Terhubung dengan kami

Oase

Bandara Internasional Dikepung 8 Jam, Polisi tak Berdaya

Diterbitkan

pada

WAJAHBATAM.ID | BATAM  – Ada satu..dua.. tiga dan seterusnya, Hampir ratusan massa radikal yang mengaku paling Pancasilais dan NKRI berorasi di daerah Vital Nasional,  Bandara Hang Nadim Kota Batam menolak Neno Warisman yang berstatus Warga Negara Indonesia untuk menerima undangan deklarasi  #2019GantiPresiden yang akan digelar pada juli, 29 pukul 07.00 WIB di sekitaran masjid Agung Batam.
Massa ini lolos dan leluasa berdemo/orasi sejak pukul 17.00 wib hingga saat ini pukul 22: 50 wib. Mereka tak mau hengkang sebelum Neno Warisman membatalkan niatnya untuk hadir pada kegiatan itu. Lucunya Petugas keamanan dan aparatur hukum pun membiarkan mereka menduduki lokasi vital negara tersebut.

Sementara itu, Kapolda Kepri dan Kapolresta Barelang tampak juga berada dilokasi sekitar pukul 18:30 wib. Tak ada pembubaran, tak ada upaya semua seperti terarah dan direncanakan.
Saat ini, Neno Warisman masih berada dilokasi bandara, Tak ada daya kepolisian untuk dapat membantu keamanannya menunju tempat penginapan. Neno sejak pukul 18.30 sudah berada di Bandara dan terjebak hingga saat ini.
Saat ini Diluar bandara, rombongan yang menjemput Neno Warisman pun tak di perbolehkan masuk untuk mengamankan Neno. Polisi melakukan siaga penjagaan dan pengecekkan setiap masyarakat yang ingin masuk ke Bandara. Ada Apa ini ? Sementara massa yang didalam tidak di Bubarkan tapi yang diluar ditolak untuk masuk.
Pak polisi, Kemana Arah mu ? Pendemo telah memasuki dan berorasi di area vital nasional, mereka telah melebihi batas jam unjuk rasa, kenapa diam ?
(Sumber: https://www.facebook.com/imbalonamaku/)

Iklan
Klik untuk komentar

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Oase

Anak, Antara Anugerah dan Musibah

Hidup ini adalah penuh role model. Anak akan melakukan apa yang dilakukan orangtua, bukan mengikuti omongan orangtua.

Diterbitkan

pada

Oleh

Punya anak itu, musibah atau berkah?
Anak kita itu, anugerah atau beban?”
Anak kita itu lebih banyak memberi atau nuntut pada kita?

Sambil membaca kita pun mungkin pelan-pelan menjawabnya dalam hati dengan jawaban masing-masing.

Itu yang ditanyakan moderator dalam acara talk show memperingati milad “Al Mawaddah” yang ke-7 di Mesjid Raya Bogor pada tanggal 28 November 2018, dengan judul “Wahai Ayah Bunda, Apa Kabar Iman Anakmu?”

Anak itu bisa menjadi sumber kebahagiaan. Tapi pada saat yang sama, anak bisa menjadi sumber kesedihan.
Anak kita itu bisa menjadi sumber kebanggaan. Tapi pada saat yang sama anak itu bisa menjadi sumber kekecewaan.

Pada saat apa anak itu menjadi sumber kekecewaan?

QS Al Anfal : 28
“Dan ketahuilah bahwa hartamu dan anak-anakmu itu hanyalah sebagai cobaan (fitnah) dan sesungguhnya di sisi اَللّهُ ada pahala yang besar.”

Anak itu fitnah. Punya peluang untuk bisa menyeret kita dalam kesedihan.

Contoh:
Ada kasus seorang anak m b a (married by accident). Adakah orangtua yang bangga dalam keadaan anaknya seperti itu?

Adakah orang tua yang bangga ketika anaknya pulang sekolah, kepalanya bocor berdarah-darah, habis tawuran?
Adakah yang bangga dengan keadaan seperti itu?

Bogor salah satu kota yang tingkat tawurannya tinggi.

Tidak hanya itu, untuk hal kecil saja, misalnya nyontek. Anak-anak sekarang, mau ujian nasional tapi masih malas-malasan. Mending kalau sudah nyicil belajar dari jauh-jauh hari. Tapi mereka pingin NEM nya tinggi.”
Bagaimana, ceritanya pingin NEM tinggi tapi malas-malasan?
Ketika ditanya, jawaban anak-anak tersebut,”Ngapain belajar, nanti juga dapat bocoran soal.”
Dan itu sudah seperti membudaya.

Selain itu misalnya, di kelas tidur bukan karena sakit atau kelelahan karena tugas sekolah, galau, stres nggak jelas.

Kalau punya anak remaja,yang punya medsos, coba saja kita lihat akun-akun medsosnya.

Ini beberapa contohnya :
*Tuhan jika tidak kau biarkan dia di sisiku, maka terimalah dia di sisiMu.

Ini kan menginginkan mati.
Ada lagi :
*Jika dia jodohku dekatkanlah, jika dia bukan jodohku tolong dicekek saja

MAKA APA KABAR IMAN ANAK KITA?

Survey yang dilakukan BKKBN di tahun 2010, data tentang kasus-kasus aborsi yang dilakukan oleh remaja 100 kasus/hari.
Indonesia darurat pornography.

Ini kebanggaan atau kesedihan?

Tidak hanya pornografi.
Kalau dulu kita punya anak laki-laki, punya anak perempuan, yang kita khawatirkan, pergaulan bebas, punya pacar bablas, dan sebagainya.

Sekarang, kekhawatiran bertambah dengan adanya lgbt.
Di bogor itu darurat lgbt.
Di garut waktu itu, anak-anak pelajar punya group lgbt. Di Indonesia, lgbt ini sudah lebih dari 1 juta.
Menurut Republika sudah
1.095.970 gay di Indonesia.
INI ANCAMAN SERIUS.

Padahal muslim terbanyak itu ada di Indonesia.
Ya, memang muslim terbanyak tapi faktanya lagi 54% muslim di Indonesia nggak bisa baca quran. Kita mungkin bertanya,”Masa’ sih?”

Di serambi Mekkah, menurut rektor Unsiyah, 82% mahasiswa barunya nggak bisa baca Qur’an.

