Terhubung dengan kami

Oase

Anak, Antara Anugerah dan Musibah

Hidup ini adalah penuh role model. Anak akan melakukan apa yang dilakukan orangtua, bukan mengikuti omongan orangtua.

Diterbitkan

pada

Punya anak itu, musibah atau berkah?
Anak kita itu, anugerah atau beban?”
Anak kita itu lebih banyak memberi atau nuntut pada kita?

Sambil membaca kita pun mungkin pelan-pelan menjawabnya dalam hati dengan jawaban masing-masing.

Itu yang ditanyakan moderator dalam acara talk show memperingati milad “Al Mawaddah” yang ke-7 di Mesjid Raya Bogor pada tanggal 28 November 2018, dengan judul “Wahai Ayah Bunda, Apa Kabar Iman Anakmu?”

Anak itu bisa menjadi sumber kebahagiaan. Tapi pada saat yang sama, anak bisa menjadi sumber kesedihan.
Anak kita itu bisa menjadi sumber kebanggaan. Tapi pada saat yang sama anak itu bisa menjadi sumber kekecewaan.

Pada saat apa anak itu menjadi sumber kekecewaan?

QS Al Anfal : 28
“Dan ketahuilah bahwa hartamu dan anak-anakmu itu hanyalah sebagai cobaan (fitnah) dan sesungguhnya di sisi اَللّهُ ada pahala yang besar.”

Anak itu fitnah. Punya peluang untuk bisa menyeret kita dalam kesedihan.

Contoh:
Ada kasus seorang anak m b a (married by accident). Adakah orangtua yang bangga dalam keadaan anaknya seperti itu?

Adakah orang tua yang bangga ketika anaknya pulang sekolah, kepalanya bocor berdarah-darah, habis tawuran?
Adakah yang bangga dengan keadaan seperti itu?

Bogor salah satu kota yang tingkat tawurannya tinggi.

Tidak hanya itu, untuk hal kecil saja, misalnya nyontek. Anak-anak sekarang, mau ujian nasional tapi masih malas-malasan. Mending kalau sudah nyicil belajar dari jauh-jauh hari. Tapi mereka pingin NEM nya tinggi.”
Bagaimana, ceritanya pingin NEM tinggi tapi malas-malasan?
Ketika ditanya, jawaban anak-anak tersebut,”Ngapain belajar, nanti juga dapat bocoran soal.”
Dan itu sudah seperti membudaya.

Selain itu misalnya, di kelas tidur bukan karena sakit atau kelelahan karena tugas sekolah, galau, stres nggak jelas.

Kalau punya anak remaja,yang punya medsos, coba saja kita lihat akun-akun medsosnya.

Ini beberapa contohnya :
*Tuhan jika tidak kau biarkan dia di sisiku, maka terimalah dia di sisiMu.

Ini kan menginginkan mati.
Ada lagi :
*Jika dia jodohku dekatkanlah, jika dia bukan jodohku tolong dicekek saja

MAKA APA KABAR IMAN ANAK KITA?

Survey yang dilakukan BKKBN di tahun 2010, data tentang kasus-kasus aborsi yang dilakukan oleh remaja 100 kasus/hari.
Indonesia darurat pornography.

Ini kebanggaan atau kesedihan?

Tidak hanya pornografi.
Kalau dulu kita punya anak laki-laki, punya anak perempuan, yang kita khawatirkan, pergaulan bebas, punya pacar bablas, dan sebagainya.

Sekarang, kekhawatiran bertambah dengan adanya lgbt.
Di bogor itu darurat lgbt.
Di garut waktu itu, anak-anak pelajar punya group lgbt. Di Indonesia, lgbt ini sudah lebih dari 1 juta.
Menurut Republika sudah
1.095.970 gay di Indonesia.
INI ANCAMAN SERIUS.

Padahal muslim terbanyak itu ada di Indonesia.
Ya, memang muslim terbanyak tapi faktanya lagi 54% muslim di Indonesia nggak bisa baca quran. Kita mungkin bertanya,”Masa’ sih?”

Di serambi Mekkah, menurut rektor Unsiyah, 82% mahasiswa barunya nggak bisa baca Qur’an.

