Terhubung dengan kami

Oase

Pemuda Al-Kahfi (Bag. 1)

Diterbitkan

pada

Ini kisah tentang pemuda Al Kahfi. Mereka ada di sebuah pemerintahan yang kepemimpinnya, yang rezimnya memusuhi اَللّهُ, yang memaksa orang untuk meninggalkan اَللّهُ, menyuruh orang untuk tidak taat pada اَللّهُ, bahkan mengancam, melakukan tindakan depresif, siap bunuh, siap kejar, siap pancung, siap penjarakan…

Ini jahat!!!
Rezim seperti itu bisa ada dimana saja, kapan saja.
Semoga tidak ada di tempat kita.
Kalau yang seperti itu…itu jahat!
Jadi kita nggak terkontaminasi, nggak bimbang, nggak bisa diombang-ambingkan oleh berita manisnya, berita-berita pencitraannya, usaha dan upayanya… Kita nggak tertarik pada yang memusuhi اَللّهُ dan RosulNya,

Dan اَللّهُ dalam ayat yang lain, dalam surat
Al-Baqarah 2:114

وَمَنْ أَظْلَمُ مِمَّن مَّنَعَ مَسَٰجِدَ ٱللَّهِ أَن يُذْكَرَ فِيهَا ٱسْمُهُۥ وَسَعَىٰ فِى خَرَابِهَآۚ أُو۟لَٰٓئِكَ مَا كَانَ لَهُمْ أَن يَدْخُلُوهَآ إِلَّا خَآئِفِينَۚ لَهُمْ فِى ٱلدُّنْيَا خِزْىٌ وَلَهُمْ فِى ٱلْءَاخِرَةِ عَذَابٌ عَظِيمٌ

Siapakah yang lebih zalim daripada orang yang melarang menyebut nama اَللّهُ di dalam masjid-masjid-Nya, dan berusaha merobohkannya? Mereka itu tidak pantas memasukinya kecuali dengan rasa takut (kepada اَللّهُ). Mereka mendapat kehinaan di dunia dan di akhirat mendapat azab yang berat.

Tak ada yang lebih zalim dari itu. Nggak ada kejahatan yang lebih jahat dari itu, tak ada lagi keburukan lebih buruk dari orang yang memusuhi orang yang mau taat, orang yang memerangi orang yang menegakkan ketauhidan, nggak ada yang lebih jahat dari itu.

Gambaran di surat Al Kahfi, tentang anak-anak yang bertahan beberapa waktu, di dalam pemerintahan itu, mereka lihat dengan terang-terangan pemerintahan itu berusaha untuk menindas mereka. Karena mereka mempercayai اَللّهُ dan berusaha menegakkan agama اَللّهُ di muka bumi ini.

Kepemimpinan itu alergi terhadap hal itu, lalu mereka dikecam, dikejar, karena pemerintahan itu ingin semua tunduk pada perintah-perintahnya.
“Jangan ada perlawanan kepada kami. Walau kami salah nggak mau tau. Yang penting kami yang punya kekuasaan. Semua harus patuh dan taat pada kami, walau kami menantang اَللّهُ, walau kami memusuhi اَللّهُ semua harus taat!”

Anak-anak muda ini, anak-anak yang baik. Mereka tak bisa terima. Tapi mereka ini tidak berkuasa. Jumlahnya 8-9 orang. Atau 7 – 8 orang. Mereka tak punya kuasa, tak punya kekuatan apa-apa.

Penguasa negri membenci mereka, ingin menyingkirkan mereka, sementara jumlah mereka sangat sedikit. Kalau mereka tetap bertahan, mereka habis, mereka dibunuh. Dan mereka tau, mereka tak bisa terus di situ.

Sebuah kejahatan yang dipimpin oleh sekumpulan orang-orang jahat, kalau dia sudah punya kekuatan, maka targetnya adalah yang melawan, disingkirkan atau dibunuh.

Itu lumrah. Di Al Qur’an diceritakan. Kejahatan, kebatilan itu kalau sudah punya power, sudah punya kekuatan, maka dia akan tampil sebagai sebuah kekuatan yang sangat arogan, dan dia tidak peduli dengan yang namanya nilai-nilai kemanusiaan. Siapapun yang melawan dia, harus disingkirkan.

Kisah seperti ini bisa terjadi dimana saja. Tidak hanya di negeri Arab.

7-8 orang anak muda melihat rawannya agama mereka, rawannya aqidah mereka untuk dibasmi. Mereka tidak siap dan tidak punya kekuatan apa-apa, mereka harus menyingkir dan hijrah keluar dari lingkungan yang berbahaya itu. Mereka diam-diam pergi bersama-sama, serentak tinggalkan negeri itu untuk menyelamatkan aqidah mereka. Masuklah mereka ke gua.

