Terhubung dengan kami

Oase

Birrul Waliadin

Diterbitkan

pada

Di suatu kajian rutin bersama teman-teman pengajar, ada sedikit pembahasan tentang birrul waliadin (berbakti pada orang tua).

Mungkin ini materi biasa bagi semua orang, tapi kadang sangkin biasanya, malah seakan menjadi sesuatu yang tak terlalu penting. Padahal sangat penting.

Umumnya di pengajian itu selalu dibahas tentang “birrul waliadin” ini di posisi kita sebagai anak.

Suatu hari ada suatu kisah sedih (setidaknya bagiku ini sedih), tentang seorang anak laki-laki di penghujung masa SMA yang dihadapkan dengan pilihan masa depannya, akan kuliah dimana, akan memilih jurusan apa.

Dia seorang siswa yang pintar, santun dan tak banyak bicara.

Yang aku tau selama ini, dia ingin sekali menjadi guru, tapi standard lah orangtua pasti lebih suka anaknya jadi dokter. Itu terungkap ketika pertemuan siswa, orangtua dan guru. Ini tradisi di tempatku mengajar tiap smester-an.

Anak ini tidak membantah sama sekali ketika dia harus berubah haluan. Tidak terlihat wajah kecewannya namun samar terlihat betapa kuatnya dia menahan kekecewaan.

Singkat cerita setelah kejadian itu dia minta izin untuk kos dengan alasan ingin lebih berkonsetrasi dan hari-hari yang dilalui setelah itu penuh dengan diam. Dan ini masalah.

Ternyata dia kecewa tapi takut membantah karena tak ingin durhaka. Dia pergi karena tak ingin bertemu ibunya lalu dia tak mampu menahan rasa kecewa itu.

Dia bahkan tak mau dimediasi agar menemukan solusi terbaik. Hanya karena tak ingin membantah ibunya.

Tapi dengan begitu dia nggak akan move on dengan rasa kecewanya….dan yang menyesakkan dada adalah jawabannya…

“Biarin nggak apa saya jalani saja begini sesuai maunya ibu saya.”

“Sampai kapan kamu begini?”

“Tak apa meski sampai seumur hidup saya.”

Beda sekali dengan reaksi siswaku yang lain yang harus menerima kekecewaan terhadap ibunya yang ngamuk di hadapanku karena merasa malu sebagai seorang scientists kog punya anak pingin jadi seniman. Anak yang ini, pergi meninggalkan aku dan ibunya dengan ucapan, I hate my Mom!”

Dua kasus yang menimbulkan pertanyaan. “Bagaimana kah mereka dapatkan surga itu nanti?”

Haruskah memendam kecewa agar mendapat ridhoNya karena ridho اَللّهُ tergantung ridho orang tuanya.

Bagaimana mekanisme ridho itu sebenarnya?

Lalu bagaimana ketika di posisi kita sebagai orang tua? Sebenarnya tanpa kita sadari, jangan-jangan, kita lebih mudah untuk menggiring anak kita ke neraka dibanding ke surga dengan marahnya kita, dengan ngambeknya kita dengan murkanya kita.

Dan Ustadzah Dian H menjawab tanda tanya itu. Semoga ini bermanfaat untuk bekal kita sebagai orangtua.

Ternyata, sebenarnya itu ada pada pemahaman. Makanya pentingnya kita untuk ngaji ini adalah agar kita menyadari bahwa, apalagi kita sebagai ibu, ucapan kita, becandanya kita aja pun harus kita jaga jangan sampai efeknya tidak baik ke anak kita.

Kalau ibu sakit hati, nggak usah berucap pun, tertahan kebaikan untuk kita.

Kalau Malinkundang itu memang benar ada, boleh jadi memang kejadiannya menjadi batu, karena durhaka sama orangtua itu azabnya langsung di dunia.

Dengan kita mencari ilmu agama, kita jadi tau berarti kita harus sabar karena begitu kita marah, malah kita yang kena.

Jadi kita, harus sadar sebagai ibu itu, kita harus lapang pada anak kita.

Sebenarnya semakin kita penuh amarah berarti kita merugikan diri kita sendiri.