Apa yang terjadi dengan anak-anak kita?
Maka apakah kita sebagai orang tua kecewa atau biasa saja?
Sedih kah melihat kenyataan tadi?
Ada anak smp, baru kelas 8, pacaran sudah seperti suami istri tidak malu lagi di depan umum.
Malah orang tua sekarang ada yang marah kalau anaknya nggak punya pacar. Akhirnya berzina, selelah itu hamil, apakah ada orang tua yang bangga dengan keadaan itu?
Semua orang tua pasti kecewa.

Tapi nggak usah khawatir, anak kita juga punya peluang untuk menjadi anak yang membanggakan.
Ketika apa?
Contohnya :
Menjadi HAFIZ QURAN. Nggak ada orang tua yang nggak bangga anaknya menjadi hafiz.

Anak kita pun punya peluang untuk menjadi sumber kebahagiaan.
Ketika apa? Jadi anak yang berprestasi, dapat beasiswa ke luar negeri, dan lain-lain.

Lalu bagaimanakah anak-anak kita itu agar selamat keimanannya?

Kalau melihat fakta anak-anak zaman sekarang ini, kita sebagai orang tua kan khawatir. Adakah tips dari Rosululloh, bagaimana agar anak itu menjadi sumber kebahagiaan di dunia dan akhirat?

Anak adalah sesuatu yang penting. Kepedulian kita terhadap anak itu mesti dari awal. Jangan sampai kita menyesal dulu baru memberi perhatian kepada anak. Tentu kita tidak luput dari doa yang sudah digariskan oleh اَللّهُ swt :

رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا

”Wahai Robb kami, karuniakanlah pada kami dan keturunan kami serta istri-istri kami penyejuk mata kami. Jadikanlah pula kami sebagai imam bagi orang-orang yang bertakwa.”
(QS. Al Furqon:74)

Dalam tafsir milenial ini, qurrota a’yun itu kan nyenengin. Jadi kita minta sama اَللّهُ pasangan/istri dan anak keturunan yang bisa nyenengin (qurrota a’yun).

Untuk tips mendidik anak, banyak sekali ayat tentang ini di Al Qur’an.
Kita ambil contoh dari sahabat Rosululloh yang paling galak saja dulu. Umar bin Khattab.

Kalau Rosululloh mendidik anaknya, sudah kebayang pada kita santun dan lembutnya, dan memang orangnya begitu. Usman bin Affan mendidik anaknya, juga sama.
Mungkin timbul pertanyaan di benak kita gimana Umar mendidik anaknya?

Ternyata ketika digali bagaimana Umar mendidik anaknya ini, luar biasa. Kita ambil contoh suatu kisah.
Suatu saat Umar bin Khattab ini, ingin mengangkat seorang pejabat (dulu pejabat ditunjuk langsung, kalau sekarang kan ada pilkada), tiba-tiba ketika sedang asyik ngobrol, lewat, berlari-lari anak kecil.

Bayangkan, yang kita tau Umar itu galak dan setiap orang takut padanya. Dalam pikiran kita kalau ada anak kecil berisik, pastilah beliau marah. Ternyaya tidak.

Anak kecil itu malah dipangku, dicium, dielus dengan penuh kasih sayang.
Laki-laki itupun bertanya,”Ya Umar apakah engkau sering melakukan hal itu? Menggendong anak kecil, mencium mereka dan mengusap kepalanya?”

Umar menjawab,”Ya. Begitu Nabi mengajarkan pada kami”

Kebanyakan bapak-bapak kurang peduli hal ini. Denger anak nangis dibiarkan saja. Kenapa? Kan ada emaknya. Dikit-dikit kan ada emaknya.

Laki-laki yang bersama Umar tadi pun berkata lagi,”Saya punya anak, tidak pernah saya gendong, tidak pernah saya cium, tidak pernah saya usap kepalanya.”

Kata Umar,”Punya anak tapi tidak pernah ditunjukkan rasa kasih sayang.”

Dan akhirnya, Umar pun membatalkan pengangkatannya sebagai pejabat, gara-gara nggak sayang anak.
Jadi bagaimana bisa memperhatikan rakyat kalau anak sendiri tidak diperhatikan?