(Guanya dimana tidak dijelaskan. Tapi yang pasti mereka masuk gua. Tidak disebutkan guanya dimana. Kalau ada yang menyebutkan guanya di Syirria ya sudah, mungkin itulah dia. Atau di Mekkah, mungkin itulah dia. Itu bukan menjadi kewajiban kita untuk mempercayainya. Yang pasti mereka masuk gua.)

Maka terjadilah cerita itu.

Kita bisa melihat betapa mahalnya sebuah aqidah itu. Betapa mahalnya nilai-nilai tauhid itu. Nggak bisa diukur dengan dunia.

Aqidah itu, keyakinan kita kepada اَللّهُ itu, nggak bisa dinegosiasikan.

Kalau ada orang yang menegosiasikan urusan aqidah dia, maka ini orang dipertanyakan keimanannya, ada apa?

Negosiasi dalam agama tidak termasuk dalam keriteria aqidah.
Keyakinan, kepercayaan kepada اَللّهُ dan Rosul nggak bisa tarik ulur.
Setiap kali ada orang baik pasti ada orang jahat di sekitar itu. Dalam bentuk kumpulan kecil atau dalam bentuk kumpulan besar. Dalam bentuk organisasi yang terkontrol rapi atau dalam keadaan yang terpecah-pecah.

Bagi orang yang beriman kepada اَللّهُ, yang yakin pada اَللّهُ yang yakin dengan balasan baik dan buruknya اَللّهُ di kemudian hari, takut akan balasan buruknya اَللّهُ, orang-orang ini, harus tau dimana posisi amannya agama mereka. Harus tau!
Jangan biarkan agama kita dalam posisi tidak aman. Karena kita tidak bisa menjamin sebesar apa kekuatan dan kemampuan kita untuk mencegahnya dari ketidakamanan.
Jika semua itu datangnya dikaitkan dengan anak kita, akan runtuh kekuatan itu.

Kita bisa kuat menghadapi tekanan, siksaan, yang ditimpakan kepada kita oleh musuh-musuh اَللّهُ, tapi kita yang ditekan. Kalau yang ditekan itu adalah anak kita di depan mata kita, itu cerita lain.

Kalau yang ditekan itu anak kita yang tidak berdosa, tidak bersalah, yang masih kecil, ditekan di hadapan kita, agar kita tunduk pada keinginan musuh-musuh kita, itu berat.

“Kamu kalau nggak mau percaya pada kami, kamu kalau nggak mau patuh dengan kami, kamu kalau nggak mau ikut undang-undang kami, anakmu nggak kami kasi makan, kami bikin lapar, atau kami gantung anakmu di depan matamu.”
Ini berat. Kita tidak siap kalau kaitannya dengan orang yang kita sayangi.

Kita rela berkorban demi anak kita. Maka jangan biarkan kesempatan penjahat-pejahat itu masuk ke area dimana kita tidak punya kemampuan lagi untuk menolak.

Dia pakai instrumen yang sangat membuat kita terpojok. Anak yang kita sayangi disiksa di depan mata. Jangan beri kesempatan penjahat-penjahat itu masuk!

Kalau bisa, selamatkan diri sampai benar-benar selamat atau singkirkan penjahat itu sebelum kuat. Singkirkan kekuasaan itu sebelum menjadi kuat.

Tapi kalau tak mampu menyingkirkannya ya sudah. Pergilah…bawalah anak ini. Hijarahlah seperti yang dilakukan Rosululloh. Bawa anak ini…selamatkan dia.

Sejarah hijrahpun terjadi pada Rosululloh saw.

Ashabul Kahfi, pemuda-pemuda yang melarikan dirinya dengan imannya yang haq, yang mereka yakini, keimanannya terhadap اَللّهُ, meninggalkan sebuah negri yang penuh kezaliman, lalu masuk ke dalam gua.

Ini cerita biasa. اَللّهُ sudah kasi tau pada Rosululloh, ini cerita memang ada dan itu biasa. Sama dengan cerita-cerita dalam Al Qur’an yang lain bukan suatu hal yang luar biasa.

Makannya اَللّهُ memulai cerita Ashabul Kahfi ini, dengan ucapannya,

Al-Kahf 18:9

أَمْ حَسِبْتَ أَنَّ أَصْحَٰبَ ٱلْكَهْفِ وَٱلرَّقِيمِ كَانُوا۟ مِنْ ءَايَٰتِنَا عَجَبًا

“Kamu kira cerita tentang anak muda yang masuk dalam gua ini adalah cerita yang menakjubkan? Tidak.
Biasa saja. Masih banyak lagi cerita-cerita yang lainnya yang sangat menakjubkan yang ada tercantum dalam Al Qur’an.”