Karena begitu anak kita nggak suka pada kita, dia nggak bisa menjadi anak sholeh/sholehah.

Gimana dia mau mengangkat doa untuk ibu yang dia nggak suka?

Toh akhirnya nanti kesabaran kita ini akan melahirkan anak-anak yang dengan sadar mendoakan kita, menyayangi kita. Artinya kesabaran kita ini nanti, baliknya ke kita lagi.

Surah Al Israa’ 7

إِنْ أَحْسَنْتُمْ أَحْسَنْتُمْ لِأَنْفُسِكُمْ

Jika kamu berbuat baik (berarti) kamu berbuat baik bagi dirimu sendiri

Nah ketika kita paham itu, maka kita اِ نْ شَآ ءَ اللّهُ akan menjaga kesabaran kita. Jadi, yang didapat bukan birrul walidain saja tapi kita juga jadi ibu yang memang pantas untuk di-birrul walidain-i.

Kan ada kewajiban orang tua juga.

Kewajiban seorang ayah adalah memilihkan ibu yang baik, memberikan namanya yang baik, memberi nafkah yang halal.

Kewajiban ibu apa?

Kewajiban ibu mengajarkan hal yang nanti akan diturunkan anak kepada anaknya lagi. Yaitu, menanamkan aqidah, hal-hal yang sifatnya malah mendidik, membentuk dia menjadi sesuai yang اَللّهُ ciptakan. Kalau kita nggak berjuang untuk itu, anak kita biasa-biasa saja…ya jangan nuntut juga untuk dia menjadi sholeh/sholehah.

Yang ditanya itu hati.

Misalnya kita berjuang untuk nggak marah kah?

Menahan marah itu perjuangan juga lho…bukan tanpa perjuangan. Dan setiap perjuangan itu pasti ada nilainya.

Ketika kita sadar bahwa murkanya kita akan mendatangkan murkanya اَللّهُ…itu artinya kalau اَللّهُ murka sama anak kita kan ujung-ujungnya dia kaya’ anak durhaka. Lalu akhirnya nya akan masuk neraka. Sebagai orang tua kan kita nggak akan tega seperti itu.

Cuma kadang-kadang kesabaran sebagai orang tua itu memang diuji banget. Apalagi punya anak yang usia remaja yang benar-benar usia menguji kesabaran.

Itu masalah pemahaman.

Jadi orangtuanya harus paham bahwa dia (anaknya) melakukan hal yang kurang baik itu nggak ujuk-ujuk (tiba-tiba). Anak kita kan nggak ujuk-ujuk segede kita.

Ada proses di masa kecilnya. Dan peran kita di masa kecil itu sangat menentukan karakter dia setelah besar.

Coba ingat lagi saat anak kita minta dipeluk…mungkin saat itu dia pingin merasakan nyamannya dilindungi…diperhatikan…disayang…

Ketika mungkin dia marah sama teman, kecewa sama guru…dia nggak bisa lagi kemana-mana… kalau mau meluk…ya ibu yang dicari…tetap ibu adalah orang di dunia ini yang paling percaya bahwa dia itu baik.

Dan itu ngga sekarang efeknya…nanti…

Biarkan saat kecil yang dia tau…”I’ll be there for you.”

Meski kata itu nggak kita ucapkan tapi dia bisa rasakan.

Itu kan harganya nggak bisa kita ulang lagi.

Mau lari kemana kalau ibunya nggak bisa menyediakan pelukan, kalau ibunya nggak bisa menanamkan bahwa kamu adalah salah satu anak terbaik yang اَللّهُ titipkan dan itu kita omongin sampai melekat dalam ingatannya sambil memeluknya.

Atau setiap hari apa yang dia dapatkan di sekolah kita siap mendengarkan, karena saat masih kecil itu dia logikanya belum jalan. Dan jika kita tidak melakukan saat itu, saat dia ketakutan dia nggak mendapatkan pelukan nggak ada tempat yang bisa memberi rasa aman, itu bisa menjadikan dia di masa besarnya kurang peduli, kasar, dan perilaku yang mungkin tidak sesuai harapan kita.

Itulah mungkin maka terjadi anak

sampai bisa nyebut “I hate my mom”.