Pernah dikisahkan suatu saat pada saat sholat berjemaah, Rosul menjadi imam, di sujud yang ke sekian, dia lama sekali sujudnya. Di kisahkan salah seorang yang saat itu melihat ternyata yang terjadi, salah seorang cucu Rosululloh duduk di punggungnya. Beliau relakan memperlama sujud karena khawatir cucunya terjatuh kalau dia bangun.

Jadi rasa sayang Rosulullah terhadap keluarga terutama anak kecil itu sering terlihat, begitu juga dengan sahabat-sahabat yang lain.

Sosok Umar yang begitu tegas, bahkan setan aja takut, tapi begitu dengan anak-anak dia sangat lembut. Sementara kebanyakan kita dalam kondisi seperti itu, mendengar anak berisik, ada yang membentak.

Kita ini harus peduli ke anak, terutama ketika anak kita masih kecil?
Bukankah doa anak kepada orangtua ujungnya “kama rabbayani shaghiran”?

Yang bisa kita lihat dalam kalimat terakhir di do’a itu intinya, kemarin sebagai anak, kedua orang tuaku mendidik aku dengan penuh kasih sayang.

Dan anak meminta اَللّهُ menyayangi orang tuanya seperti orangtuanya menyayanginya sewaktu dia kecil.
Ketika anak kita masih kecil, kita sentuh dia dengan kasih sayang, nanti setelah kita tua, ini akan menjadi doa, mereka akan menyadari apa arti sentuhan kita yang dulu.

Ada seseorang ketika dihadapan اَللّهُ dia bingung…
“Ya اَللّهُ, kenapa aku ini di tempatkan di tempat yang tinggi (mulia) ya اَللّهُ, kenapa anak kami menempatkan kami di tempat yang tinggi ya Robb.”

Dan اَللّهُ berkata,”Wahai kau yang ditempatkan di tempat yang tinggi, karena engkau telah mendidik anak-anakmu supaya berbakti kepada orangtua, dan engkau didik anakmu sebagaimana aku ingin dia berbakti kepadaKu.”

Dan para sahabat bertanya pada Rosululloh,”Ya Rosululloh, bagaimana aku ini mendidik anak supaya berbakti pada اَللّهُ dan Rosulnya, dan berbakti pada ibu dan bapaknya?”

Rosululloh menjawab,”Ajaklah mereka…Terimalah kekurangan mereka, ampuni kesalahannya.”

Dan di sini di dalam Al Qur’an :

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنَّ مِنْ أَزْوَاجِكُمْ وَأَوْلادِكُمْ عَدُوًّا لَكُمْ فَاحْذَرُوهُمْ وَإِنْ تَعْفُوا وَتَصْفَحُوا وَتَغْفِرُوا فَإِنَّ اللَّهَ غَفُورٌ رَحِيمٌ

“Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya di antara isteri-isterimu dan anak-anakmu ada yang menjadi musuh bagimu, maka berhati-hatilah kamu terhadap mereka; dan jika kamu memaafkan dan tidak memarahi serta mengampuni (mereka), maka sungguh, اَللّهُ Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”
(QS. At-Taghaabun: 14)

Jangan sampai anak kita menjadi monster, jadi musuh kita kelak. Jangan sampai anak kita menarik kita dari surga menuju neraka.

Prestasi terbesar orangtua adalah ketika anak itu membimbing dia mengucapkan

لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُوْلُ اللهِ

Ini prestasi!!!

Tipe anak :
Yang pertama, sebagai ‘aduwwun (musuh orang tuanya). Anak kita itu bisa menjadi musuh.

Yang kedua, anak bisa menjadi fitnah. Innama auladukum fitnah.

Yang ketiga, anak bisa menjadi qurrota a’yun.

Al quran, selalu bicara solusi. Quran itu adalah kebenaran yang tidak bisa diperdebatkan.

Ternyata di dalam Al Qur’an ini ada cara supaya anak kita ini tidak menjadi musuh. Anak kita ini tidak menjadi ‘aduwwun bagi emak bapaknya. Apa solusinya?

