor cabut undi penentuan kios atau meja yang akan mereka tempati untuk meraih masa depan sebagai pengusaha.

Sisi Lain Polemik Pasar Induk Jodoh Batam (Bag 2)

Saat yang mereka tunggu ternyata mendapatkan kendala dan kerumitan, dimana banyak diantara mereka tidak mendapatkan nomor karena kios kios telah banyak yang memilikinya, dan itupun siapa saja boleh memilikinya asal mau beli sertifikat yang ditawarkan dari orang-orang dan oknum tertentu.

Mimpi yang sudah terealisasi itu terbukti dengan berdirinya Pasar Induk yang megah, hanya saja bukan lagi mereka yang memiliki, tapi sudah diisi oleh orang-orang yang mereka tidak kenal. Sebanyak 772 kios dan meja yang terisi itu rata rata bukanlah dimiliki pedagang, tapi dikuasai oleh orang orang yang mempunyai akses kepada oknum oknum Dinas Pasar kota batam saat itu, bahkan terdengar banyak dimiliki oleh oknum pejabat luar daerah dan lokal, uniknya lagi ada yang dimiliki oleh pedagang luar bahkan sampai belasan kios per orang,

Alhasil, untuk menentramkan pedatang yang sudah bermimpi tersebut para pedagang dijanjikan untuk pembangunan Pasar Induk Tahap II yang hingga sekarang pasar tahap ll dan lahan 3 Hektar itupun sudah tidak jelas statusnya, hingga kejadian demi kejadian sampailah proses ini diparipurnakan dalam sebuah di pansus yang diagendakan DPRD Batam, hingga lahirlah Swastanisasi pengelolaan oleh PT. GTA. Perperjuangan yang dilakukan oleh 3 orang yaitu Suharsad, Alm. Israel Ginting dan Wirda hingga saat ini belum selesai.

(Bersambung – Bab 4)

21,294 kali dilihat, 48 kali dilihat hari ini

Lanjutkan Membaca

Pasang Iklan Disini

Trending