Dan kalau terjadi lagi cerita yang dialami oleh Ashabul Kahfi ini hari ini, di tempat kita atau dimana saja, itu mah biasa juga.

Jangan terkejut. Dia akan terulang dan terjadi lagi. Tentang penindasan, kezaliman, kekuasaan terhadap orang-orang baik, terhadap orang-orang beriman, terhadap orang-orang yang bertakwa, terhadap orang-orang yang berjalan di jalan yang lurus, apakah cerita itu cerita mengejutkan? Tidak. Biasa saja.

Dulu terjadi, hari ini terjadi, yang akan datang juga terjadi. Dimana ada kekuasaan yang kezaliman itu ada menyertainya, maka dia akan berbuat semau dia terhadap orang yang menentangnya.

Mereka mau semua ikut cara mereka. Mereka mau semua ikut apapun ‘isme’ mereka. Dengan apapun mereka lakukan. Itulah ceritanya. Dan itu berulang. Kita bisa liat sendiri kejadian-kejadian yang ada.

Jadi اَللّهُ memulai cerita Ashabul Kahfi ini dengan pertanyaan tadi

Biasa saja.
Supaya kita jangan berpikir kejadian itu hanya ada di zaman Ashabul Kahfi saja. Nggak. Cerita itu sama. Kapanpun bisa terjadi. Bahkan kita bisa mengalaminya.

Al-Kahf 18:10

إِذْ أَوَى ٱلْفِتْيَةُ إِلَى ٱلْكَهْفِ فَقَالُوا۟ رَبَّنَآ ءَاتِنَا مِن لَّدُنكَ رَحْمَةً وَهَيِّئْ لَنَا مِنْ أَمْرِنَا رَشَدًا

Mulai ceritanya dari situ. Ada anak-anak muda, yang cinta kepada اَللّهُ, cinta pada aqidahnya, dan tidak mau keyakinan agama itu dikorbankan, mereka tinggalkan negeri mereka menuju gua. Mereka bernaung di gua yang jauh dari negeri itu. Lalu disanalah mereka, dengan harapan-harapan اَللّهُ selamatkan mereka.

Dalam hati mereka harapan besar, اَللّهُ akan tunjukkan mereka, اَللّهُ akan bantu mereka dan tolong mereka bersama aqidah mereka. Itu yang mereka harap dari اَللّهُ.

Yang punya agama ini اَللّهُ. Kita harus yakin itu. Yang punya risalah islam ini, اَللّهُ. Yang punya Al Qur’an ini, اَللّهُ. Yang mengutus Rosululloh Muhammad saw, اَللّهُ. Yang mengajarkan nilai-nilai agama yang sedang kita jalani ini adalah اَللّهُ. Kekuatan ada di tangan Dia (اَللّهُ).

Dia yang memiliki, Dia yang akan membela. Dia yang memiliki Muhammad yang Dia utus, Dia yang memiliki nilai-nilai. Dia yang punya. Dia yang punya alam, Dia yang punya segalanya. Dia yang ngatur segalanya, wong dia yang punya.
Maka yang Maha kuat itu cuma Dia.

Coba kita pakai analogy ini, nggak mungkin terjadi seseorang yang memiliki segala sesuatu dengan powernya lalu dengan gampangnya dia menyerahkan kepemilikiannya kepada orang lain sedang dia punya kekuatan untuk membela. Nggak akan terjadi seperti itu.

Kita punya anak, yang ada dalam kekuasaan kita, kita punya kekuatan untuk membela anak kita, lalu tiba-tiba ada orang yang mengaku itu anak dia, sikap kita gimana? Bisa bunuh-bunuhan mungkin. Apalagi ada bukti bahwa kita memilikinya, kita tidak akan tinggal diam. Kita akan lawan. Dan itu hak kita. Itu terjadi pada kita. Bagaimana dengan اَللّهُ? Dia yang Maha Kuat, Maha memiliki segalanya, apa اَللّهُ diam?

Jangan mereka pikir اَللّهُ akan diam. Apapun yang ada di alam semesta ini punya Dia, lalu dia titipkan kepada manusia, lalu datang manusia merasa jagoan, sombong angkuh dan sebagainya, apakah اَللّهُ akan diam? No, اَللّهُ tidak akan tinggal diam.