وَإِنْ تَعْفُوا وَتَصْفَحُوا وَتَغْفِرُوا فَإِنَّ اللَّهَ غَفُورٌ رَحِيمٌ

Supaya anak itu tidak menjadi musuh, اَللّهُ bilang pada kita,”Ikhlas”. Apa bila engkau memaafkan, engkau rangkul dia, dan ampuni dia, sesungguhnya اَللّهُ Maha Pengampun dan Maha Penyayang.

Makanya jika tidak ada cinta di dalam rumah, apa yang terjadi?

Dalam QS At-Taghaabun ayat 14, ada problem dan solusi.
Anak bisa jadi musuh, bisa menjadi fitnah, solusinya di At-Taghaabun ayat 14. Memaafkan, merangkul, mengampuni.

Jadi kalau kita bertanya, yang utama, melembutkan anak kita atau melembutkan diri kita dulu?

Ibarat kita naik pesawat. Sebelum berangkat, pramugari selalu menyampaikan, pelampung harus dipakai dulu oleh ibu/bapaknya, baru kemudian memakaikan untuk anaknya.
Itu proses dalam penyelamatan saat keadaan darurat.

Hidup ini adalah penuh role model. Anak akan melakukan apa yang dilakukan orangtua, bukan mengikuti omongan orangtua.
Misalnya, orangtua nyuruh sholat, tapi dia sendiri nggak sholat, boro-boro anak melakukannya.

Sudahkah kita lembut dan ikhlas terhadap anak, sudahkah kita memaafkan dan menerima kekurangannya?

Catatan Diana
Milad Al Mawaddah
Mesjid Raya Bogor
Narasumber :

  1. Ustadz Hepi Andi Bastoni, Lc, MA
  2. Ustadz R.Muhajir Afandi, M.Pd
  3. Ustadz Dadang Holiyulloh
  4. Habib Ahmad Al Munawar, Lc

2,107 kali dilihat, 2 kali dilihat hari ini

Iklan
Klik untuk komentar

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Oase

Adil & Hargai Belahan Jiwamu

Diterbitkan

pada

Oleh

WAJAHBATAM-14 APRIL2019| Adil sebuah kata yang selalu akan muncul di permukaan jika kita di hadapkan suatu masalah…
Adilkah ?????
Tapi pantaskah kita mengajukan pertanyaan demikian jika sudah berada dalam dilema yang menurut kita yang harus kita jalani dalam hidup yang tidak sedikitpun kita inginkan merasakannya.
Begitu banyak pertanyaan seperti itu selalu akan muncul terutama terhadap kaumku yang merasa sudah memberikan semua hidupnya , pengabdiannya demi meraih apa yg di sebut kebahagian.

Jangan pernah menuntut keadilan itu di dunia ini karena “Apa yang menurut kita adil tidak selalu adil buat Allah yang menciptakan kita..
Selalu yakinkan diri bahwa apapun yg di berikan oleh yang Maha Kuasa atas perjanan hidup kita itulah yg adil dan sesuai dengan kita sebagai umatnya dan jangan pernah ragukan akan hal itu.

Saya pernah bertemu dengan seorang wanita yang mempertanyakan akan hal ini.
Apakah yang harus kita lakukan pada suami kita jika dia (suami), tidak memperlakukan kita dengan adil pada hati dan perasaan kita , Bu??????
Katanya..
Saya sudah korbankan seluruh umur ,masa muda .karir bahkan cita cita untuk mendampingi hidupnya dalam berumah tangga.
Tapi pada akhirnya dia membuat hati dan perasaan saya hancur karena kinginan nafsu dan duniawinya yang tiada bertepi.
Bukan sekali ,dua kali dia menghancurkan perasaan saya.
Dan ini sudah ketiga kalinya dia memperlakukan saya seperti ini.ungkapnya dengan cucuran air mata yang sudah menganak sungai di pipinya.

