Terhubung dengan kami

Oase

Bandara Internasional Dikepung 8 Jam, Polisi tak Berdaya

Diterbitkan

pada

WAJAHBATAM.ID | BATAM  – Ada satu..dua.. tiga dan seterusnya, Hampir ratusan massa radikal yang mengaku paling Pancasilais dan NKRI berorasi di daerah Vital Nasional,  Bandara Hang Nadim Kota Batam menolak Neno Warisman yang berstatus Warga Negara Indonesia untuk menerima undangan deklarasi  #2019GantiPresiden yang akan digelar pada juli, 29 pukul 07.00 WIB di sekitaran masjid Agung Batam.
Massa ini lolos dan leluasa berdemo/orasi sejak pukul 17.00 wib hingga saat ini pukul 22: 50 wib. Mereka tak mau hengkang sebelum Neno Warisman membatalkan niatnya untuk hadir pada kegiatan itu. Lucunya Petugas keamanan dan aparatur hukum pun membiarkan mereka menduduki lokasi vital negara tersebut.

Sementara itu, Kapolda Kepri dan Kapolresta Barelang tampak juga berada dilokasi sekitar pukul 18:30 wib. Tak ada pembubaran, tak ada upaya semua seperti terarah dan direncanakan.
Saat ini, Neno Warisman masih berada dilokasi bandara, Tak ada daya kepolisian untuk dapat membantu keamanannya menunju tempat penginapan. Neno sejak pukul 18.30 sudah berada di Bandara dan terjebak hingga saat ini.
Saat ini Diluar bandara, rombongan yang menjemput Neno Warisman pun tak di perbolehkan masuk untuk mengamankan Neno. Polisi melakukan siaga penjagaan dan pengecekkan setiap masyarakat yang ingin masuk ke Bandara. Ada Apa ini ? Sementara massa yang didalam tidak di Bubarkan tapi yang diluar ditolak untuk masuk.
Pak polisi, Kemana Arah mu ? Pendemo telah memasuki dan berorasi di area vital nasional, mereka telah melebihi batas jam unjuk rasa, kenapa diam ?
(Sumber: https://www.facebook.com/imbalonamaku/)

1,610 kali dilihat, 5 kali dilihat hari ini

Iklan
Klik untuk komentar

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Batam

Reuni 212, Abu Janda, dan Khilafah di Indonesia

Diterbitkan

pada

Oleh

Oleh : Anton Permana.

WAJAHBATAM.ID – Jakarta, 2/12/2019 | Hari ini tepat 2 Desember 2019. Dimana saat ini berhimpun dan berkumpul jutaan manusia di tugu Monas Jakarta. Tidak saja ummat muslim Indonesia yang berkumpul, terapi juga dihadiri ummat Islam dari luar negeri bahkan juga masyarakat non-muslim baik dalam dan luar negeri.

Hari ini mengingatkan kita tentang aksi 14 juta manusia yang berkumpul salam satu titik, satu semangat, satu sikap, satu komitmen tentang sebuah ketidak adilan atas perlakuan penistaan terhadap agama yang seharusnya dirawat dan dijaga oleh negeri ini.

Yang uniknya, jutaan manusia berkumpul ini penuh dengan kedamaian, penuh cinta dan kasih sayang, penuh rasa persudaraan yang luar biasa. Bayangkan, 14 juta manusia ini sama dengan separoh warga negeri jiran Malaysia. 3,5 kali warga Singapura, atau hampir sama dengan jumlah penduduk 5 negara di Eropah Timur. Namun, jutaan manusia dengan ‘dress code’ berwarna putih ini berkumpul tanpa ada rumput yang terinjak, bunga taman yang rusak, atau sampah yang tercecer layaknya konser atau pesta kembang api di tahun baru. Semua kembali clean and clear alias kinclong.

Tak ada aura kemarahan. Semua wajah ramah dan bahagia. Makanan gratis serta minuman tak terhitung gratis untuk semua yang hadir. Semua seakan berlomba, memperlihatkan inilah wajah asli kedamaian bangsa Indonesia. Inilah wajah sejatinya ummat Islam (mewakili dunia) sebenarnya. Sangat jauh dari segala fitnah stigma negatif, serta propaganda busuk para buzzer dan media tentang wajah Islam yang bengis, anarkis, radikal, dan penuh kekerasan.