Sementara sering kita merasa sudah memberikan segalanya untuk anak. “Kog anak ga bisa nurut?”

Akhirnya bawaannya marah melulu, dan timbullah rasa benci di hati anaknya.

Apakah kita sudah memberikan hak “perhatian” untuknya di masa kecil?

Kadang anak kecil itu kan memang suka manja-manja nggak jelas…minta dipeluk, karena dia nggak bisa mengungkapkan dengan kata apa yang dia inginkan. Kalau kita menolak saat dia masih kecil, dia akan merasa tertolak. Dan jangan heran kalau tak mudah mendekatinya saat dia besar.

Ketika ibunya bisa memberi rasa cukup…cukup diperhatikan, cukup disayang…kelak di masa besarnya jalan bareng ibu itu bagi dia akan menjadi sesuatu yang istimewa. Dia pegang tangan kita cerita-cerita…

Bukankah perhatiannya nanti yang kita butuhkan saat kita sudah tua dan lemah??

Lakukanlah itu selagi sempat karena kalau kita nggak lakukan saat itu, waktu tidak bisa diulang kembali. Dengan melakukan kedekatan di masa kecilnya kita bisa mengenal…ohh anak kita maunya dibeginiin…dengan kita memahaminya اِ نْ شَآ ءَ اللّهُ benturan di masa besarnya bisa diminimalisir.

Kadang hal sepele sebenarnya. Tapi makin anak besar, yang paling dia ingat kan bukan ingatan berupa kata, tapi sentuhan. Ketika dia takut, sedih, siapa yang nyentuh dia?

Jangan sampai di masa kecilnya anak kita takut meminta diperhatikan sama kita. Itu di masa besarnya dia bisa benar-benar takut dan itu menjadi jurang pemisah yang sulit untuk disatukan.

Contoh kasus di atas, anak tidak mau bertemu karena takut salah, takut durhaka.

Atau misalnya kita merasa sudah melakukan yang terbaik, tapi memaksakan kehendak kita. pokoknya kamu harus begini…harus begitu…yang begini bisa menimbulkan rasa takut anak terhadap orangtua. Ketakutan yang bisa negatif juga efeknya.

Hati-hati ketika kita tidak memberikan hak anak di usia kecil, hak birrul waliadin nggak mudah kita dapatkan.

والله أعلمُ بالـصـواب

Catatan Diana

Kajian Ustadzah Dian H

590 kali dilihat, 5 kali dilihat hari ini

Iklan
Klik untuk komentar

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Batam

Waktunya Doa Akan Di Kabulkan

Diterbitkan

pada

Oleh

WAJAHBATAM.ID-7/Mei/2019|
Assalamualaikum.
Bismilahirahmanirahim.

Setiap manusia selalu mempunyai keinginan untuk dapat meraih,memiliki sesuatu yang mereka impikan dan keinginan itu bisa mereka dapatkan dengan kata kunci yang harus mereka miliki yaitu “Keyakinanakin”.
Keyakinan yang hakiki di selingi dengan doa yang tiada henti di waktu watu yang mustajab, meminta kepada Yang Maha Pemberi Rejeki ( Allah) adalah salah satu cara yang harus di tempuh.Karena dengan Berdoa dan Tawakal kepada Allah, Allah akan memberi rejeki dari arah yang tidak kita sangka.

Seperti Firman Allah berikut :

Barangsiapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar dan memberinya rezeki dari arah yang tiada disangka-sangkanya. Dan barangsiapa yang bertawakal kepada Allah, niscaya Allah akan menjadikan baginya kemudahan dalam urusannya.” QS. Ath-Thalaq (65) : 2- 4

Dengan janji Allah tersebut maka kita bisa menggunakan keberkahan bulan suci Ramadhan ini, sebagai salah satu waktu waktu yang mustajab untuk berdoa dan memohon limpahan rahmatnya.