Saya ikut terenyuh dengan dengan alur ceritanya kehidupan yang di jalaninya selama ini dimana sebagai wanita yang hanya mempunyai rutinitas di rumah saja tentu hal ini membuat bebannya semakin terasa berat buatnya.
Memang beberapa kali dia meminta nasehat dari saya.
Tentang bagaimana penghargaan suaminya yang kurang terhadap orang tua dan keluarganya..
Bercerita suaminya yg tidak memberikan kepercayaan penuh terhadapnya dalam mengatur keuangan dalam rumah tangga.
Dan beberapa kali cerita tentang perselingkuhan suaminya dengan beberapa perempuan di luar sana .
Yang tadinya hanya dia kira sebagai relasi atau teman kerja suaminya yang seorang Pengusaha.

Ah…hidup, demikian pelik buat dia, yang harus tetap bisa menerima akan hal itu walau dalam hatinya terjadi pergolakan batin yang maha kuat .
Aku hanya bisa melihat dan mendengarkan semua keluh kesahnya dengan perasaan yang bercampur tak menentu.
Tidak tau apa yang bisa di perbuat untuk meringankan bebannya.
Karena dalam kehidupan rumah tangga orang lain kita tidak bisa masuk terlalu dalam .
Dan kita juga tidak boleh menghakimi di antara mereka siapa yang bersalah.
Cuma sebagai seorang teman saya hanya bisa sebagai pendengar yang baik dari semua curahan hatinya.

Munculkah satu pertanyaan yang sangat saya takutkan itu dari mulutnya.
“Adilkah semua ini..?????
Katanya.
“Memangnya dia kira, saya juga tidak bisa berbuat seperti dia, ungkapnya lagi.
Serrrrr ….jantung saya terasa copot mendengar pernyataannya itu.
Ini adalah hal yang paling saya takurkan terjadi pada seorang wanita yang sudah tidak berfikir jernih lagi jika di dera suatu masalah.

Saya hanya bisa memegang tangannya dan berkata …Istighfar…..
Jangan kamu ucapkan perkataan sepeeti itu
dan jangan kau ikuti rayuan setan yang akan menjerumuskan dirimu dalam lembah dosa yang semakin dalam.
Kamu adalah wanita dan tidak sama dengan laki laki .
Memang , mungkin saat ini kamu merasa dunia ini tidak adil .
Karena kamu tidak akan dapat menuntut keadilan yang hakiki di dunia karena itu hanya bisa kita dapatkan di kehidupan kita nanti.
Ungkapku untuk menyadarkannya
Dan selalu yakinkan diri kita apapun permasalahan yang kita hadapi hari ini selalu ada jalab keluar yang baik jika kita selalu menyerahkan hidup ini dengan ikhlas ke pada Sang Pencipta.
Tapi itu tidak mudah.perlu perjuangan dan tekad yang kuat.
Yang kamu butuhkan sekarang adalah ketenangan dan kejernihan berfikir tanpa mengikuti hawa nafsu untuk membalas perbuatannya yang belum tentu akan membuat diri kamu akan bahagia malah mungkin kehancuran yang semakin kamu rasakan , Ungkap ku diakhir pertemuan itu.

Sejak pertemuan itu sampai sekarang .
Kami belum pernah bertemu kembali.mungkin lain waktu saya akan coba menghubunginya kembali.
Tapi saya selalu mendoakan yang terbaik untuknya apapun itu.

Dan untuk kaumku “JANGANLAH MENUNTUT
KEADILAN YG HAKIKI DI DUNIA INI.
KARENA TAKKAN KAMU DAPAT .”

Dan serahkan hidupmu pada Zat yang memberi kamu kehidupan.

#Savekaumku..(Rina Silfya,S.Pd)

 

924 kali dilihat, 14 kali dilihat hari ini

Lanjutkan Membaca

Batam

Nasehat Untuk Pemburu Jabatan

Diterbitkan

pada

Oleh

WAJAHBATAM.ID |

Oleh: Ustadz Erwin Abu Ghaza (Wakil Ketua FUI MUI Batam)

Nasehat buat *Abu Dzar al Ghifari* yg meminta kursi jabatan dan juga nasehat buat kita semua.

Didalam salah satu riwayat, disebutkan bahwa pada suatu ketika Abu Dzar sengaja mendatangi Rasulullah Saw, untuk meminta sebuah jabatan untuk dirinya sendiri. Pada saat itu, Abu Dzar mengatakan kepada Rasulullah Saw; “Wahai Rasulullah Saw, tidakkah Anda menjadikanku sebagai pegawai (pejabat).” Ungkapnya.