Semua stigma dan fitnah sejak saat itu rontok bak bangunan tua yang rapuh. Segala fitnah keji terhadap ajaran Islam yang suci berbalik menjadi jutaan simpati. Sampai akhirnya, sebuah organisasi dunia bernama ‘the world peace of community’ yang beranggotakan 202 negara ini menjadikan tanggal 2 Desember atau populer disebut dengan 212 sebagai hari persaudaraan atau hari ukuwah sedunia.

Tidak saja hanya sampai di situ. Seiring waktu berjalan, fakta demi fakta terjadi semakin membuka mata publik dunia. Kejadian pembantaian oleh warga papua terhadap warga non-papua yang sadis dan biadab di Wamena, serta ingin merdeka melepaskan diri dari NKRI, menjadi ‘bomb’ fakta yang tidak terelakkan. Insiden anarkisme aparat dalam penanganan demo 21-23 Mei pasca Pilpres yang lalu juga menjadi fakta yang tak terbantahkan. Hingga tewasnya 700 petugas KPU masa Pilpres menjadikan objektifitas pikiran rakyat semakin terbuka. Bahwa siapa sebenarnya yang bengis di negeri ini ? Siapa sebenarnya yang radikal di negeri ini ? Kelompok mana sebenarnya yang anti toleransi dan anti NKRI di negeri ini ?

Tidak hanya itu. Pernyataan artis Agnes Mo yang tidak mengakui keturunan darah Indonesia plus kejadian dua siswa penganut Yehua yang tidak mau hormat pada bendera karena keyakinannya juga meluluh lantak kan segala stigma tentang image buruk Islam yang selalu di sudutkan dengan narasi radikal, intoleran, atau anti Pancasila.

Jadi menurut penulis, sangat wajar momentum 212 yang kembali bergelegar di laksanakan hari ini di tugu monas Jakarta memberikan arti, spirit, dan sebuah pesan holistik yang monumental bagi rakyat Indonesia khususnya yang paham akan arti sebuah nilai persaudaraan dan kebangsaan.

Tak mesti dengki, tak mesti iri, atau juga tak mesti sampai kejang-kejang kepanasan melihat jutaan rakyat Indonesia berkumpul dengan penuh cita rasa cinta hari ini.

Sebuah apresiasi besar patut kita berikan kepada Kapolri saat ini. Yang telah ikut mengawal dan tidak mempermasalahkan seperti tahun sebelumnya. Serta para Menteri kabinet jilid dua saat ini yang mulai ‘tahu diri’ dan mulai belajar hemat ujaran provokasi terhadap ummat Islam.

Lalu bagaimana dengan Abu Janda sesuai dengan judul di atas ? Penulis sebenarnya sengaja menyebutkan nama sosok Abu Janda (atau apalah nama aslinya) ini sebagai bentuk analogi gambaran nyata yang sederhana, bagaimana sebuah kekuatan ‘invisible hand’ yang sangat tidak ingin bangsa ini hidup dengan aman dan damai.

Abu Janda adalah representasi sebuah narasi global yang begitu berkepentingan tidak ingin bangsa Indonesia hidup tenang dan kemudian dapat berpikir jernih dan positif. Abu Janda adalah gambaran nyata dari sebuah kerapuhan mental spritual, sentimen, serta kepanikan membabu buta. Kenapa demikian ? Karena kalau rakyat ini hidup tenang dan damai, maka suasana kondusif ini akan dapat melahirkan sebuah aura positif yang konstruktif. Aura kedamaian dan stabil dari sebuah bangsa akan cepat melahirkan sebuah ‘quantum’ lompatan kemajuan berpikir, bertindak dari sebuah bangsa. Tetapi kalau sebuah bangsa selalu rusuh, bertengkar di sibuk kan dengan berita negatif, isu sentimentil provokasi dan narasi kebencian (adu domba antar sesama) ala Abu Janda ini kapan rakyat akan berpikir positif ? Kapan rakyat akan bersatu padu untuk bangkit ?

Nah semua ini sangat dipahami oleh kekuatan global ituterhadap bangsa Indonesia. Dikarenakan Islam adalah mayoritas di negeri ini, apalagi Islam juga adalah musuh ideologis kekuatan global ini, maka Islam akan selalu jadi sasaran empuk mereka melalui tangan kekuasaan yang mereka miliki. Karena mereka sangat tak ingin Islam masuk dan berada dalam pusaran kekuasaan walau satu titik pun. Ini sangat membahayakan agenda mereka untuk terus menguasai dunia.