Karena berbeda dengan bulan yang lain, pada bulan Ramadhan banyak waktu mustajab untuk berdoa. Di antaranya adalah waktu menjelang berbuka. Bahkan sepanjang waktu puasa mulai terbitnya fajar hingga terbenamnya matahari adalah waktu yang mustajab untuk berdoa. Berdoa di waktu puasa Ramadhan ini lebih dikabulkan Allah.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
ثَلاَثَةٌ لاَ تُرَدُّ دَعْوَتُهُمُ الصَّائِمُ حَتَّى يُفْطِرَ وَالإِمَامُ الْعَادِلُ وَدَعْوَةُ الْمَظْلُومِ
“Tiga orang yang doanya tidak tertolak: orang yang berpuasa sampai ia berbuka, pemimpin yang adil, dan doa orang yang dizholimi” (HR. Tirmidzi; hasan)

Maka jelas sudah di antara keutamaan bulan suci Ramadan ini adalah waktu di kabulkannya doa – doa kita.
Maka pergunakan sebaik baiknya agar Bulan yang penuh berkah ini tidak berlalu begitu saja tanpa kita mendapat apa apa.

Maka yakinkan diri dan berdoalah dengan khusyuk dan sungguh sungguh niscaya kita akan mendapat apa yang menjadi keinginan kita kelak.
Aamiin..Aamiin..ya Robbal alamin.
Wassalamualaikum.

(Rina Silfya)

23,240 kali dilihat, 49 kali dilihat hari ini

Lanjutkan Membaca

Batam

Bulan Ramadhan Bulan Pengampunan Dosa

Diterbitkan

pada

Oleh

WAJAHBATAM.ID6Mei2019

Assalamualaikum
Bismilahirohmanirohim

Mabi muhammad Rasullulah SAW
Pernah bersabda,
Barangsiapa yang berpuasa Ramadan karena keimanan dan hanya mengharap pahala, dosa-dosanya yang telah lalu akan diampuni.” (HR. al-Bukhari).

Salah satu makna dari bulan suci Ramadhan adalah sebagai bulan pengampunan dosa seperti yang sudah di jelaskan pada hadist di atas.

Di mana Allah SWT sudah menjanjikan kepada umatnya akan memberikan pengampunan segala dosa dan kebebasan dari siksa api neraka terhadap orang orang yang berpuasa karena keimanannya dan semata mata untuk mengharap ridha-Nya.

Selain itu di bulan yang penuh berkah ini pintu pintu surga akan di buka dan pintu neraka akan di tutup serta setan setan akan di belenggu seperti
Sabda Rasulullah dibawah ini..

“Sungguh telah datang kepadamu bulan yang penuh berkah, dimana Allah mewajibkan kamu berpuasa, dibuka pintu-pintu syurga, ditutup pintu-pintu neraka, dibelenggu setan-setan. Di dalam Ramadhan terdapat malam yang nilainya lebih baik dari seribu bulan. Maka barangsiapa yang tak berhasil memperoleh kebaikan Ramadhan, sungguh ia tidak akan mendapatkan itu buat selama-lamanya” (HR Ahmad, Nasa’i dan Baihaqi).

Maka sepatutnyalah kita tidak menyia – nyiakan kesempatan ini untuk ebih memperbaiki diri agar pengampunan dosa yg sudah di janjikan itu dapat kita raih.tentunya dengan memperbanyak amalan dan Ibadaah serta meningkatkan ketakwaan di bulan yang penuh rahmat ini dengan niat semata karena Allah.
Sehingga kita menjadi Pribadi yang lebih baik lagi di masa mendatang.
Aamiin ya Robbal alamin.
Wasallamualaikum

( Rina Silfya)

9,252 kali dilihat, 39 kali dilihat hari ini

Lanjutkan Membaca

Oase

Duh…Gusti…Hatiku Bukan Batu Pualam

Diterbitkan

pada

Oleh

WAJAHBATAM.ID-27April 2019| Tanpa terasa 2 tahun berlalu sudah perjalan hidup yang penuh onak dan duri kami lalui kembali
Tidak mudah memang..memulai kembali rasa yang pernah pupus agar bisa kembali di bangun setahap demi setahap.
Namun semua perlahan namun pasti bisa kembali di perjuangkan dengan ke Ikhlasan yang tinggi .