Adanya pembelaan itu karena ada rasa memiliki. اَللّهُ itu memiliki semuanya, مالك الملك, dia yang punya kekuasaan, مَالِكِ يَوْمِ الدِّينِ, لَهُ الْمُلْكُ, itu ayat-ayat Qur’an yang bercerita tentang kepemilikan, kekuasaan, kerajaan اَللّهُ yang semua bersumber kepada Dia.

لَهُۥ مَا فِى ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلْأَرْضِۖ

Agama yang benar itu adalah agama Aku (اَللّهُ), yang benar di sisi Aku itu agama islam.

Lalu datang manusia belagu yang mau menyingkirkan Islam mendiskriminasikan Islam, ini cerita lama.

Anak-anak muda ini tau bahwa agama dia itu adalah milik اَللّهُ, mereka cuma mengamalkan agama mereka, keEsaan itu milik اَللّهُ, tauhid itu milik اَللّهُ, mereka tau, mereka cuma mengamalkan, mereka cuma menyelamatkan agama mereka.

Tapi apakah اَللّهُ biarkan mereka? Tidak. اَللّهُ kawal mereka, اَللّهُ kontrol mereka, maka setelah pergi tinggalkan negrinya yang pemerintahannya zalim itu, mereka masuk ke gua dan mereka bilang
رَبَّنَآ ءَاتِنَا مِن لَّدُنكَ رَحْمَة

“Ya اَللّهُ berikan kepada kami rahmat dalam rangka menyelamatkan agama kami ini, ya اَللّهُ berikan kami petunjuk, ya اَللّهُ beri kami ini karunia, ya اَللّهُ beri kami kekuatan untuk kami selamatkan agama yang bersama kami ini.”
Dan اَللّهُ dengar semua jeritan mereka.

Agama ini dalam keadaan bahaya, agama generasi dalam keadaan bahaya, agama anak cucu dalam keadaan bahaya, jangan lepas dari اَللّهُ karena itu kaitannya langsung dengan اَللّهُ, cepat mengadu pada اَللّهُ. Cepat!!

Karena yang punya agama itu adalah اَللّهُ, Dia yang akan selamatkan kita. Kita cuma berusaha, kita cuma membuat pertahanan seadanya. Dan itu harus. Nggak bisa tenang-tenang saja dalam menghadapi permainan-permainan kasar dari sekelompok orang yang tidak senang dengan nilai agama ini.

Ada orang yang ingin meracuni agama ini, ada orang yang bermain-main dengan agama ini, ada orang yang coba melecehkan kalimah اَللّهُ, ada…manusia seperti itu ada di depan mata kepala kita dan kita lihat wajah mereka, mereka tau itu. Kita lihat bagaimana kelakuan sombong mereka untuk menginjak-injak agama itu. Kelihatan.

Banyak sudah yang terjadi.

Kita dalam posisi seperti itu, kita tidak bisa berdiam diri dan cuma bilang…
“Ah sudahlah, terima saja apa adanya, yang punya agama ini اَللّهُ kog.”
Nggak bisa bilang begitu doank!!

Emang sihh…ada orang bilang gini,”Ngapain bela agama? Kan agama punya اَللّهُ. اَللّهُ juga tau kog ngebela agama itu gimana. Kalian bilang bela agama…bela agama. Emang اَللّهُ nggak mau bela agamanya?”

Kita kenal bahasa itu. Itu bahasa pemelintiran. Supaya kita lepas tangan total dari bertaruh dan bermohon kepada اَللّهُ. Biar kita tidak punya kekuatan. Kekuatan itu datangnya dari اَللّهُ. Orang seperti itu sengaja memasukkan bahasa pemelintiran itu supaya kita, jiwanya setengah-setengah dalam berinteraksi dengan agama. Tiba-tiba harus jadi liberalis ya liberalis, tiba-tiba harus murtad ya murtad.
“Ngapain bela agama, biarlah agama yang ngurusin اَللّهُ saja.”
Itu pemelintiran. Nggak begitu harusnya.

Pada saat kita terjepit seperti yang terjadi dengan Ashabul Kahfi ini, mereka pergi tinggalkan negrinya, mereka minta kepada اَللّهُ pengawalan, pertolongan atas agama yang mereka yakini, ketauhidan yang mereka yakini, mereka minta bantuan اَللّهُ, minta kekuatan dari اَللّهُ, minta tolong dari اَللّهُ.
“Bantu kami ini ya اَللّهُ, karena kami ini punya keterbatasan dalam hidup.”

Kita semua punya keterbatasan di dalam hidup, kita nggak bisa jamin kalau dalam situasi kondisi seperti yang disebutkan tadi, anak ditekan, dicekek, dikasi makan yang mengandung racun, disiksa di depan mata, kita belum pasti bisa bertahan dengan keyakinan kita.