Lalu muncul pertanyaan, bahwa para pemimpin di negeri ini adalah juga beragama Islam ? Jawabannya iya. Tetapi silahkan nilai sendiri tentang sikap, pemahaman, dan keberpihakannya terhadap Islam. Dan disinilah piawainya kekuatan global saat ini dalam memecah belah, mencuci otak ummat Islam sehingga berpecah belah.

Dan tidak tertutup kemungkinan dari semua itu ada yg secara tak sengaja menjadi ‘agent’ atau kaderisasi hasil cuci otak dan penokohan melalui kekuasaan mereka. Dalam sistem pertempuran operasi inteligent seperti ini lazim terjadi salam sebuah kompetisi geopolitik dan geostrategi antar negara di dunia.

Menurut penulis, setiap saat akan selalu diciptakan narasi ala si Abu Janda terhadap bangsa ini. Yang membedakan hanya kelas perannya saja. Ada yang type Abu Janda kelas kaki lima berupa menolak ceramah agama atau bakar bendera tauhid. Ada yang kelas menengah dengan olok-olok ajaran agama atau symbol Islam melalui buzzer bayaran di sosial media. Dan ada juga kelas elit Istana, yang menyerang Islam melalui kebijakan, komentar, aturan regulasi yang mengkoptasi seakan mau menjadikan agama sebagai musuh negara.

Setelah narasi bom panci, bom termos, bom bawa ktp dan kk sudah basi dan tidak direspon publik lagi. Sepertinya, kubu pembenci Islam ini perlu berpikir keras bagaimana menciptakan strategi narasi baru agar tetap eksis dan dapat supplay logistik kehidupan memanfaatkan momentum. Apakah itu berupa uang, fasilitas dan jabatan.

Selanjutnya bagaimana dengan isu Khilafah ? Penulis sedari dulu sering menyuarakan agar terminologi Khilafah, radikal, terorisme, intoleransi, ini mesti di tuntaskan makna dan pengertiannya. Agar kita semua mempunyai pemahaman yang sama.

Tetapi penulis melihat, seolah ada semacam kekuatan besar yang memang sengaja terminologi kata di atas dibuat tetap mengambang dan berada di wilayah abu-abu tetapi secara kasat mata menyasar hanya kepada kelompok tertentu saja yaitu Islam.

Ketika yang melakukan tindak kekerasan bahkan kebiadaban itu bukan Islam, tak ada istilah radikal ini digunakan. Ketika pelarangan cadar, celana cingkrang digaungkan tidak ada bahasa intoleransi disebutkan. Padahal ini jelas sebuah bentuk arogansi supra intoleransi yang dilakukan terhadap ibadah ummat Islam. Karena cadar dan celana cingkrang adalah bahagian dari pelaksanaan ibadah yang dijamin konstitusi negeri ini (pasal 29 (ayat) 2 UUD 1945).

Begitu juga dengan konsep khilafah. Ketika konsep ini dianggap berbahaya bagi ideologi negara ? Bahagian mana yang berbahaya bagi negara ? Dan konstitusi atau aturan mana yang bertentangan dengan khilafah ? Dan kalau di larang, apa dasar hukumnya ? Seperti pelarangan komunis yang tegas dan jelas dalam TAP MPR nomor XXV dan UU no 27 tahun 1999.

Kalau ada ketakutan khilafah akan dijadikan ideologi negara, juga mesti di jelaskan siapa yang akan berani melakukan itu ? Partai politik apa ? Kekuatan militer mana ? Karena, hanya dua cara untuk merubah ideologi negara ini. Yaitu, pertama melalui jalur politik (menguasai lebih separo kursi parlemen) atau melalui kudeta militer (perang).

Nah sekarang mari kita bahas. Kalau lah HTI, FPI, atau kelompok 212 di tuduhkan akan mengganti ideologi negara melalui apa ? Kalau melalui politik jelas mereka bukan lah partai politik. Jangankan itu, partai politik Islam yang sudah masuk parlemen saja masih sangat jauh kalah suara dari partai nasionalis.