Mendengar pernyataan dan permintaan dari Abu Dzar tersebut. Rasulullah Saw, tersenyum sembari menepuk-nepuk pundaknya. Beliau bersabda: “Wahai Abu Dzar, sesungguhnya engkau seorang yang lemah dan sesungguhnya jabatan itu adalah suatu amanah, dan sesungguhnya ia adalah kehinaan dan penyesalan di hari kiamat kecuali yang menjalankannya dengan baik dan melaksanakan tanggungjawabnya” (HR. Muslim).

Mendengar jawaban dari Rasulullah Saw, tidak sedikit pun terbersit rasa kecewa dalam diri Abu Dzar. Ia justru merasa sangat beruntung karena telah diselamatkan oleh Rasulullah Saw, dari perangkap jabatan yang dipenuhi dengan tipu muslihat bagi siapa pun yang tidak mampu menjalankannya dengan penuh amanah. Semenjak saat itu kecintaan Abu Dzar kepada Rasulullah Saw, semakin meningkat.

Namun, apa bisa dibayangkan apabila hal itu terjadi saat ini. Adakah mungkin akan ada pemandangan perebutan jabatan yang menghalalkan cara. Bahkan dalil-dalil keagaam tidak jarang dikeluarkan semata-mata hanya untuk mejatuhkan rival politiknya dan mengangkat tokoh pujannya, atau dirinya sendiri.

Dalam kehidupan berbangsa dan bernegara dapat kita jumpai, betapa banyak orang-orang Islam dengan pengetahuan agama yang sangat tinggi berebut untuk bisa menjadi pejabat. Bahkan, tidak sedikit yang berani melakukan segala cara. Namun ketika mereka terpilih, mereka pun tidak terbukti mampu untuk memenuhi janji-janji mereka. Bahkan untuk bersikap amanah saja mereka tidak bisa.

Ironisnya, justru mereka malah terjerat dalam berbagai macam kasus yang menjatuhkan martabat mereka, semisal terlibat dalam kasus korupsi dan lain sebagainya. Hal ini adalah bukti bahwa keinginan untuk menjadi pejabat, harus diukur dengan kemampuan untuk menjalankan amanah tersebut. Sebab tidak semua keinginan harus menjadi kenyataan.

#ErwinAbuGhaza

10,158 kali dilihat, 14 kali dilihat hari ini

Lanjutkan Membaca

Oase

Biasakan Dirimu Memberikan Yang Terbaik

Diterbitkan

pada

Oleh

WAJAHBATAM.ID-April 2019| Assalamualaikum
Semoga tulisan ini menjadi perhatian kepada seluruh ibu ibu rumah tangga seperti saya.

Karena salah satu tugas dan tanggung jawab kita adalah memnyediakan makanan yang baik, sehat dan halal yang utama bagi keluarga yang kita cintai ini.
dan berawal dari beberapa hari belakangan yang membuat resah adalah bahan tambahan pembuatan makanan yang mengandung zat zat berbahaya dalam produksinya.

Karena itu sebagai masyarakat kita harus menjadi konsumen cerdas agar terhindar dari obat dan makanan yang membahayakan kesehatan dan selalu waspada dengan selalu membaca dan memastikan bahwa setiap makanan dan obat obatan yang akan kita beli ada tertera izin BPOM dan Sertifikat halalnya agar makanan yang akan di kosumsi oleh keluarga kita adalah makanan yg sudah di periksa dengan baik .

Selanjutnya membantu melaporkan pada pihak Badan POM RI, jika menemukan adanya pelanggaran atau dugaan tindak pidana khususnya kejahatan di bidang obat dan makanan.
Siapa lagi yang akan memberikan informasi ini kalau bukan kita, sebagai ujud kewajiban kita sebagai warga negara yang baik dan masyarakat yg peduli terhadap orang lain.
semoga kita bisa selalu saling meng ingatkan antara kita….

#Savegenerasiku

(Rina Silfya,S.Pd)

 

1,749 kali dilihat, 14 kali dilihat hari ini

Lanjutkan Membaca

Trending