Karena belum terjadi, kita mungkin bisa tenang. Itu bukan hanya kisah zaman dulu. Zaman sekarang juga banyak. Bagaimana zaman dulu pernah terjadi anak-anak menjadi tumbal untuk membuat tekanan-tekanan kepada bapak ibunya? Itu jadi pelajaran untuk kita.

Kemudian Ashabul Kahfi ini, selain mereka meminta rahmat, pertolongan dan kekuatan, mereka minta kepada اَللّهُ :

وَهَيِّئْ لَنَا مِنْ أَمْرِنَا رَشَدًا

“Ya اَللّهُ berikan kami ini petunjuk dalam menjalani tekanan ini.”

Petunjuk itu perlu, sebab banyak orang kecantol, banyak orang terjatuh, tergelincir, karena jauh dari petunjuk اَللّهُ, gangguannya terlalu berat.

Dan orang-orang yang tergelincir itu, tidak ada arahan, tidak ada pengawalan dari اَللّهُ, buta mata hatinya, tadinya apa yang dia yakini, jadi sebaliknya.

Rosyada (petunjuk) itu, modal untuk keselamatan hidup. Petunjuk adalah modal untuk bisa selamat dalam menjalani hidup ini, apalagi dalam tekanan, dalam ketidak mampuan.

Orang-orang yang diberi petunjuk oleh اَللّهُ swt itu artinya اَللّهُ pegang hati mereka, اَللّهُ kontrol hati mereka. Kita penting itu pada saat kita hampir tergelincir, jangan sampai tergelincir, karena dunia ini kan musibah, dunia ini kan hoax, apalagi kalau dunia ini dikontrol oleh kekuatan hoax. Maka gampang banget orang bisa terpengaruh dengan hoax.

Dunia ini banyak kebohongan, banyak permainan, banyak sandiwara. Sandiwara itu kan sama dengan lakon, lakon itu kan banyak bohongnya.

Siapa yang membimbing kita? Yang membimbing kita adalah اَللّهُ. Pada saat hati ini terikat sama اَللّهُ, pada saat اَللّهُ beri cahaya pada hati ini, pada saat اَللّهُ kawal hati kita dalam situasi kondisi gimanapun, tetap istiqomah.

Lalu apa yang terjadi setelah mereka masuk ke dalam gua? Ketika ada keamanan, intel, polisi yang akan menangkap mereka, harusnya mereka berjaga-jaga. Tapi apa yang terjadi ketika اَللّهُ membimbing dan mengawal mereka? Pemahamannya ini adalah hikmah yang bisa kita petik. Apa yang terjadi ketika اَللّهُ bersama mereka? Bukan menjadikan mereka berjaga-jaga selama 24 jam. Beberapa waktu setelah sampai, mereka tertidur di dalam gua tersebut.

Logikanya, kalau kita harus lari, kita harus sembunyi, ya kita harusnya berjaga-jaga di tempat persembunyian kita kan? Tapi اَللّهُ berkehendak lain kepada Ashabul Kahfi ini.
Itu hikmah kebijaksanaan اَللّهُ.

Jadi, kekuatan itu, kemenangan itu, ada yang nampak di depan mata, ada yang nggak nampak. Kita ini cuma mengatur strategi kerja. Kita cuma membuat aturan-aturan pemenangannya. Tapi sebenarnya kemenangan itu dari اَللّهُ. kita harus berjaga-jaga atas kekalahan kita, jangan sampai kalah. Tapi yang menolak kekalahan itu adalah اَللّهُ.

Ashabul kahfi ini, begitu masuk gua, dia ditidurkan oleh اَللّهُ. Nggak harus mikir sama sekali kalau di sana ada musuh yang sedang mengejar mereka. Luar biasanya اَللّهُ Ta’ala. Sesuatu yang tidak nampak, tapi perhatikan lagi, sebelum mereka itu tertidur, apa yang mereka lakukan?

Mereka berjuang, bergerak, menunjukkan sikap penentangan mereka, tidak setujunya mereka, lari dari kejahatan itu, setelah itu, serahkan pada اَللّهُ. Lalu اَللّهُ bekerja di situ.

Bekerjanya اَللّهُ di situ, membuat mereka tertidur tidak tanggung-tanggung 300an tahun. Selama 300an tahun hidup mereka di dalam gua itu, musuh mencari-cari, tapi tidak menemukan mereka.

Musuh اَللّهُ itu, musuh agama itu siapapun itu, dimana saja, sebenarnya itu kecil. Dia itu besar karena ada di benak kita dia besar.