Selanjutnya melalui militer ? Ini sungguh tak mungkin. Mereka tidak punya tentara apalagi senjata yang bisa melawan TNI-Polri ? Artinya. Cukup sudah dan hentikan narasi-narasi halusinasi paranoid yang selalu di bangun untuk menyudutkan Islam. Stop segala upaya agenda membangun narasi ketakutan dan kebencian terhadap Islam alias program Islamphobia.

Nah kalau sudah berbicara tentang agenda Islamphobia, berarti ini sudah masuh kompetisi theologis antar agama dan kepentingan politik. Kalau ini sudah kompetisi atau pertarungan ideologi, berarti negara jangan ikut latah dong. Karena untuk menyikapi ini para funding father kita sudah menyiapkan solusinya yaitu melalui software Pancasila dan UUD 1945. Jangan di rusak lagi tatanan yang sudah ada dengan norma sesat orderan politik kekuasaan sesaat.

Bangsa ini butuh narasi baru, energi baru yang positif dan besar agar bisa keluar dari tepian jurang resesi parah yang semakin dekat menghampiri. Agama Islam bersama ummatnya adalah aset utama bangsa Indonesia untuk bangkit. Bukan malah mau di habisi. Ini jelas seperti infiltrasi paparan ideologi komunis di China. VOC, Portugis dan Jepang saja ketika menjajah nusantara ini tidak begitu lancang mengacak-ngacak kehidupan beragama rakyat ketika itu. Karena pasti akan melahirkan perlawanan rakyat. Dan para penjajah sadar akan itu. Lalu bagaimana dengan pemerintah kita hari ini ? Aneh kan ? Siapa sebenarnya yang jadi duri dalam daging dan musuh negara ?

Untuk itu, mari kita kembalikan kehidupan berbangsa dan bernegara ini sesuai dengan falsafah kehidupan bangsa kita yakni Pancasila dan UUD 1945.

Mari kita berpikir jernih dan objectif. Buang segala rasa kedengkian dan kebencian terhadap Islam. Terima Islam sebagai ummat mayoritas di negeri ini dengan lapang dada. Kalau konsep khilafah dilarang ? Apa dasar konstitusinya. Semua harus terbuka dan adil. Khilafah itu menurut pemahaman penulis, adalah sebuah konsep kepemimpinan kolektif ummat Islam sedunia yang satu Tuhan, satu kitab suci, satu Nabi, satu kiblat, satu nilai, dan satu payung panji perlindungan persaudaraan sesama ummat Islam. Sebagaimana pernah diterapkan para pendahulu ummat Islam yang menjadikan Islam berjaya sebagai sebuah kekuatan imperium besar selama hampir satu milenium (1000 tahun) lamanya. Sejak mulai dari zaman Nabi, Khalifah Urrasyidin, Abbasiyah, Ummayah, dan terakhir Utsmani Turkey. Apakah ini salah ?

Dan penulis melihat. Akan sangat berlebihan apabila ummat Islam itu sendiri ikut-ikutan anti konsepsi khilafah tanpa terlebih dahulu memahami esensi sebenarnya. Dan untuk itulah, penulis berharap pemerintah dalam hal ini membuka seluas-luasnya diskusi ini secara ilmiah dan objectif. Bukan malah meresponnya dengan bahasa kekerasan dan kekuasaan tanpa tahu akan substansi permasalahan

Kalau khilafah ini dilarang ? Mengapa kita juga tidak melarang konsep Vatikan yang juga menggunakan konsepsi keummatan katolik yang hampir serupa di Indonesia ? Kalau khilafah ini tidak boleh ? Kenapa konsepsi barat seperti kapitalisme, sekulerisme, dan liberalisme begitu tumbuh subur di Indonesia. Padahal sudah sangat jelas, sekulerisme (memisahkan kehidupan dengan agama) sangat bertentangan dengan Pancasila sila pertama KeTuhanan yang Maha Esa ? Karena negara ini berdasar nilai keTuhanan atau bahasa lain dari nilai agama (keTuhanan) ?

Jadi kalau jujur kita lihat. Ini semua hanyalah ketakutan yang di paksa-paksakan dengan isu khilafah. Yang mereka takutkan dan benci itu sebenarnya adalah kebangkitan Islam yang saat ini begitu luar biasa di dunia. Di eropah rata-rata 1000 – 2000 orang masuk Islam tiap hari. Di Inggris hukum waris Islam di jadikan dasar hukum kerajaan. Masjid-masjid pun semakin tumbuh subur di Rusia, Jerman, Belanda, Prancis, dan lainnya.