Apa yang terjadi dengan anak-anak kita?
Maka apakah kita sebagai orang tua kecewa atau biasa saja?
Sedih kah melihat kenyataan tadi?
Ada anak smp, baru kelas 8, pacaran sudah seperti suami istri tidak malu lagi di depan umum.
Malah orang tua sekarang ada yang marah kalau anaknya nggak punya pacar. Akhirnya berzina, selelah itu hamil, apakah ada orang tua yang bangga dengan keadaan itu?
Semua orang tua pasti kecewa.

Tapi nggak usah khawatir, anak kita juga punya peluang untuk menjadi anak yang membanggakan.
Ketika apa?
Contohnya :
Menjadi HAFIZ QURAN. Nggak ada orang tua yang nggak bangga anaknya menjadi hafiz.

Anak kita pun punya peluang untuk menjadi sumber kebahagiaan.
Ketika apa? Jadi anak yang berprestasi, dapat beasiswa ke luar negeri, dan lain-lain.

Lalu bagaimanakah anak-anak kita itu agar selamat keimanannya?

Kalau melihat fakta anak-anak zaman sekarang ini, kita sebagai orang tua kan khawatir. Adakah tips dari Rosululloh, bagaimana agar anak itu menjadi sumber kebahagiaan di dunia dan akhirat?

Anak adalah sesuatu yang penting. Kepedulian kita terhadap anak itu mesti dari awal. Jangan sampai kita menyesal dulu baru memberi perhatian kepada anak. Tentu kita tidak luput dari doa yang sudah digariskan oleh اَللّهُ swt :

رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا

”Wahai Robb kami, karuniakanlah pada kami dan keturunan kami serta istri-istri kami penyejuk mata kami. Jadikanlah pula kami sebagai imam bagi orang-orang yang bertakwa.”
(QS. Al Furqon:74)

Dalam tafsir milenial ini, qurrota a’yun itu kan nyenengin. Jadi kita minta sama اَللّهُ pasangan/istri dan anak keturunan yang bisa nyenengin (qurrota a’yun).

Untuk tips mendidik anak, banyak sekali ayat tentang ini di Al Qur’an.
Kita ambil contoh dari sahabat Rosululloh yang paling galak saja dulu. Umar bin Khattab.

Kalau Rosululloh mendidik anaknya, sudah kebayang pada kita santun dan lembutnya, dan memang orangnya begitu. Usman bin Affan mendidik anaknya, juga sama.
Mungkin timbul pertanyaan di benak kita gimana Umar mendidik anaknya?

Ternyata ketika digali bagaimana Umar mendidik anaknya ini, luar biasa. Kita ambil contoh suatu kisah.
Suatu saat Umar bin Khattab ini, ingin mengangkat seorang pejabat (dulu pejabat ditunjuk langsung, kalau sekarang kan ada pilkada), tiba-tiba ketika sedang asyik ngobrol, lewat, berlari-lari anak kecil.

Bayangkan, yang kita tau Umar itu galak dan setiap orang takut padanya. Dalam pikiran kita kalau ada anak kecil berisik, pastilah beliau marah. Ternyaya tidak.

Anak kecil itu malah dipangku, dicium, dielus dengan penuh kasih sayang.
Laki-laki itupun bertanya,”Ya Umar apakah engkau sering melakukan hal itu? Menggendong anak kecil, mencium mereka dan mengusap kepalanya?”

Umar menjawab,”Ya. Begitu Nabi mengajarkan pada kami”

Kebanyakan bapak-bapak kurang peduli hal ini. Denger anak nangis dibiarkan saja. Kenapa? Kan ada emaknya. Dikit-dikit kan ada emaknya.

Laki-laki yang bersama Umar tadi pun berkata lagi,”Saya punya anak, tidak pernah saya gendong, tidak pernah saya cium, tidak pernah saya usap kepalanya.”

Kata Umar,”Punya anak tapi tidak pernah ditunjukkan rasa kasih sayang.”

Dan akhirnya, Umar pun membatalkan pengangkatannya sebagai pejabat, gara-gara nggak sayang anak.
Jadi bagaimana bisa memperhatikan rakyat kalau anak sendiri tidak diperhatikan?

Pernah dikisahkan suatu saat pada saat sholat berjemaah, Rosul menjadi imam, di sujud yang ke sekian, dia lama sekali sujudnya. Di kisahkan salah seorang yang saat itu melihat ternyata yang terjadi, salah seorang cucu Rosululloh duduk di punggungnya. Beliau relakan memperlama sujud karena khawatir cucunya terjatuh kalau dia bangun.

Jadi rasa sayang Rosulullah terhadap keluarga terutama anak kecil itu sering terlihat, begitu juga dengan sahabat-sahabat yang lain.

Sosok Umar yang begitu tegas, bahkan setan aja takut, tapi begitu dengan anak-anak dia sangat lembut. Sementara kebanyakan kita dalam kondisi seperti itu, mendengar anak berisik, ada yang membentak.

Kita ini harus peduli ke anak, terutama ketika anak kita masih kecil?
Bukankah doa anak kepada orangtua ujungnya “kama rabbayani shaghiran”?

Yang bisa kita lihat dalam kalimat terakhir di do’a itu intinya, kemarin sebagai anak, kedua orang tuaku mendidik aku dengan penuh kasih sayang.

Dan anak meminta اَللّهُ menyayangi orang tuanya seperti orangtuanya menyayanginya sewaktu dia kecil.
Ketika anak kita masih kecil, kita sentuh dia dengan kasih sayang, nanti setelah kita tua, ini akan menjadi doa, mereka akan menyadari apa arti sentuhan kita yang dulu.

Ada seseorang ketika dihadapan اَللّهُ dia bingung…
“Ya اَللّهُ, kenapa aku ini di tempatkan di tempat yang tinggi (mulia) ya اَللّهُ, kenapa anak kami menempatkan kami di tempat yang tinggi ya Robb.”

Dan اَللّهُ berkata,”Wahai kau yang ditempatkan di tempat yang tinggi, karena engkau telah mendidik anak-anakmu supaya berbakti kepada orangtua, dan engkau didik anakmu sebagaimana aku ingin dia berbakti kepadaKu.”

Dan para sahabat bertanya pada Rosululloh,”Ya Rosululloh, bagaimana aku ini mendidik anak supaya berbakti pada اَللّهُ dan Rosulnya, dan berbakti pada ibu dan bapaknya?”