Ketika dia tau kita nganggap dia itu besar, dia tambah besar kepala. Ketika kita tunduk, ketika kita mnggut-manggut…bertambahlah dia injak-injak kepala kita. Ketika kita inggih-inggih saja dengan kejahatan mereka, pelan-pelan dia semakin bermain-main di atas kepala kita. Itulah yang terjadi dengan penjajahan di indonesia. Indonesia bisa dijajah selama 350 tahun.

Penjajah datang ke Indonesian tidak langsung menjajah. Mereka datang dengan dengan bentuk perdagangan, dilihat mereka orang indonesia itu lugu-lugu, layu-layu, lesu-lesu, mau-mau, takut-takut, kesempatan bagi mereka untuk menguasai. Mereka berhasil menjajah kita selama 350 tahun.

Kalau dari awal orang Indonesia ini tau bahwa mereka dikerjain, dirampok, dikejamin, lalu mereka lawan, mereka tentang, penjajah mikir-mikir…tapi tidak begitu kejadiannya.

فَضَرَبْنَا عَلَىٰٓ ءَاذَانِهِمْ فِى ٱلْكَهْفِ سِنِينَ عَدَدًا

Selama 300an tahun, اَللّهُ bangunkan mereka. Sebenarnya mereka ini setengahnya adalah mati. Karena mereka total tidak tau apa yang terjadi. Mana ada orang yang bisa hidup, tidak makan tidak minum tiga ratusan tahun. Tapi itulah kekuasaa اَللّهُ. Dia (اَللّهُ) tidak inginkan mereka mati, walau nggak makan dan nggak minum.

Kalau logikanya kan dalam 300an tahun ini mereka akan tinggal tulang belulang doank. Tapi tidak! Rohani mereka hidup.

Kalau rohani ini hidup, badan juga hidup. Hidup rohaninya dan hubungannya dengan اَللّهُ Ta’ala begitu kuat.

Bangun hubungan baik dengan اَللّهُ Ta’ala agar rohani hidup. Terasa bangkit gairah hidup, terasa bangkit kekuatan hidup terasa ada energi hidup.

Walau tidurpun akan ada energinya karena ada hubungan dekat dengan اَللّهُ. Walaupun capek kalau ada kekuatan rohani yang tersambung dengan اَللّهُ, hilang capeknya. Kekuatan itu terus tumbuh.

Semua pejuang-pejuang yang tulus berjuang di jalan اَللّهُ, mereka menghadapi kesulitan tapi mereka tidak mengeluh, mereka jalani saja kehidupan ini walau mereka dibatas ambang selesai. Sudah tidak ada lagi yang mereka bisa tonjolkan sudah sangat sangat terjepit, tapi hubungan mereka dengan اَللّهُ memberi kekuatan dalam kehidupan mereka. Yang memberikan energi. Itu yang membuat mereka masih bertahan.

Energi yang ada di hati mereka itu cukup kuat. Kalau itu sudah tak ada lagi…selesai!
“Kemudian Kami bangunkan mereka. Bangkitkan mereka lagi. Sebenarnya mereka sudah mati tapi hati mereka masih hidup, jiwa mereka masih hidup, rohani mereka masih hidup.”

Dan ini sebuah kekuatan اَللّهُ, kekuasaan اَللّهُ. Ketika اَللّهُ ingin hidupkan orang seberapa lamapun اَللّهُ bisa hidupkan. Ketika اَللّهُ ingin matikan orang dengan cepatpun اَللّهُ bisa matikan.

Tapi Ashabul Kahfi ini lain ceritanya. اَللّهُ ingin menunjukkan pada manusia, kamu berbuat, Aku menentukan.

Umur kita rata-rata 100 tahun tapi yang ini lain, 300an tahun.

Maka mintalah kekuatan, dari اَللّهُ. Maka mintalah isi dan nilai kehidupan itu dari اَللّهُ, biar bernilai.

والله أعلمُ بالـصـواب

Catatan Diana
Dari tafsir Al Kahfi
Habib Ahmad Al Munawar, Lc

2,160 kali dilihat, 10 kali dilihat hari ini

Iklan
Klik untuk komentar

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Batam

Waktunya Doa Akan Di Kabulkan

Diterbitkan

pada

Oleh

WAJAHBATAM.ID-7/Mei/2019|
Assalamualaikum.
Bismilahirahmanirahim.

Setiap manusia selalu mempunyai keinginan untuk dapat meraih,memiliki sesuatu yang mereka impikan dan keinginan itu bisa mereka dapatkan dengan kata kunci yang harus mereka miliki yaitu “Keyakinanakin”.
Keyakinan yang hakiki di selingi dengan doa yang tiada henti di waktu watu yang mustajab, meminta kepada Yang Maha Pemberi Rejeki ( Allah) adalah salah satu cara yang harus di tempuh.Karena dengan Berdoa dan Tawakal kepada Allah, Allah akan memberi rejeki dari arah yang tidak kita sangka.