Begitu juga ketika ada berbagai narasi kebencian mengkaitkan Islam secara sempit dengan bangsa Arab dan budaya berpakaian lainnya.

Seperti contoh. Kalau lah fakta sejarah bangsa ini dijajah, ditindas, ratusan tahun oleh bangsa Eropah dan Jepang ? Kenapa yang selalu setiap saat dibenci adalah bangsa Arab ?

Kalaulah pakai rok mini, rambut merah, serta operasi plastik wajah adalah modis dan bahagian privasi kehidupan ? Kenapa ketika ummat Islam memakai cadar dan bercelana cingkrang dipermasalahkan ?

Ketika rakyat boleh kumpul dengan konsep hura-hura pada tahun baru plus sampah berserakan, kenapa ummat Islam berkumpul hari ini dalam memperingati maulud Nabi Muhammad SAW dan reuni di permasalahkan ?

Banyak lagi sebenarnya narasi dan fakta ketidak adilan yang terjadi di negeri ini khususnya terhadap ummat Islam. Jadi sangat wajar, bentuk perlakuan ketidak adilan yang kasat mata ini di respon secara gegap gempita oleh ummat melalui aksi 212 hari ini.

Aksi dan reuni 212 hari ini adalah bentuk sebuah perlawanan masyarakat kelas civil society Indonesia hari ini. Karena terbukti di lakukan secara tertib, aman, dan penuh kehangatan. Dan semua ini tentu hanya bisa di lakukan oleh kelas (strata) masyarakat berperadaban tinggi. Dimana itulah sejatinya out put wajah Islam yang damai itu sebenarnya.

Dan semoga momentum ini terus berlanjut, sebagai sebuah spirit kebangkitan ummat Islam di dunia yang bermula dari Indonesia.

Sebagai bangsa Indonesia, tentu juga hal ini adalah sebuah nilai positif dan baik bagi kestabilan dan harmonisasi kehidupan bangsa kita. Dengan catatan, selagi dimaknai dan tidak keluar dari konsensus dasar berdirinya negara Indonesia yakni Pancasila, UUD 1945, Bhineka Tunggal Ika, dan NKRI harga mati. InsyaAllah.

Yogyakarta, 2 Desember 2019.

(Penulis adalah alumni PPRA 58 Lemhannas RI Tahun 2018).

8,904 kali dilihat, 340 kali dilihat hari ini

Lanjutkan Membaca

Batam

Otak Atik Politik Kepri

Diterbitkan

pada

Oleh

Oleh Cak Ta’in Komari, SS.
Kontributor Wajah Batam.id

WAJAHBATAM.ID – 29 /7/2019  | Kita baru saja selesai dalam eforia pertarungan pilpres, bahkan perseteruan antara pendukung masing-masing kontestan masih berasa. Cebong dan Kampret masih saling ejek di media massa. Tapi kita sudah mulai terbawa dalam eforia baru Pilgub Kepri 2020. Meskipun baru muncul bakal calon (balon) kontestan suasana panas mulai berasa. Masyarakat bawah ‘akar rumput’ mungkin gak terlalu banyak perduli, di mana sebagian besar berada dalam bayang-bayang kehidupan yang semakin berat dan susah dengan isu tarif listrik, BBM, iuran BPJS, transportasi, objek pajak PPh yang diperluas, yang akan naik dalam setahun ke depan. Tarif materei pos justru sudah naik duluan dari Rp. 3.000 dan Rp. 6.000 menjadi Rp. 10.000.

Siapa yang antusias terhadap eforia pilgub atau pilwako? Ya kita-kita, wartawan, LSM dan petualang spekulan politik yang menguntungkan mereka. Menjadi Timses, sukses atau tidak sukses sang calon diusung tentu sudah sukses duluan. Ya minimal numpang hidup selama masa sosialisasi sampai hari pemungutan. Kalau sukses mengantarkan sang calon menjadi pemimpin daerah maka suksesnya timses semakin panjang, bisa sepanjang masa jabatan 5 tahun-lah.