Rosululloh menjawab,”Ajaklah mereka…Terimalah kekurangan mereka, ampuni kesalahannya.”

Dan di sini di dalam Al Qur’an :

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنَّ مِنْ أَزْوَاجِكُمْ وَأَوْلادِكُمْ عَدُوًّا لَكُمْ فَاحْذَرُوهُمْ وَإِنْ تَعْفُوا وَتَصْفَحُوا وَتَغْفِرُوا فَإِنَّ اللَّهَ غَفُورٌ رَحِيمٌ

“Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya di antara isteri-isterimu dan anak-anakmu ada yang menjadi musuh bagimu, maka berhati-hatilah kamu terhadap mereka; dan jika kamu memaafkan dan tidak memarahi serta mengampuni (mereka), maka sungguh, اَللّهُ Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”
(QS. At-Taghaabun: 14)

Jangan sampai anak kita menjadi monster, jadi musuh kita kelak. Jangan sampai anak kita menarik kita dari surga menuju neraka.

Prestasi terbesar orangtua adalah ketika anak itu membimbing dia mengucapkan

لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُوْلُ اللهِ

Ini prestasi!!!

Tipe anak :
Yang pertama, sebagai ‘aduwwun (musuh orang tuanya). Anak kita itu bisa menjadi musuh.

Yang kedua, anak bisa menjadi fitnah. Innama auladukum fitnah.

Yang ketiga, anak bisa menjadi qurrota a’yun.

Al quran, selalu bicara solusi. Quran itu adalah kebenaran yang tidak bisa diperdebatkan.

Ternyata di dalam Al Qur’an ini ada cara supaya anak kita ini tidak menjadi musuh. Anak kita ini tidak menjadi ‘aduwwun bagi emak bapaknya. Apa solusinya?

وَإِنْ تَعْفُوا وَتَصْفَحُوا وَتَغْفِرُوا فَإِنَّ اللَّهَ غَفُورٌ رَحِيمٌ

Supaya anak itu tidak menjadi musuh, اَللّهُ bilang pada kita,”Ikhlas”. Apa bila engkau memaafkan, engkau rangkul dia, dan ampuni dia, sesungguhnya اَللّهُ Maha Pengampun dan Maha Penyayang.

Makanya jika tidak ada cinta di dalam rumah, apa yang terjadi?

Dalam QS At-Taghaabun ayat 14, ada problem dan solusi.
Anak bisa jadi musuh, bisa menjadi fitnah, solusinya di At-Taghaabun ayat 14. Memaafkan, merangkul, mengampuni.

Jadi kalau kita bertanya, yang utama, melembutkan anak kita atau melembutkan diri kita dulu?

Ibarat kita naik pesawat. Sebelum berangkat, pramugari selalu menyampaikan, pelampung harus dipakai dulu oleh ibu/bapaknya, baru kemudian memakaikan untuk anaknya.
Itu proses dalam penyelamatan saat keadaan darurat.

Hidup ini adalah penuh role model. Anak akan melakukan apa yang dilakukan orangtua, bukan mengikuti omongan orangtua.
Misalnya, orangtua nyuruh sholat, tapi dia sendiri nggak sholat, boro-boro anak melakukannya.

Sudahkah kita lembut dan ikhlas terhadap anak, sudahkah kita memaafkan dan menerima kekurangannya?

Catatan Diana
Milad Al Mawaddah
Mesjid Raya Bogor
Narasumber :

  1. Ustadz Hepi Andi Bastoni, Lc, MA
  2. Ustadz R.Muhajir Afandi, M.Pd
  3. Ustadz Dadang Holiyulloh
  4. Habib Ahmad Al Munawar, Lc
Lanjutkan Membaca

Oase

Karena Dia Ingin Kita Bersih

Menjadikan ujian itu sebagai sesuatu yang membuat kita jadi lebih baik itu berat…tapi bukan tak mungkin.

Diterbitkan

pada

Oleh

Tulisan ini berawal dari pertanyaan seseorang tentang Ta’aruf. Semoga bisa dipetik hikmahnya.

Ada yang nanya pada Ustadzah, yang mungkin saja ini mewakili pertanyaan-pertanyaan banyak wanita lain yang tak terungkap.
“Bu kalau ta’aruf, boleh nggak sekaligus 2?”

“Nggak boleh,” jawab Ustadzah.

Perlu diketahui ternyata ta’aruf itu sepertu kita bermuammalah.

Misalkan kita menjual suatu barang, udah ada yang nanyain duluan, belum deal harga dengan penanya pertama, udah ada penanya yang baru, terus yang baru itu mau ambil tanpa nawar.

Itu nggak boleh. Secara adab dalam agama itu nggak boleh. Ta’aruf, khitbah, ya seperti itu.

Jadi kalau sudah ada ta’aruf dengan 1 orang, meski 10 yang antri tetap harus selesaikan dulu yang 1 ini dan tidak mengambang berlama-lama karena bisa mengundang fitnah.

Kadang menjadi kebanggaan bagi wanita ketika banyak yang antri terima dulu semua, lalu diseleksi.

Nggak. Islam sudah mengatur semuanya. Bagaimana hubungan sebelum menikah dan sesudah menikah semua ada dalam Al Qur’an.

Ketika kita paham, itu kan salah satu aturan yang terkait dengan jodoh. Intinya kita harus mengikuti hukum اَللّهُ.

Untuk kita semua niy…yang harus kita perhatikan adalah niat kita. Niat kita ini akan diberikan اَللّهُ. Niat apapun itu.

Tapi semua niat itu akan diminta pembuktiannya. Dan puncak dari pembuktiannya itu, اَللّهُ akan kasi kita 2 pilihan, Aku (اَللّهُ) atau selain Aku? Ikuti aturanKu, atau selain Aku? Pada saat itu kita harus memilih.

Misalnya ada yang nikah karena seseorang itu muda dan ganteng…اَللّهُ bisa aja kasi itu, padahal nggak ada orang yang forever young.

Nihh banyak kejadian seseorang itu pingin nikah supaya jadi lebih baik.
Terus kita cari suami yang sholeh. Suami yang sholeh kan manusia juga ya…bukan malaikat. Manusia itu الإيمان يزيد وينقص (Al imanu yazidu wa yanqush), iman itu naik turun.
Kan kita minta,”Ya Allahu berilah aku pasangan yang sholeh.”