Tapi perjalanan hidup tidak pernah bisa kita lupakan begitu saja.dan masih terngiang dalam ingatan peristiwa 2 tahun lalu yang akan selalu membekas dalam ingatan di saat akan kembali bersama setelah beberapa tahun memutuskan hidup sendiri sendiri…..

“Ibu,saya sangat menyangi Bapak.dan saya akan menunggu ibu bisa menerima saya menjadi bahagian keluarga ibu sampai mati .”

Duh…Gusti…..apa yang akan anda lakukan jika ada seorang wanita yg meminta kepada diri anda untuk menjadi “MADU”.
Meminta dengan lugas suami kita dengan alasan sangat mengagumi dan menyayangi suami anda.karena keseharian mereka berada dalam sebuah komunitas.
Saya tau bahwa dia jujur dan sungguh sungguh dengan permintaannya itu .
Apakah saya harus marah ?????
Akankah terjadi Perang Dunia ke III??????
Ataukah
Akan mencaci makinya ,Menjambaknya….untuk melapiaskan sakit hati ??????

Tidak….bukan itu yg saya  lakukan .
Hanya buliran air mata yg berderai .
Sambil mendekapkan tangan di dada hanya ucapan “Istiqfar…yang terucap ….sambil bermohon bermohon,
“YA..ROB…HATIKU BUKANLAH BATU PUALAM ,”
yang tidak bisa merasakan kegetiran dan ke mirisan hati wanita yang telah di butakan oleh cinta dunia.
Yang telah menurutkan hawa nafsu untuk memiliki apa yg menjadi keinginannya..

“DUH ..GUSTI..HATIKU BUKAN BATU PUALAM ”
Yang bisa membagi sesuatu  yang engkau jodohkan untuk ku.
Walau dalam agama yang saya anut itu di perbolehkan.
Tapi saya belum siap , Ya… Robb…
Saya bukan wanita pilihan itu…

Maaf ….para pembaca…saya terjebak dalam pergulatan batin dalam diri sendiri.
Saya baru menyadari wanita itu masih menunggu jawaban dari saya….
Ingin saya  berlari memeluk dirinya…
Memberikan pelukan hangat dan menciuminya agar bisa mengurangi lara yg ada di Hatinya.
Sambil membisisikkan…
“Akan ada laki – laki yang lebih baik untukmu”.

Tapi bukan itu yang terucap dalam lisanku kepadanya.
Yang terucap adalah,
“Dinda,walau saya bisa menerima kehadiran dirimu..
Tapi anak-anak saya tidak akan mau membagi Ayahnya dengan kamu….
Maaf saya tidak bisa mengabulkan permintaanmu..”

TAPI JIKA KAMU RINDU KEPADA BAPAK DATANGLAH KE RUMAH KAMI .UNTUK BERSILAHTURAHMI SEBAGAI SAUDARA .

Hanya itu yang terucap dari bibirku.
YA…ALLAH maafkan aku jika penolakan ku tidak engkau Rhidoi….

Masih belum tinggi ke ikhlasanku untuk menerima ini.

Maaf para pembaca .
Jangan pernah menghakimi apapun yg terjadi dalam perjalanan hidup mu .karena itu adalah rahasia hidup kita yg sudah tertulis di .
“LAUHUL MAHFUS”
Takdir yg sudah tertulis semenjak di tiupkan Roh dalam tubuh mu.
Tinggal bagaimana kita menyikapinya.

Maaf…saya kembali pada alur cerita saya.
Kembali wanita itu hanya tertunduk lesu.
Sejak itulah wanita itu mulai tidak bersahabat dg suami saya.
Pertanyaannya,
APAKAH SUAMI SAYA YANG SALAH ??????
ATAU
SANG WANITA YANG SALAH??????
Akan saya tulis dalam Episode berikutnya……

Ter untuk suami ku.
“ENGKAU ADALAH IMAM TERBAIK YG DI BERIKAN ALLAH UNTUK KU.”
Semoga tetap seperti itu sampai akhir hanyat ku.
Dan maafkan aku tak bisa menjadi Istri yang sempurna untuk mu.
Walau untuk kedua kalinya….

(lebih…)

3,518 kali dilihat, 38 kali dilihat hari ini

Lanjutkan Membaca

Trending