Otak-atik politik Kepri pasca Gubernur Nurdin Basirun di-OTT KPK terlepas dari instrik apapun di belakangnya, maka kekuatan politik itu hanya mengerucut hanya pada beberapa tokoh saja. Kontestasi bisa 3-4 pasang atau lebih, tapi pertarungan sesungguhnya hanya ada pada dua poros utama. Yakni poros BP Batam melalui Ismeth Abdullah dan poros Duta Mas dengan Soerya Respationo. Kemungkinan kekuatan yang bisa muncul yakni poros baru yakni Muhammad Rudi (Walikota Batam), tapi sepertinya dia harus berpikir 3 kali kalau harus bertarung melawan Soerya dan Ismeth. Satu nama lagi yang harus diperhitungkan yakni Plt. Gubernur Kepri Isdianto yang tentu ingin memperpanjang masa jabatannya satu-dua periode berikutnya lagi secara penuh.

Nama lain yang juga berpotensi menjadi cagub, ada Apri Sujadi – Bupati Bintan, Elias Wello Bupati Lingga, Ainur Rofiq – Bupati Karimun, dan Rudi – Walikota Batam. Tapi mereka jauh lebih aman peluangnya kalau bertahan untuk memperjang masa jabatannya di daerah masing-masing untuk periode keduanya. Mereka rata-rata masih satu periode kepemimpinan. Bagaimanapun juga, berapapun pasangan kontestasi, hanya 1 pasang yang akan dilantik menjadi Gubernur Kepri.

Pertaruhan yang sangat mungkin tidak diikuti Ketua Golkar Kepri – Ansar Ahmad yang baru memenangkan kursi DPR RI dari Kepri. Begitu juga dengan Asman Abnur – PAN. Pengalaman yang dialami Ria Saptarika meninggalkan kursi DPD RI untuk pertarungan pilwako Batam pada 2015 bisa menjadi pelajaran berharga bagi mereka yang sudah mapan. Ansar atau Asman juga rasanya gak mungkin mau jadi calon nomor dua dalam kontestasi tersebut.

Jadi pertarungan pilgub 2020 ada kemungkinan hanya Soerya dan Ismeth yang saling berhadapan dan mempunyai kekuatan berimbang. Keduanya memiliki basis massa yang suidah banyak dibantu dan menikmati keberadaan kedua tokoh tersebut. Secara politis posisi Soerya lebih aman karena kader utama partai PDIP yang secara otomatis bisa ngusung pasangan sendiri. Sementara Ismeth masih harus mencari kendaraan politik – yang paling realistis pakai Gerindra dan PKS – atau dia pakai jalur independen.

Posisi Soerya bisa menjadi sangat kuat kalau berpasangan dengan Isdianto sebagai in-cumbent – di mana figure sang kakak Muhammad Sani tentu masih mempunyai nilai tersendiri di mata masyarakat, terutama Tanjungbatu, karimun dan Tanjungpinang. Persoalannya siapa yang akan menjadi cagub dan cawagubnya saja. Posisi isdianto yang sudah menjabat gubernur, plt yang bakal definitif tentu gak elok kalau menjadi nomor 2, sementara posisi Soerya yang pernah menjabat Wakil Gubernur dan menjcalon gubernur juga kurang elok kalau menjadi nomor 2. Anggaplah salah satu di antara mereka berkenan menjadi nomor 2. Posisi mereka juga belum 100 persen aman.

Peta politik masih akan tergantung dari calon lainnya, terutama Ismeth Abdullah dalam menentukan calon wakilnya, juga persoalan timses, dan pendanaannya. Calon gubernur sebagus apapun, ketika salah memilih calon wakilnya yang tidak memiliki nilai menjual, ditambah lagi timses yang tidak bisa berkomunikasi dengan baik bahkan tidak disukai public – juga akan menjadi persoalan tersendiri.

Siapapun calonnya tidak bisa menggunakan pola-pola lama dalam berpolitik, meski harus ada perubahan strategi yang baru. Mereka perlu melakukan refresh tim konsultan bahkan timses. Cilaka kalau calon dikelilingi timses yang ABS (asal bapak senang) – laporannya bagus-bagus semua dan aman sehingga menimbulkan sikap terlalu percaya diri akan menang, hingga pada hari penentuan terpelantik jatuh karena hasilnya berbeda dari yang digambarkan sebelumnya. Situasi dan kondisi psikologis masyarakat selama beberapa tahun ini tentu sangat berubah dan berbeda. Begitu juga kondisi kedua calon dulu dan saat ini.