Nah, persepsi kita kan sholehnya forever.
Kata Allahu,”Lu minta suami yang sholeh, Gua kasi niy!”

Pas sebelum nikah dan di awal-awal nikah masih sholeh. Lama-lama berubah, nggak sesholeh di awal-awal nikah. Terus kita kecewa?
Berarti kan kita maksa اَللّهُ niy…pinginnya sholeh selamanya. Padahal iman itu naik turun.
“Lu, Gua kasi pas sholeh, terus ketika keimanan dia turun, lu bantu dia nggak?”

Sekali lagi, persepsi kita ketika mendapat suami sholeh, dia akan sholeh sampai mati. Lalu kita ditarik terus untuk jadi lebih baik. Padahal اَللّهُ sudah sampaikan الإيمان يزيد وينقص.
Jadi…”Mimpi lu kalau mau dapatin suami sholeh selamanya tanpa usaha!” Kecuali namanya Sholeh.

Begitu juga sebaliknya ketika suami menginginkan istri sholehah.

Nah kadang niat kita benar, cuma kita nggak memelihara dari yang kita minta kepada اَللّهُ itu seperti apa…padahal seharusnya suami istri itu, sholeh dan sholehah bersama.

Kita semua pasti tau teorinya, menikah itu melengkapi dien. Orang udah nikah apalagi masih punya bayi, itu mau qiyamullail rasanya susah banget…baru mau mulai sholat tiba-tiba anaknya bangun…misalnya.

Kalau masa gadis mungkin bisa berakaat-rakaat…tapi tetap اَللّهُ kasi bahwa memang, menikah itu adalah melengkapi dien (menyempurnakan agama).

Sekarang sudah lengkap tuh…terus kita maunya enak aja? Nggak mau ada perjuangan?

Kan udah dikasi niy…terus bagaimana mempertahankan kesholehan berdua…kalau suami lagi turun imannya masa’ kita diemin aja? Ntar kita keseret-seret juga. Dan sebaliknya juga jika keimanan istri turun.

Ketika kita bantu suami/istri kita unutk tetap bagus jangan sampai imannya turun, itu kan kita dapat pahala.
Kadang kan kita malah gini…suami kita malas sholat subuh kita biarin aja…lahh jangan!!

Tetap bentuk cinta kita yang sesungguhnya adalah ketika kita saling mempertahankan keimanan. “Keimanan” ya bukan cinta nafsu…bukan. Bagaimana kita menjadikan pernikahan itu sebahgai amal sholeh kita, itu yang utama.

Ya mudah-mudahan kita sadar bahawa sesungguhnya semua yang ada di kehidupan kita niy…اَللّهُ pingin kita bersih…

Nahh dulu niat kita itu apa? …اَللّهُ pingin bukti, sampai akhirnya kita bisa berkata, “Ohh iya benar. Sebenarnya اَللّهُ mau membersihkan niat saya.”

Sampai akhirnya kita ketemu jawaban itu…
Tapi itu belum selesai. Sampai mati…ujian akan terus ada. Ibarat level nih..kita terus diuji sampai mencapai masternya gitu. Sampai hanya ada 2 pilihan terhadap apapun persoalan hidup ini… Ikuti maunya اَللّهُ atau selain اَللّهُ.

Yang disebut selain اَللّهُ itu bisa apa saja…bisa anak, suami, orangtua bahkan diri kita sendiri.

Yang paling sulit adalah menundukkan diri kita untuk patuh dan taat pada hukum اَللّهُ.

Tapi ini perjuangan yang harus kita hadapi. Karena hanya dengan tunduk pada aturanNya kita mendapat ridhoNya, dan hanya yang mendapat ridhoNya yang akan sampai pada surgaNya.

Tapi عَلَى كُلِّ حَالٍ semua yang kita alami itu baik buat diri kita. Dengan ujian yang ada (diuji dengan anak-anak, orangtua, suami/istri atau apa saja), kapasitas kita jadi naik.

Kita harus sampai pada pemahaman, ujian itu cara اَللّهُ mencintai kita.

Jadi yang harus ditumbuhkan, اَللّهُ itu mencintai kita lebih dari siapapun bahkan suami/istri kita sendiri. اَللّهُ itu lebih mencintai kita. Jadi ketika kita diuji kita bisa bilang ke diri kita,”Ohh اَللّهُ lagi sayang sama saya.”

Menjadikan ujian itu sebagai sesuatu yang membuat kita jadi lebih baik, itu bera tapi bukan tak mungkin.

Karena ujian memang ditujukan untuk kenaikan kelas…bukan untuk jadi terpuruk.

Dia, اَللّهُ menguji kita dengan sesuatu yang kita mampu melewatinya. Karena Dia lebih tau tentang kita dibanding kita sendiri.

والله أعلمُ بالـصـواب

Catatan Diana

Lanjutkan Membaca

Oase

Pemuda Al-Kahfi (Bag. 1)

Diterbitkan

pada

Oleh

Ini kisah tentang pemuda Al Kahfi. Mereka ada di sebuah pemerintahan yang kepemimpinnya, yang rezimnya memusuhi اَللّهُ, yang memaksa orang untuk meninggalkan اَللّهُ, menyuruh orang untuk tidak taat pada اَللّهُ, bahkan mengancam, melakukan tindakan depresif, siap bunuh, siap kejar, siap pancung, siap penjarakan…

Ini jahat!!!
Rezim seperti itu bisa ada dimana saja, kapan saja.
Semoga tidak ada di tempat kita.
Kalau yang seperti itu…itu jahat!
Jadi kita nggak terkontaminasi, nggak bimbang, nggak bisa diombang-ambingkan oleh berita manisnya, berita-berita pencitraannya, usaha dan upayanya… Kita nggak tertarik pada yang memusuhi اَللّهُ dan RosulNya,

Dan اَللّهُ dalam ayat yang lain, dalam surat
Al-Baqarah 2:114

وَمَنْ أَظْلَمُ مِمَّن مَّنَعَ مَسَٰجِدَ ٱللَّهِ أَن يُذْكَرَ فِيهَا ٱسْمُهُۥ وَسَعَىٰ فِى خَرَابِهَآۚ أُو۟لَٰٓئِكَ مَا كَانَ لَهُمْ أَن يَدْخُلُوهَآ إِلَّا خَآئِفِينَۚ لَهُمْ فِى ٱلدُّنْيَا خِزْىٌ وَلَهُمْ فِى ٱلْءَاخِرَةِ عَذَابٌ عَظِيمٌ

Siapakah yang lebih zalim daripada orang yang melarang menyebut nama اَللّهُ di dalam masjid-masjid-Nya, dan berusaha merobohkannya? Mereka itu tidak pantas memasukinya kecuali dengan rasa takut (kepada اَللّهُ). Mereka mendapat kehinaan di dunia dan di akhirat mendapat azab yang berat.