Seperti Firman Allah berikut :

Barangsiapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar dan memberinya rezeki dari arah yang tiada disangka-sangkanya. Dan barangsiapa yang bertawakal kepada Allah, niscaya Allah akan menjadikan baginya kemudahan dalam urusannya.” QS. Ath-Thalaq (65) : 2- 4

Dengan janji Allah tersebut maka kita bisa menggunakan keberkahan bulan suci Ramadhan ini, sebagai salah satu waktu waktu yang mustajab untuk berdoa dan memohon limpahan rahmatnya.

Karena berbeda dengan bulan yang lain, pada bulan Ramadhan banyak waktu mustajab untuk berdoa. Di antaranya adalah waktu menjelang berbuka. Bahkan sepanjang waktu puasa mulai terbitnya fajar hingga terbenamnya matahari adalah waktu yang mustajab untuk berdoa. Berdoa di waktu puasa Ramadhan ini lebih dikabulkan Allah.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
ثَلاَثَةٌ لاَ تُرَدُّ دَعْوَتُهُمُ الصَّائِمُ حَتَّى يُفْطِرَ وَالإِمَامُ الْعَادِلُ وَدَعْوَةُ الْمَظْلُومِ
“Tiga orang yang doanya tidak tertolak: orang yang berpuasa sampai ia berbuka, pemimpin yang adil, dan doa orang yang dizholimi” (HR. Tirmidzi; hasan)

Maka jelas sudah di antara keutamaan bulan suci Ramadan ini adalah waktu di kabulkannya doa – doa kita.
Maka pergunakan sebaik baiknya agar Bulan yang penuh berkah ini tidak berlalu begitu saja tanpa kita mendapat apa apa.

Maka yakinkan diri dan berdoalah dengan khusyuk dan sungguh sungguh niscaya kita akan mendapat apa yang menjadi keinginan kita kelak.
Aamiin..Aamiin..ya Robbal alamin.
Wassalamualaikum.

(Rina Silfya)

23,238 kali dilihat, 47 kali dilihat hari ini

Lanjutkan Membaca

Batam

Bulan Ramadhan Bulan Pengampunan Dosa

Diterbitkan

pada

Oleh

WAJAHBATAM.ID6Mei2019

Assalamualaikum
Bismilahirohmanirohim

Mabi muhammad Rasullulah SAW
Pernah bersabda,
Barangsiapa yang berpuasa Ramadan karena keimanan dan hanya mengharap pahala, dosa-dosanya yang telah lalu akan diampuni.” (HR. al-Bukhari).

Salah satu makna dari bulan suci Ramadhan adalah sebagai bulan pengampunan dosa seperti yang sudah di jelaskan pada hadist di atas.

Di mana Allah SWT sudah menjanjikan kepada umatnya akan memberikan pengampunan segala dosa dan kebebasan dari siksa api neraka terhadap orang orang yang berpuasa karena keimanannya dan semata mata untuk mengharap ridha-Nya.

Selain itu di bulan yang penuh berkah ini pintu pintu surga akan di buka dan pintu neraka akan di tutup serta setan setan akan di belenggu seperti
Sabda Rasulullah dibawah ini..

“Sungguh telah datang kepadamu bulan yang penuh berkah, dimana Allah mewajibkan kamu berpuasa, dibuka pintu-pintu syurga, ditutup pintu-pintu neraka, dibelenggu setan-setan. Di dalam Ramadhan terdapat malam yang nilainya lebih baik dari seribu bulan. Maka barangsiapa yang tak berhasil memperoleh kebaikan Ramadhan, sungguh ia tidak akan mendapatkan itu buat selama-lamanya” (HR Ahmad, Nasa’i dan Baihaqi).

Maka sepatutnyalah kita tidak menyia – nyiakan kesempatan ini untuk ebih memperbaiki diri agar pengampunan dosa yg sudah di janjikan itu dapat kita raih.tentunya dengan memperbanyak amalan dan Ibadaah serta meningkatkan ketakwaan di bulan yang penuh rahmat ini dengan niat semata karena Allah.
Sehingga kita menjadi Pribadi yang lebih baik lagi di masa mendatang.
Aamiin ya Robbal alamin.
Wasallamualaikum

( Rina Silfya)

9,250 kali dilihat, 37 kali dilihat hari ini

Lanjutkan Membaca

Oase

Duh…Gusti…Hatiku Bukan Batu Pualam

Diterbitkan

pada

Oleh

WAJAHBATAM.ID-27April 2019| Tanpa terasa 2 tahun berlalu sudah perjalan hidup yang penuh onak dan duri kami lalui kembali
Tidak mudah memang..memulai kembali rasa yang pernah pupus agar bisa kembali di bangun setahap demi setahap.
Namun semua perlahan namun pasti bisa kembali di perjuangkan dengan ke Ikhlasan yang tinggi .