Masing-masing calon pemimpin pasti memiliki keunggulan dan kelemahan yang perlu dianalisa secara komprehensif. Sisi keunggulan harus mampu dimanfaatkan secara maksimal, sementara sisi kekurangan harus mampu diminimalisir. Di sinilah diperlukan konsultan atau timses yang benar-benar memiliki daya analis secara tajam. Sikap suka atau tidak suka public terhadap figure calon saja sudah sangat menentukan, apalagi bicara soal program kerja dan pembangunan yang ditawarkan ketika akan memimpin nanti.

Ada paradigma yang kemudian menjadi salah kaprah dengan berpikir konsultan perlu yang bonafit berasal dari Jakarta atau perguruan tinggi ternama – tapi tidak memahami kultur dan demografi masyarakat lokal sehingga meskipun menggunakan konsultan mahal dan bonafit tetap saja gagal politik-nya. Akademisi dan aktivis local tentu ada beberapa yang memiliki daya analis yang tajam yang tidak kalah dengan yang mahal-mahal dari pusat. Bahkan mereka bisa secara simultan berhubungan langsung dengan objek yang diperlukan secara terus-menerus.

Jadi siapapun yang mencalonkan diri untuk menjadi Gubernur Kepri pada pemilukada tahun 2020 nanti perlu memperhatikan beberapa hal, yakni; calon pasangan wakil gubernur, timses, dan konsultan jika diperlukan. Masukan dari orang-orang independen yang berani mengatakan kekurangan dan kelebihan mutlak diperlukan, agar tidak salah melangkah dan mengambil keputusan. Tidak gampang menentukan sikap politik dalam kondisi dan situasi masyarakat yang terus berubah. Calon juga gak perlu terlalu gengsi untuk menghubungi bahkan mendatangi orang-orang tertentu yang secara politis akan membantu kemenangan. Cilaka duabelas kalau ada Timses yang mengklip (menutup akses) figur calon dari public bahwa semua urusan terkait pemilukada menjadi urusan timses dan harus melalui timses. Ingat, tidak semua orang perlu dengan calon, tapi yang pasti calon memerlukan dukungan banyak kalangan, banyak elemen bahkan personal yang memiliki pengaruh terhadap sikap public.

(Tain.K)

24,146 kali dilihat, 42 kali dilihat hari ini

Lanjutkan Membaca

Batam

Mangrove Pelindung Umat Manusia

Diterbitkan

pada

Oleh

WAJAHBATAM.ID – 5/7/2019 | Penimbunan Marka anak sungai pahat Bulang Lintang Kecamatan Pulau Buluh mendapat tanggapan dari Ketua KPLHI Kota Batam Azhari Hamid dan mengingatkan bahayanya tindakan yang dilakukan oleh anak-anak Perusahaan PT. ITS yang telah melakukan penimbunan Marka anak sungai di Bulang Lintang Pulau Buluh. Tulisan ini merupakan edukasional atas bahayanya jika hutan mangrove musnah oleh tangan jahil manusia

Oleh: Azhari Hamid (Ketua KPLHI Batam)

Mencermati dugaan terjadinya reklamasi yang diduga dilakukan oleh PT. ITS atau anak perusahaannya terhadap habitat mangrove di areal Pulau Buluh tepatnya yang berdampak signifikan di sungai Pahat, Kota Batam KPLHI Kepri dan Kota Batam sangat menyayangkan hal tersebut. Karena ini menyangkut penjarahan hak hidup makhluk hidup dalam lingkungannya.

PT. ITS Diduga Lakukan Reklamasi Ilegal Yang Mengancam Mata Pencarian Masyarakat Kecamatan Bulang Lintang

Mangrove merupakan ekosistem yang spesifik karena pada umumnya hanya dijumpai pada pantai yang berombak relatif kecil atau bahkan terlindung dari ombak, di sepanjang delta dan estuarin yang dipengaruhi oleh masukan air dan lumpur dari daratan. Secara ringkas dapat didefinisikan bahwa hutan mangrove adalah tipe hutan yang tumbuh di daerah pasang surut (terutama pada pantai yang terlindung, laguna, muara sungai) yang tergenang saat pasang dan bebas genangan pada saat surut yang komunitas tumbuhannya bertoleransi terhadap garam.