Tak ada yang lebih zalim dari itu. Nggak ada kejahatan yang lebih jahat dari itu, tak ada lagi keburukan lebih buruk dari orang yang memusuhi orang yang mau taat, orang yang memerangi orang yang menegakkan ketauhidan, nggak ada yang lebih jahat dari itu.

Gambaran di surat Al Kahfi, tentang anak-anak yang bertahan beberapa waktu, di dalam pemerintahan itu, mereka lihat dengan terang-terangan pemerintahan itu berusaha untuk menindas mereka. Karena mereka mempercayai اَللّهُ dan berusaha menegakkan agama اَللّهُ di muka bumi ini.

Kepemimpinan itu alergi terhadap hal itu, lalu mereka dikecam, dikejar, karena pemerintahan itu ingin semua tunduk pada perintah-perintahnya.
“Jangan ada perlawanan kepada kami. Walau kami salah nggak mau tau. Yang penting kami yang punya kekuasaan. Semua harus patuh dan taat pada kami, walau kami menantang اَللّهُ, walau kami memusuhi اَللّهُ semua harus taat!”

Anak-anak muda ini, anak-anak yang baik. Mereka tak bisa terima. Tapi mereka ini tidak berkuasa. Jumlahnya 8-9 orang. Atau 7 – 8 orang. Mereka tak punya kuasa, tak punya kekuatan apa-apa.

Penguasa negri membenci mereka, ingin menyingkirkan mereka, sementara jumlah mereka sangat sedikit. Kalau mereka tetap bertahan, mereka habis, mereka dibunuh. Dan mereka tau, mereka tak bisa terus di situ.

Sebuah kejahatan yang dipimpin oleh sekumpulan orang-orang jahat, kalau dia sudah punya kekuatan, maka targetnya adalah yang melawan, disingkirkan atau dibunuh.

Itu lumrah. Di Al Qur’an diceritakan. Kejahatan, kebatilan itu kalau sudah punya power, sudah punya kekuatan, maka dia akan tampil sebagai sebuah kekuatan yang sangat arogan, dan dia tidak peduli dengan yang namanya nilai-nilai kemanusiaan. Siapapun yang melawan dia, harus disingkirkan.

Kisah seperti ini bisa terjadi dimana saja. Tidak hanya di negeri Arab.

7-8 orang anak muda melihat rawannya agama mereka, rawannya aqidah mereka untuk dibasmi. Mereka tidak siap dan tidak punya kekuatan apa-apa, mereka harus menyingkir dan hijrah keluar dari lingkungan yang berbahaya itu. Mereka diam-diam pergi bersama-sama, serentak tinggalkan negeri itu untuk menyelamatkan aqidah mereka. Masuklah mereka ke gua.

(Guanya dimana tidak dijelaskan. Tapi yang pasti mereka masuk gua. Tidak disebutkan guanya dimana. Kalau ada yang menyebutkan guanya di Syirria ya sudah, mungkin itulah dia. Atau di Mekkah, mungkin itulah dia. Itu bukan menjadi kewajiban kita untuk mempercayainya. Yang pasti mereka masuk gua.)

Maka terjadilah cerita itu.

Kita bisa melihat betapa mahalnya sebuah aqidah itu. Betapa mahalnya nilai-nilai tauhid itu. Nggak bisa diukur dengan dunia.

Aqidah itu, keyakinan kita kepada اَللّهُ itu, nggak bisa dinegosiasikan.

Kalau ada orang yang menegosiasikan urusan aqidah dia, maka ini orang dipertanyakan keimanannya, ada apa?

Negosiasi dalam agama tidak termasuk dalam keriteria aqidah.
Keyakinan, kepercayaan kepada اَللّهُ dan Rosul nggak bisa tarik ulur.
Setiap kali ada orang baik pasti ada orang jahat di sekitar itu. Dalam bentuk kumpulan kecil atau dalam bentuk kumpulan besar. Dalam bentuk organisasi yang terkontrol rapi atau dalam keadaan yang terpecah-pecah.

Bagi orang yang beriman kepada اَللّهُ, yang yakin pada اَللّهُ yang yakin dengan balasan baik dan buruknya اَللّهُ di kemudian hari, takut akan balasan buruknya اَللّهُ, orang-orang ini, harus tau dimana posisi amannya agama mereka. Harus tau!
Jangan biarkan agama kita dalam posisi tidak aman. Karena kita tidak bisa menjamin sebesar apa kekuatan dan kemampuan kita untuk mencegahnya dari ketidakamanan.
Jika semua itu datangnya dikaitkan dengan anak kita, akan runtuh kekuatan itu.

Kita bisa kuat menghadapi tekanan, siksaan, yang ditimpakan kepada kita oleh musuh-musuh اَللّهُ, tapi kita yang ditekan. Kalau yang ditekan itu adalah anak kita di depan mata kita, itu cerita lain.

Kalau yang ditekan itu anak kita yang tidak berdosa, tidak bersalah, yang masih kecil, ditekan di hadapan kita, agar kita tunduk pada keinginan musuh-musuh kita, itu berat.

“Kamu kalau nggak mau percaya pada kami, kamu kalau nggak mau patuh dengan kami, kamu kalau nggak mau ikut undang-undang kami, anakmu nggak kami kasi makan, kami bikin lapar, atau kami gantung anakmu di depan matamu.”
Ini berat. Kita tidak siap kalau kaitannya dengan orang yang kita sayangi.

Kita rela berkorban demi anak kita. Maka jangan biarkan kesempatan penjahat-pejahat itu masuk ke area dimana kita tidak punya kemampuan lagi untuk menolak.

Dia pakai instrumen yang sangat membuat kita terpojok. Anak yang kita sayangi disiksa di depan mata. Jangan beri kesempatan penjahat-penjahat itu masuk!