Tapi perjalanan hidup tidak pernah bisa kita lupakan begitu saja.dan masih terngiang dalam ingatan peristiwa 2 tahun lalu yang akan selalu membekas dalam ingatan di saat akan kembali bersama setelah beberapa tahun memutuskan hidup sendiri sendiri…..

“Ibu,saya sangat menyangi Bapak.dan saya akan menunggu ibu bisa menerima saya menjadi bahagian keluarga ibu sampai mati .”

Duh…Gusti…..apa yang akan anda lakukan jika ada seorang wanita yg meminta kepada diri anda untuk menjadi “MADU”.
Meminta dengan lugas suami kita dengan alasan sangat mengagumi dan menyayangi suami anda.karena keseharian mereka berada dalam sebuah komunitas.
Saya tau bahwa dia jujur dan sungguh sungguh dengan permintaannya itu .
Apakah saya harus marah ?????
Akankah terjadi Perang Dunia ke III??????
Ataukah
Akan mencaci makinya ,Menjambaknya….untuk melapiaskan sakit hati ??????

Tidak….bukan itu yg saya  lakukan .
Hanya buliran air mata yg berderai .
Sambil mendekapkan tangan di dada hanya ucapan “Istiqfar…yang terucap ….sambil bermohon bermohon,
“YA..ROB…HATIKU BUKANLAH BATU PUALAM ,”
yang tidak bisa merasakan kegetiran dan ke mirisan hati wanita yang telah di butakan oleh cinta dunia.
Yang telah menurutkan hawa nafsu untuk memiliki apa yg menjadi keinginannya..

“DUH ..GUSTI..HATIKU BUKAN BATU PUALAM ”
Yang bisa membagi sesuatu  yang engkau jodohkan untuk ku.
Walau dalam agama yang saya anut itu di perbolehkan.
Tapi saya belum siap , Ya… Robb…
Saya bukan wanita pilihan itu…

Maaf ….para pembaca…saya terjebak dalam pergulatan batin dalam diri sendiri.
Saya baru menyadari wanita itu masih menunggu jawaban dari saya….
Ingin saya  berlari memeluk dirinya…
Memberikan pelukan hangat dan menciuminya agar bisa mengurangi lara yg ada di Hatinya.
Sambil membisisikkan…
“Akan ada laki – laki yang lebih baik untukmu”.

Tapi bukan itu yang terucap dalam lisanku kepadanya.
Yang terucap adalah,
“Dinda,walau saya bisa menerima kehadiran dirimu..
Tapi anak-anak saya tidak akan mau membagi Ayahnya dengan kamu….
Maaf saya tidak bisa mengabulkan permintaanmu..”

TAPI JIKA KAMU RINDU KEPADA BAPAK DATANGLAH KE RUMAH KAMI .UNTUK BERSILAHTURAHMI SEBAGAI SAUDARA .

Hanya itu yang terucap dari bibirku.
YA…ALLAH maafkan aku jika penolakan ku tidak engkau Rhidoi….

Masih belum tinggi ke ikhlasanku untuk menerima ini.

Maaf para pembaca .
Jangan pernah menghakimi apapun yg terjadi dalam perjalanan hidup mu .karena itu adalah rahasia hidup kita yg sudah tertulis di .
“LAUHUL MAHFUS”
Takdir yg sudah tertulis semenjak di tiupkan Roh dalam tubuh mu.
Tinggal bagaimana kita menyikapinya.

Maaf…saya kembali pada alur cerita saya.
Kembali wanita itu hanya tertunduk lesu.
Sejak itulah wanita itu mulai tidak bersahabat dg suami saya.
Pertanyaannya,
APAKAH SUAMI SAYA YANG SALAH ??????
ATAU
SANG WANITA YANG SALAH??????
Akan saya tulis dalam Episode berikutnya……

Ter untuk suami ku.
“ENGKAU ADALAH IMAM TERBAIK YG DI BERIKAN ALLAH UNTUK KU.”
Semoga tetap seperti itu sampai akhir hanyat ku.
Dan maafkan aku tak bisa menjadi Istri yang sempurna untuk mu.
Walau untuk kedua kalinya….

(lebih…)

3,516 kali dilihat, 36 kali dilihat hari ini

Lanjutkan Membaca

Trending