Sedangkan ekosistem mangrove merupakan suatu sistem yang terdiri atas organisme (hewan dan tumbuhan) yang berinteraksi dengan faktor lingkungannya di dalam suatu habitat mangrove. Secara umum hutan mangrove memiliki karakteristik sebagai berikut :

1. Tidak dipengaruhi oleh iklim, tetapi dipengaruhi oleh pasang surut air laut (tergenang air laut pada saat pasang dan bebas genangan air laut pada saat surut).

2. Tumbuh membentuk jalur sepanjang garis pantai atau sungai dengan substrat anaerob berupa lempung (firm clay soil), gambut (peat), berpasir (sandy soil) dan tanah koral.

3. Struktur tajuk tegakan hanya memiliki satu lapisan tajuk (berstratum tunggal). Komposisi jenis dapat homogen (hanya satu jenis) atau heterogen (lebih dari satu jenis). Jenis-jenis kayu yang terdapat pada areal yang masih berhutan dapat berbeda antara satu tempat dengan lainnya, tergantung pada kondisi tanahnya, intensitas genangan pasang surut air laut dan tingkat salinitas.

4. Penyebaran jenis membentuk zonasi. Zona paling luar berhadapan langsung dengan laut pada umumnya ditumbuhi oleh jenis-jenis Avicennia sp. dan Sonneratia sp. (tumbuh pada lumpur yang dalam, kaya bahan organik). Zona pertengahan antara laut dan daratan pada umumnya didominasi oleh jenis-jenis Rhizophora sp. Sedangkan zona terluar dekat dengan daratan pada umumnya didominasi oleh jenis-jenis Brugiera sp.

Fungsi mangrove secara umum dapat diuraikan sebagai berikut :
1. Fungsi Fisik
– Menjaga garis pantai dan tebing sungai dari erosi/abrasi agar tetap stabil;
– Mempercepat perluasan lahan;
– Mengendalikan intrusi air laut;
– Melindungi daerah di belakang mangrove dari hempasan gelombang dan angin kencang;
– Menguraikan/ mengolah limbah organik.

2. Fungsi Biologis/ Ekologis
– Tempat mencari makan (feeding ground), tempat memijah (spawning ground) dan tempat berkembang biak (nursery ground) berbagai jenis ikan, udang, kerang dan biota laut lainnya;
– Tempat bersarang berbagai satwa liar, terutama burung;
– Sumber plasma nutfah.

3. Fungsi Ekonomis
– Hasil hutan berupa kayu;
– Hasil hutan bukan kayu, seperti madu, bahan obat-obatan, minuman, makanan, tanin;
– Lahan untuk kegiatan produksi pangan dan tujuan lain.

https://www.wajahbatam.id/batam/wb-01072019/belasan-tokoh-dan-rt-rw-bulang-lintang-minta-berita-tentang-pt-itr-dihapus/

Dari uraian diatas kiranya kita perlu memahami dengan bijaksana bahwa begitu besar kasih sayang Allah SWT dengan memberikan mangrove pada lokasi pantai – pantai kita dengan segala manfaat dan fungsi proteksi terhadap bencana yang mungkin timbul dari laut ataupun darat.

Sangat tidak berperikemanusiaan jika mangrove dijadikan komoditas oleh pihak – pihak tertentu dalam skala besar tanpa adanya studi kelayakan dan perizinan lainnya. Aparat pemerintah jikalau memberikan izin pemanfaatn mangrove untuk kegiatan lain, sebaiknya mempelajari benar dampak negatif dan posutif nya. Tidak hanya sebatas meminta hutan pengganti yang selama ini kami ketahui jika ada industri yang akan menimbun area mangrove yang masuk dalam areal kegiatannya.

Dunia sudah menilai mangrove sebagai salah satu bagian dari konservasi terhadap lingkungan dalam proteksi terhadap berbagai bencana terutama Tsunami. Mungkin kita berbendapat bahwa wilayah Kepri tidak ada potensi tsunami, tetapi kita perlu juga memikirkan bahwa wilayah Kepri adalah areal terbuka dalam lintasan transportasi laut, disini mangrove akan berfungsi dalam penyerapan bahan – bahan beracun yang dibuang atau terlepas kelaut. Mari kita bela dan kita jaga MANGROVE kita, karena MANGROVE pasti akan menjaga kita dari bencana.

*) Ketua KPLHI Kota Batam

24,885 kali dilihat, 42 kali dilihat hari ini

Lanjutkan Membaca

Trending