Kalau bisa, selamatkan diri sampai benar-benar selamat atau singkirkan penjahat itu sebelum kuat. Singkirkan kekuasaan itu sebelum menjadi kuat.

Tapi kalau tak mampu menyingkirkannya ya sudah. Pergilah…bawalah anak ini. Hijarahlah seperti yang dilakukan Rosululloh. Bawa anak ini…selamatkan dia.

Sejarah hijrahpun terjadi pada Rosululloh saw.

Ashabul Kahfi, pemuda-pemuda yang melarikan dirinya dengan imannya yang haq, yang mereka yakini, keimanannya terhadap اَللّهُ, meninggalkan sebuah negri yang penuh kezaliman, lalu masuk ke dalam gua.

Ini cerita biasa. اَللّهُ sudah kasi tau pada Rosululloh, ini cerita memang ada dan itu biasa. Sama dengan cerita-cerita dalam Al Qur’an yang lain bukan suatu hal yang luar biasa.

Makannya اَللّهُ memulai cerita Ashabul Kahfi ini, dengan ucapannya,

Al-Kahf 18:9

أَمْ حَسِبْتَ أَنَّ أَصْحَٰبَ ٱلْكَهْفِ وَٱلرَّقِيمِ كَانُوا۟ مِنْ ءَايَٰتِنَا عَجَبًا

“Kamu kira cerita tentang anak muda yang masuk dalam gua ini adalah cerita yang menakjubkan? Tidak.
Biasa saja. Masih banyak lagi cerita-cerita yang lainnya yang sangat menakjubkan yang ada tercantum dalam Al Qur’an.”

Dan kalau terjadi lagi cerita yang dialami oleh Ashabul Kahfi ini hari ini, di tempat kita atau dimana saja, itu mah biasa juga.

Jangan terkejut. Dia akan terulang dan terjadi lagi. Tentang penindasan, kezaliman, kekuasaan terhadap orang-orang baik, terhadap orang-orang beriman, terhadap orang-orang yang bertakwa, terhadap orang-orang yang berjalan di jalan yang lurus, apakah cerita itu cerita mengejutkan? Tidak. Biasa saja.

Dulu terjadi, hari ini terjadi, yang akan datang juga terjadi. Dimana ada kekuasaan yang kezaliman itu ada menyertainya, maka dia akan berbuat semau dia terhadap orang yang menentangnya.

Mereka mau semua ikut cara mereka. Mereka mau semua ikut apapun ‘isme’ mereka. Dengan apapun mereka lakukan. Itulah ceritanya. Dan itu berulang. Kita bisa liat sendiri kejadian-kejadian yang ada.

Jadi اَللّهُ memulai cerita Ashabul Kahfi ini dengan pertanyaan tadi

Biasa saja.
Supaya kita jangan berpikir kejadian itu hanya ada di zaman Ashabul Kahfi saja. Nggak. Cerita itu sama. Kapanpun bisa terjadi. Bahkan kita bisa mengalaminya.

Al-Kahf 18:10

إِذْ أَوَى ٱلْفِتْيَةُ إِلَى ٱلْكَهْفِ فَقَالُوا۟ رَبَّنَآ ءَاتِنَا مِن لَّدُنكَ رَحْمَةً وَهَيِّئْ لَنَا مِنْ أَمْرِنَا رَشَدًا

Mulai ceritanya dari situ. Ada anak-anak muda, yang cinta kepada اَللّهُ, cinta pada aqidahnya, dan tidak mau keyakinan agama itu dikorbankan, mereka tinggalkan negeri mereka menuju gua. Mereka bernaung di gua yang jauh dari negeri itu. Lalu disanalah mereka, dengan harapan-harapan اَللّهُ selamatkan mereka.

Dalam hati mereka harapan besar, اَللّهُ akan tunjukkan mereka, اَللّهُ akan bantu mereka dan tolong mereka bersama aqidah mereka. Itu yang mereka harap dari اَللّهُ.

Yang punya agama ini اَللّهُ. Kita harus yakin itu. Yang punya risalah islam ini, اَللّهُ. Yang punya Al Qur’an ini, اَللّهُ. Yang mengutus Rosululloh Muhammad saw, اَللّهُ. Yang mengajarkan nilai-nilai agama yang sedang kita jalani ini adalah اَللّهُ. Kekuatan ada di tangan Dia (اَللّهُ).

Dia yang memiliki, Dia yang akan membela. Dia yang memiliki Muhammad yang Dia utus, Dia yang memiliki nilai-nilai. Dia yang punya. Dia yang punya alam, Dia yang punya segalanya. Dia yang ngatur segalanya, wong dia yang punya.
Maka yang Maha kuat itu cuma Dia.

Coba kita pakai analogy ini, nggak mungkin terjadi seseorang yang memiliki segala sesuatu dengan powernya lalu dengan gampangnya dia menyerahkan kepemilikiannya kepada orang lain sedang dia punya kekuatan untuk membela. Nggak akan terjadi seperti itu.

Kita punya anak, yang ada dalam kekuasaan kita, kita punya kekuatan untuk membela anak kita, lalu tiba-tiba ada orang yang mengaku itu anak dia, sikap kita gimana? Bisa bunuh-bunuhan mungkin. Apalagi ada bukti bahwa kita memilikinya, kita tidak akan tinggal diam. Kita akan lawan. Dan itu hak kita. Itu terjadi pada kita. Bagaimana dengan اَللّهُ? Dia yang Maha Kuat, Maha memiliki segalanya, apa اَللّهُ diam?

Jangan mereka pikir اَللّهُ akan diam. Apapun yang ada di alam semesta ini punya Dia, lalu dia titipkan kepada manusia, lalu datang manusia merasa jagoan, sombong angkuh dan sebagainya, apakah اَللّهُ akan diam? No, اَللّهُ tidak akan tinggal diam.

Adanya pembelaan itu karena ada rasa memiliki. اَللّهُ itu memiliki semuanya, مالك الملك, dia yang punya kekuasaan, مَالِكِ يَوْمِ الدِّينِ, لَهُ الْمُلْكُ, itu ayat-ayat Qur’an yang bercerita tentang kepemilikan, kekuasaan, kerajaan اَللّهُ yang semua bersumber kepada Dia.

لَهُۥ مَا فِى ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلْأَرْضِۖ

Agama yang benar itu adalah agama Aku (اَللّهُ), yang benar di sisi Aku itu agama islam.

Lalu datang manusia belagu yang mau menyingkirkan Islam mendiskriminasikan Islam, ini cerita lama.

Anak-anak muda ini tau bahwa agama dia itu adalah milik اَللّهُ, mereka cuma mengamalkan agama mereka, keEsaan itu milik اَللّهُ, tauhid itu milik اَللّهُ, mereka tau, mereka cuma mengamalkan, mereka cuma menyelamatkan agama mereka.

Tapi apakah اَللّهُ biarkan mereka? Tidak. اَللّهُ kawal mereka, اَللّهُ kontrol mereka, maka setelah pergi tinggalkan negrinya yang pemerintahannya zalim itu, mereka masuk ke gua dan mereka bilang
رَبَّنَآ ءَاتِنَا مِن لَّدُنكَ رَحْمَة

“Ya اَللّهُ berikan kepada kami rahmat dalam rangka menyelamatkan agama kami ini, ya اَللّهُ berikan kami petunjuk, ya اَللّهُ beri kami ini karunia, ya اَللّهُ beri kami kekuatan untuk kami selamatkan agama yang bersama kami ini.”
Dan اَللّهُ dengar semua jeritan mereka.

Agama ini dalam keadaan bahaya, agama generasi dalam keadaan bahaya, agama anak cucu dalam keadaan bahaya, jangan lepas dari اَللّهُ karena itu kaitannya langsung dengan اَللّهُ, cepat mengadu pada اَللّهُ. Cepat!!

Karena yang punya agama itu adalah اَللّهُ, Dia yang akan selamatkan kita. Kita cuma berusaha, kita cuma membuat pertahanan seadanya. Dan itu harus. Nggak bisa tenang-tenang saja dalam menghadapi permainan-permainan kasar dari sekelompok orang yang tidak senang dengan nilai agama ini.

Ada orang yang ingin meracuni agama ini, ada orang yang bermain-main dengan agama ini, ada orang yang coba melecehkan kalimah اَللّهُ, ada…manusia seperti itu ada di depan mata kepala kita dan kita lihat wajah mereka, mereka tau itu. Kita lihat bagaimana kelakuan sombong mereka untuk menginjak-injak agama itu. Kelihatan.

Banyak sudah yang terjadi.

Kita dalam posisi seperti itu, kita tidak bisa berdiam diri dan cuma bilang…
“Ah sudahlah, terima saja apa adanya, yang punya agama ini اَللّهُ kog.”
Nggak bisa bilang begitu doank!!

Emang sihh…ada orang bilang gini,”Ngapain bela agama? Kan agama punya اَللّهُ. اَللّهُ juga tau kog ngebela agama itu gimana. Kalian bilang bela agama…bela agama. Emang اَللّهُ nggak mau bela agamanya?”

Kita kenal bahasa itu. Itu bahasa pemelintiran. Supaya kita lepas tangan total dari bertaruh dan bermohon kepada اَللّهُ. Biar kita tidak punya kekuatan. Kekuatan itu datangnya dari اَللّهُ. Orang seperti itu sengaja memasukkan bahasa pemelintiran itu supaya kita, jiwanya setengah-setengah dalam berinteraksi dengan agama. Tiba-tiba harus jadi liberalis ya liberalis, tiba-tiba harus murtad ya murtad.
“Ngapain bela agama, biarlah agama yang ngurusin اَللّهُ saja.”
Itu pemelintiran. Nggak begitu harusnya.

Pada saat kita terjepit seperti yang terjadi dengan Ashabul Kahfi ini, mereka pergi tinggalkan negrinya, mereka minta kepada اَللّهُ pengawalan, pertolongan atas agama yang mereka yakini, ketauhidan yang mereka yakini, mereka minta bantuan اَللّهُ, minta kekuatan dari اَللّهُ, minta tolong dari اَللّهُ.
“Bantu kami ini ya اَللّهُ, karena kami ini punya keterbatasan dalam hidup.”

Kita semua punya keterbatasan di dalam hidup, kita nggak bisa jamin kalau dalam situasi kondisi seperti yang disebutkan tadi, anak ditekan, dicekek, dikasi makan yang mengandung racun, disiksa di depan mata, kita belum pasti bisa bertahan dengan keyakinan kita.

Karena belum terjadi, kita mungkin bisa tenang. Itu bukan hanya kisah zaman dulu. Zaman sekarang juga banyak. Bagaimana zaman dulu pernah terjadi anak-anak menjadi tumbal untuk membuat tekanan-tekanan kepada bapak ibunya? Itu jadi pelajaran untuk kita.

Kemudian Ashabul Kahfi ini, selain mereka meminta rahmat, pertolongan dan kekuatan, mereka minta kepada اَللّهُ :

وَهَيِّئْ لَنَا مِنْ أَمْرِنَا رَشَدًا

“Ya اَللّهُ berikan kami ini petunjuk dalam menjalani tekanan ini.”

Petunjuk itu perlu, sebab banyak orang kecantol, banyak orang terjatuh, tergelincir, karena jauh dari petunjuk اَللّهُ, gangguannya terlalu berat.

Dan orang-orang yang tergelincir itu, tidak ada arahan, tidak ada pengawalan dari اَللّهُ, buta mata hatinya, tadinya apa yang dia yakini, jadi sebaliknya.

Rosyada (petunjuk) itu, modal untuk keselamatan hidup. Petunjuk adalah modal untuk bisa selamat dalam menjalani hidup ini, apalagi dalam tekanan, dalam ketidak mampuan.

Orang-orang yang diberi petunjuk oleh اَللّهُ swt itu artinya اَللّهُ pegang hati mereka, اَللّهُ kontrol hati mereka. Kita penting itu pada saat kita hampir tergelincir, jangan sampai tergelincir, karena dunia ini kan musibah, dunia ini kan hoax, apalagi kalau dunia ini dikontrol oleh kekuatan hoax. Maka gampang banget orang bisa terpengaruh dengan hoax.

Dunia ini banyak kebohongan, banyak permainan, banyak sandiwara. Sandiwara itu kan sama dengan lakon, lakon itu kan banyak bohongnya.

Siapa yang membimbing kita? Yang membimbing kita adalah اَللّهُ. Pada saat hati ini terikat sama اَللّهُ, pada saat اَللّهُ beri cahaya pada hati ini, pada saat اَللّهُ kawal hati kita dalam situasi kondisi gimanapun, tetap istiqomah.

Lalu apa yang terjadi setelah mereka masuk ke dalam gua? Ketika ada keamanan, intel, polisi yang akan menangkap mereka, harusnya mereka berjaga-jaga. Tapi apa yang terjadi ketika اَللّهُ membimbing dan mengawal mereka? Pemahamannya ini adalah hikmah yang bisa kita petik. Apa yang terjadi ketika اَللّهُ bersama mereka? Bukan menjadikan mereka berjaga-jaga selama 24 jam. Beberapa waktu setelah sampai, mereka tertidur di dalam gua tersebut.

Logikanya, kalau kita harus lari, kita harus sembunyi, ya kita harusnya berjaga-jaga di tempat persembunyian kita kan? Tapi اَللّهُ berkehendak lain kepada Ashabul Kahfi ini.
Itu hikmah kebijaksanaan اَللّهُ.

Jadi, kekuatan itu, kemenangan itu, ada yang nampak di depan mata, ada yang nggak nampak. Kita ini cuma mengatur strategi kerja. Kita cuma membuat aturan-aturan pemenangannya. Tapi sebenarnya kemenangan itu dari اَللّهُ. kita harus berjaga-jaga atas kekalahan kita, jangan sampai kalah. Tapi yang menolak kekalahan itu adalah اَللّهُ.

Ashabul kahfi ini, begitu masuk gua, dia ditidurkan oleh اَللّهُ. Nggak harus mikir sama sekali kalau di sana ada musuh yang sedang mengejar mereka. Luar biasanya اَللّهُ Ta’ala. Sesuatu yang tidak nampak, tapi perhatikan lagi, sebelum mereka itu tertidur, apa yang mereka lakukan?

Mereka berjuang, bergerak, menunjukkan sikap penentangan mereka, tidak setujunya mereka, lari dari kejahatan itu, setelah itu, serahkan pada اَللّهُ. Lalu اَللّهُ bekerja di situ.

Bekerjanya اَللّهُ di situ, membuat mereka tertidur tidak tanggung-tanggung 300an tahun. Selama 300an tahun hidup mereka di dalam gua itu, musuh mencari-cari, tapi tidak menemukan mereka.

Musuh اَللّهُ itu, musuh agama itu siapapun itu, dimana saja, sebenarnya itu kecil. Dia itu besar karena ada di benak kita dia besar.

Ketika dia tau kita nganggap dia itu besar, dia tambah besar kepala. Ketika kita tunduk, ketika kita mnggut-manggut…bertambahlah dia injak-injak kepala kita. Ketika kita inggih-inggih saja dengan kejahatan mereka, pelan-pelan dia semakin bermain-main di atas kepala kita. Itulah yang terjadi dengan penjajahan di indonesia. Indonesia bisa dijajah selama 350 tahun.

Penjajah datang ke Indonesian tidak langsung menjajah. Mereka datang dengan dengan bentuk perdagangan, dilihat mereka orang indonesia itu lugu-lugu, layu-layu, lesu-lesu, mau-mau, takut-takut, kesempatan bagi mereka untuk menguasai. Mereka berhasil menjajah kita selama 350 tahun.

Kalau dari awal orang Indonesia ini tau bahwa mereka dikerjain, dirampok, dikejamin, lalu mereka lawan, mereka tentang, penjajah mikir-mikir…tapi tidak begitu kejadiannya.

فَضَرَبْنَا عَلَىٰٓ ءَاذَانِهِمْ فِى ٱلْكَهْفِ سِنِينَ عَدَدًا

Selama 300an tahun, اَللّهُ bangunkan mereka. Sebenarnya mereka ini setengahnya adalah mati. Karena mereka total tidak tau apa yang terjadi. Mana ada orang yang bisa hidup, tidak makan tidak minum tiga ratusan tahun. Tapi itulah kekuasaa اَللّهُ. Dia (اَللّهُ) tidak inginkan mereka mati, walau nggak makan dan nggak minum.

Kalau logikanya kan dalam 300an tahun ini mereka akan tinggal tulang belulang doank. Tapi tidak! Rohani mereka hidup.

Kalau rohani ini hidup, badan juga hidup. Hidup rohaninya dan hubungannya dengan اَللّهُ Ta’ala begitu kuat.

Bangun hubungan baik dengan اَللّهُ Ta’ala agar rohani hidup. Terasa bangkit gairah hidup, terasa bangkit kekuatan hidup terasa ada energi hidup.

Walau tidurpun akan ada energinya karena ada hubungan dekat dengan اَللّهُ. Walaupun capek kalau ada kekuatan rohani yang tersambung dengan اَللّهُ, hilang capeknya. Kekuatan itu terus tumbuh.

Semua pejuang-pejuang yang tulus berjuang di jalan اَللّهُ, mereka menghadapi kesulitan tapi mereka tidak mengeluh, mereka jalani saja kehidupan ini walau mereka dibatas ambang selesai. Sudah tidak ada lagi yang mereka bisa tonjolkan sudah sangat sangat terjepit, tapi hubungan mereka dengan اَللّهُ memberi kekuatan dalam kehidupan mereka. Yang memberikan energi. Itu yang membuat mereka masih bertahan.

Energi yang ada di hati mereka itu cukup kuat. Kalau itu sudah tak ada lagi…selesai!
“Kemudian Kami bangunkan mereka. Bangkitkan mereka lagi. Sebenarnya mereka sudah mati tapi hati mereka masih hidup, jiwa mereka masih hidup, rohani mereka masih hidup.”

Dan ini sebuah kekuatan اَللّهُ, kekuasaan اَللّهُ. Ketika اَللّهُ ingin hidupkan orang seberapa lamapun اَللّهُ bisa hidupkan. Ketika اَللّهُ ingin matikan orang dengan cepatpun اَللّهُ bisa matikan.

Tapi Ashabul Kahfi ini lain ceritanya. اَللّهُ ingin menunjukkan pada manusia, kamu berbuat, Aku menentukan.

Umur kita rata-rata 100 tahun tapi yang ini lain, 300an tahun.

Maka mintalah kekuatan, dari اَللّهُ. Maka mintalah isi dan nilai kehidupan itu dari اَللّهُ, biar bernilai.

والله أعلمُ بالـصـواب

Catatan Diana
Dari tafsir Al Kahfi
Habib Ahmad Al Munawar, Lc

Lanjutkan Membaca

Trending